Mengapa Tiba-Tiba Ingin Merapikan Kamar Saat Tugas Menumpuk?

Mahasiswi Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Salsabila Nur Aufaa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Laptop sudah terbuka sejak satu jam lalu. Judul tugas sudah diketik rapi di bagian atas dokumen. Namun setelah itu, tidak ada lagi yang bergerak selain kursor yang berkedip pelan di layar.
Anehnya, di tengah deadline yang semakin dekat, tiba-tiba muncul dorongan untuk melakukan hal lain. Meja terasa terlalu berantakan. Tumpukan baju harus segera dilipat. Rak buku mendadak terlihat tidak simetris. Bahkan kipas angin yang selama ini diabaikan tiba-tiba tampak sangat kotor dan “harus" dibersihkan saat itu juga. Pada akhirnya, tugas belum selesai tetapi kamar sudah bersih seperti baru pindahan.
Fenomena ini mungkin terdengar lucu dan sangat relatable, terutama bagi mahasiswa atau pekerja yang sering dikejar tenggat waktu. Banyak orang menganggapnya sebagai rasa malas biasa. Padahal, dalam psikologi, perilaku ini memiliki penjelasan yang cukup menarik dan dikenal sebagai productive procrastination. Menurut Thomas R. Zentall dalam jurnal Frontiers in Psychology (2021), prokrastinasi bukan sekadar kebiasaan menunda pekerjaan, tetapi juga berkaitan dengan proses behavioral dan cara manusia merespons tekanan atau reward jangka pendek.
Sibuk, tetapi Bukan Prioritas Utama
Secara sederhana, productive procrastination adalah kondisi ketika seseorang menunda pekerjaan utama dengan melakukan aktivitas lain yang tetap terasa produktif. Berbeda dari prokrastinasi biasa yang identik dengan rebahan atau scrolling media sosial, seseorang yang mengalami productive procrastination tetap terlihat aktif dan sibuk. Mereka membersihkan kamar, menyusun jadwal belajar baru, merapikan file laptop, membalas email, atau membuat catatan yang terlalu estetik.
Semua tampak berguna hanya saja bukan hal yang benar-benar perlu diselesaikan saat itu. Peneliti Jin Nam Choi dan Angela Hsin Chun Chu (2005) dalam The Journal of Social Psychology membedakan dua tipe prokrastinator: pasif (yang menunda karena tidak mampu bertindak tepat waktu) dan aktif (yang menunda secara sadar karena merasa lebih produktif di bawah tekanan). Productive procrastination lebih dekat ke tipe kedua: tetap aktif, hanya saja prioritasnya bergeser ke aktivitas yang terasa lebih aman.
“Yang dihindari sebenarnya bukan tugasnya melainkan rasa tidak nyaman yang muncul ketika harus mengerjakannya.”
Psikolog Fuschia Sirois menjelaskan bahwa prokrastinasi sering kali muncul bukan karena seseorang malas, melainkan karena individu berusaha menghindari emosi negatif yang muncul saat menghadapi tugas tertentu seperti cemas, takut gagal, atau kewalahan (Sirois & Kitner, 2015). Tanpa sadar, otak sedang mencari jalan keluar dari tekanan tugas utama.
Ketika Otak Memilih “Pelarian” yang Aman
Tugas besar sering kali terasa mengintimidasi. Apalagi jika tugas tersebut membingungkan, terlalu sulit, atau memiliki ekspektasi tinggi. Allan Blunt dan Timothy Pychyl (2000) dalam Personality and Individual Differences menemukan bahwa tugas yang terasa membosankan, memunculkan frustrasi, atau menimbulkan kebencian secara konsisten mendorong prokrastinasi di setiap tahap pengerjaan. Pychyl dan Blunt menguji 161 mahasiswa dan menemukan bahwa persepsi negatif terhadap karakteristik suatu tugas adalah prediktor terkuat dari perilaku menunda.
Itulah mengapa otak mulai mencari aktivitas alternatif yang terasa lebih aman secara emosional. Merapikan kamar terasa jauh lebih sederhana dibanding memulai laporan 15 halaman yang bahkan belum menemukan judul. Aktivitas seperti menyapu atau membersihkan meja juga memberikan hasil yang langsung terlihat yang memunculkan rasa lega, puas, dan perasaan bahwa dirinya tetap “produktif”. Sementara tugas utama membutuhkan waktu panjang sebelum hasilnya benar-benar terasa.
Mengapa Perilaku Ini Terus Diulang?
Fenomena ini bisa dijelaskan melalui perspektif behaviorisme, khususnya teori operant conditioning dari B.F. Skinner. Dalam teori tersebut, perilaku yang memberikan rasa nyaman atau mengurangi ketidaknyamanan cenderung akan diulang. Ketika seseorang merasa lebih tenang setelah membersihkan kamar dibanding mengerjakan tugas yang membuat stres, otak menganggap aktivitas tersebut sebagai reward. Secara tidak sadar, otak belajar bahwa: “Kalau stres karena deadline, lakukan hal lain yang terasa lebih ringan.”
Penelitian Piers Steel dalam meta-analisis besarnya The Nature of Procrastination (2007) yang mencakup ratusan studi menjelaskan bahwa manusia cenderung memilih immediate reward atau kepuasan instan dibanding hasil besar yang membutuhkan waktu lebih lama, suatu fenomena yang disebut delay discounting. Steel juga mencatat bahwa prokrastinasi behavioral paling kuat dikaitkan dengan komponen kebosanan, frustrasi, dan kebencian terhadap tugas: semakin aversif suatu tugas dibuat, semakin besar kemungkinan seseorang menghindarinya.
Membersihkan kamar memberikan kepuasan dalam hitungan menit. Menyelesaikan tugas membutuhkan energi mental yang jauh lebih besar sebelum hasilnya benar-benar terasa. Rasa lega setelah “kabur” sementara dari tugas juga menjadi bentuk negative reinforcement karena kecemasan berkurang setelah melakukan aktivitas pengalih, otak akhirnya mengulang pola yang sama setiap kali tekanan akademik muncul.
Tidak Selalu Buruk, tapi Harus Ada Batasnya
Choi dan Moran (2009) dalam The Journal of Social Psychology memberi perspektif yang lebih bernuansa. Mereka menemukan bahwa sebagian orang yang menunda secara aktif justru menunjukkan kepuasan hasil yang lebih tinggi, kemampuan memenuhi deadline, dan bahkan performa yang baik. Prokrastinator aktif memiliki empat ciri khas: preferensi terhadap tekanan waktu, keputusan sadar untuk menunda, kemampuan tetap memenuhi batas waktu, dan kepuasan terhadap hasil akhir.
Artinya, tidak semua penundaan bersifat merusak. Sesekali melakukan productive procrastination mungkin tidak berbahaya. Dalam beberapa situasi, aktivitas kecil seperti merapikan ruangan bahkan bisa membantu menenangkan pikiran sebelum kembali fokus bekerja. Namun jika dilakukan terus-menerus, kebiasaan ini dapat membuat deadline semakin menumpuk dan stres menjadi lebih besar. Perbedaannya ada pada kontrol: apakah kamu yang memutuskan untuk rehat sejenak atau otak yang “memaksa” kabur tanpa kendali?
Jadi, Apakah Ini Berarti Kita Malas?
Belum tentu.
Dalam banyak kasus, productive procrastination justru menunjukkan bahwa seseorang sebenarnya tetap ingin merasa produktif. Mereka masih ingin melakukan sesuatu yang berguna hanya saja otaknya belum siap menghadapi tugas utama yang terasa terlalu berat secara emosional. Itulah mengapa seseorang bisa sibuk sepanjang hari, tetapi tetap merasa tidak benar-benar maju.
Pada akhirnya, bagian tersulit dari sebuah pekerjaan sering kali bukan mengerjakannya melainkan memulai. Jadi, jika suatu hari kamu tiba-tiba ingin membersihkan seluruh kamar padahal tugas masih terbengkalai, mungkin itu bukan semata-mata rasa malas. Bisa jadi, otak sedang berusaha mencari rasa aman dari tekanan yang terasa terlalu besar dan yang perlu dilakukan bukan menghakimi diri sendiri, melainkan perlahan membujuk diri untuk mulai, meski hanya selangkah kecil.
------
Dibuat oleh: Salsabila Nur Aufaa¹, Dr. Rachmat Mulyono M.Si., Psikolog.²
