Konten dari Pengguna

Satu Bibit Mangrove, Harapan untuk Pesisir Gebang Mekar

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Salsabiil Firdaus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar: Penanaman Bibit Mangrove (Sumber: Dokumentasi Penulis)
zoom-in-whitePerbesar
Gambar: Penanaman Bibit Mangrove (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Pagi baru saja dimulai ketika aktivitas di kawasan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) Desa Gebang Mekar, Kabupaten Cirebon, mulai terasa lebih ramai dari biasanya. Hari Jumat (14/8/2026) kemarin, warga, nelayan, pemerintah desa, mahasiswa, hingga sejumlah pihak yang terlibat dalam kegiatan lingkungan berkumpul untuk satu tujuan: membersihkan kawasan pesisir sekaligus menanam mangrove.

Kegiatan bertajuk “Laut Sebasah dan Gerakan Tanam Mangrove” itu menjadi bagian dari upaya menjaga kawasan pesisir agar tidak hanya menjadi ruang bagi masyarakat untuk mencari penghidupan, tetapi juga tetap memiliki ekosistem yang sehat.

Sejak pukul 07.00 WIB, peserta mulai melakukan kegiatan bersih-bersih di sekitar kawasan pesisir Desa Gebang Mekar. Sampah yang selama ini menjadi salah satu persoalan lingkungan pesisir dikumpulkan dan dipisahkan dari area yang akan digunakan untuk penanaman mangrove.

Di tengah aktivitas tersebut, perhatian kemudian beralih pada bibit-bibit mangrove yang akan ditanam. Satu per satu bibit dibawa menuju lokasi penanaman. Tanah pesisir yang sebelumnya menjadi bagian dari bentang alam desa itu kembali diberi ruang untuk ditumbuhi tanaman yang memiliki peran penting bagi kehidupan kawasan pantai.

Mangrove bukan sekadar tanaman yang tumbuh di antara daratan dan laut. Bagi masyarakat pesisir, keberadaannya berkaitan erat dengan keberlangsungan lingkungan tempat mereka hidup dan bekerja.

Akar mangrove membantu menahan sedimen dan mengurangi dampak abrasi. Kawasan mangrove juga menjadi tempat hidup berbagai jenis biota yang mendukung rantai ekosistem pesisir. Dalam jangka panjang, lingkungan pesisir yang terjaga dapat ikut menopang kehidupan masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari laut.

Karena itu, menanam mangrove tidak berhenti pada aktivitas menancapkan bibit ke tanah. Ada harapan yang ikut ditanam bersama setiap bibitnya.

Hal tersebut sejalan dengan tema kegiatan, “Satu Bibit, Satu Juta Manfaat, Pesisir Bersih, Nelayan Sejahtera, Indonesia Maju.”

Tema itu menggambarkan bahwa persoalan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat pesisir tidak dapat dipisahkan. Pesisir yang bersih dan ekosistem yang terjaga menjadi salah satu modal penting bagi masyarakat, terutama nelayan, untuk mempertahankan kehidupan mereka.

Kegiatan ini juga memperlihatkan bahwa menjaga lingkungan bukan pekerjaan satu pihak saja. DKPP Kabupaten Cirebon, Koperasi Desa Nelayan Merah Putih, Kampung Nelayan Merah Putih, Pemerintah Desa Gebang Mekar, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, dan UIN Siber Syeikh Nurjati Cirebon turut mengambil bagian dalam kegiatan tersebut.

Keterlibatan berbagai unsur menjadi penting karena persoalan pesisir tidak selesai hanya dengan satu kali kegiatan bersih-bersih atau penanaman. Setelah bibit ditanam, tantangan berikutnya adalah bagaimana memastikan tanaman tersebut dapat tumbuh dan kawasan yang sudah dibersihkan tetap terjaga.

Di sisi lain, kegiatan semacam ini dapat menjadi ruang pertemuan antara masyarakat, pemerintah, perguruan tinggi, dan kelompok nelayan. Pengetahuan tentang lingkungan yang datang dari berbagai pihak dapat bertemu dengan pengalaman masyarakat yang sehari-hari berhadapan langsung dengan kondisi pesisir.

Bagi masyarakat Desa Gebang Mekar, laut bukan sekadar bentang alam yang berada di depan mata. Laut menjadi bagian dari kehidupan. Dari laut, banyak keluarga menggantungkan penghasilan dan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Maka ketika pesisir mulai dipenuhi sampah atau ekosistemnya mengalami kerusakan, persoalannya tidak hanya menyangkut lingkungan. Dampaknya dapat merambat pada kehidupan ekonomi masyarakat.

Di sinilah gerakan menanam mangrove memiliki arti yang lebih luas.

Sebuah bibit yang hari ini masih kecil membutuhkan waktu untuk tumbuh. Namun, ketika dirawat dan berkembang menjadi kawasan mangrove, manfaatnya dapat dirasakan jauh lebih panjang. Akar yang semakin kuat, kawasan yang semakin hijau, serta ekosistem yang kembali hidup menjadi bagian dari investasi lingkungan untuk masa depan.

Apa yang dilakukan di Gebang Mekar pada Jumat pagi itu pada akhirnya bukan hanya tentang membersihkan sampah atau menanam sejumlah bibit.

Ada pesan yang lebih sederhana sekaligus penting: menjaga laut bisa dimulai dari lingkungan terdekat.

Satu tangan memungut sampah. Tangan lainnya menanam bibit. Dari gerakan kecil tersebut, masyarakat pesisir menaruh harapan agar laut tetap menjadi sumber kehidupan dan kawasan tempat mereka tinggal tetap menjadi ruang yang layak bagi generasi berikutnya.

Sebab, satu bibit mungkin terlihat kecil hari ini. Tetapi jika dirawat bersama, manfaatnya bisa tumbuh jauh lebih besar daripada ukurannya.