Konten dari Pengguna

Stok Beras Melimpah, Kenapa Harga Beras Tetap Naik?

SALSABILA HAURA ZHAFIRA

SALSABILA HAURA ZHAFIRA

Mahasiswa Akuntansi Sektor Publik PKN STAN

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari SALSABILA HAURA ZHAFIRA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Stok beras nasional tercatat tertinggi sepanjang sejarah, tapi harga beras di pasar justru merangkak naik di puncak musim kemarau.

Stok Beras Melimpah, Kenapa Harga Beras Tetap Naik?
zoom-in-whitePerbesar

Harga beras kembali jadi sorotan publik pada akhir Agustus 2026, setelah dua kabar yang tampak saling bertolak belakang muncul hampir bersamaan. Kabar pertama datang dari Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) yang juga Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog tercatat 5,17 juta ton per 21 Agustus 2026, disebut sebagai stok tertinggi sepanjang sejarah Republik.

Kabar kedua datang dari pasar tradisional, pada 26 Agustus 2026, harga beras termurah di pasar-pasar Jakarta tercatat Rp15.050 per kilogram, lebih mahal dari Harga Eceran Tertinggi (HET) beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang seharusnya berkisar Rp12.500 hingga Rp13.500 per kilogram tergantung zona distribusi.

Dua kabar itu, jika dibaca berdampingan, mengungkap sebuah pertanyaan sederhana namun penting: jika gudang penuh, mengapa harga beras di pasar tetap naik?

Pertumbuhan yang Terlihat Sehat

Pertanyaan ini pantas diajukan justru di tengah data makroekonomi yang secara umum menggembirakan. Badan Pusat Statistik mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen (yoy) pada triwulan II 2026, melampaui median proyeksi ekonom dalam jajak pendapat Reuters yang berada di kisaran 5,1 persen. Inflasi tahunan pada Juli 2026 melandai ke 2,88 persen, turun dari 3,34 persen pada Juni. Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur kembali memasuki zona ekspansi di angka 50,2, dan cadangan devisa berada di atas 145 miliar dolar AS. Bank Indonesia, dalam Rapat Dewan Gubernur 18–19 Agustus 2026, memilih mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen sembari mengangkat tema penguatan UMKM sebagai fokus kebijakan.

Namun sejumlah lembaga riset independen mencatat nuansa yang lebih hati-hati di balik angka pertumbuhan tersebut. Lonjakan belanja pemerintah turut menopang pertumbuhan triwulan II, sementara defisit APBN meski secara kumulatif masih tergolong rendah di 0,76 persen terhadap PDB hingga semester pertama justru melebar dari bulan ke bulan. Ini bukan alasan untuk khawatir berlebihan, tetapi cukup menjadi pengingat bahwa fondasi pertumbuhan perlu terus diperkuat dari sisi konsumsi rumah tangga yang menjadi motor utama perekonomian nasional selama ini.

Kenapa Harga Beras Tetap Naik di Tengah Stok Melimpah

Yang membuat kenaikan harga beras di akhir Agustus ini layak dicermati lebih jauh adalah bahwa fenomena tersebut sesungguhnya sudah diperingatkan jauh hari. Sejak 10 Juni 2026, BMKG telah menyampaikan siaran pers resmi yang memperkirakan puncak musim kemarau nasional berlangsung Juli hingga September 2026, dengan Agustus sebagai bulan dengan cakupan wilayah terdampak paling luas, mencapai 369 Zona Musim atau sekitar 48,84 persen daratan Indonesia, meliputi sebagian besar Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan sebagian besar Kalimantan. BMKG turut memproyeksikan fenomena El Nino akan bertahan hingga awal 2027, dengan peluang mencapai intensitas moderat sebesar 98 persen dan intensitas kuat 62 persen.

BMKG bahkan tidak berhenti pada prediksi. Lembaga ini merekomendasikan sektor pangan untuk menyesuaikan jadwal tanam dan beralih ke varietas yang lebih tahan kekeringan dengan siklus tanam lebih pendek, sementara pemerintah menyiapkan 57 ribu unit pompa untuk mengantisipasi kekurangan air di sentra produksi. Artinya, mitigasi bukan sesuatu yang datang terlambat, persoalannya lebih pada sejauh mana rekomendasi teknis semacam ini benar-benar terimplementasi hingga ke tingkat petani dan penggilingan padi di daerah.

Belajar dari Pengalaman

Dibandingkan periode El Nino sebelumnya, kesiapan pemerintah kali ini patut diakui jauh lebih baik. Amran sendiri menegaskan bahwa pada El Nino 2023–2024, persiapan yang kurang matang membuat pemerintah harus mengimpor hingga 7 juta ton beras. Kali ini, stok CBP sebesar 5,17 juta ton tercatat naik 291 persen dibandingkan Agustus 2023 yang hanya 1,32 juta ton. Realisasi distribusi CBP hingga 24 Agustus 2026 pun mencapai 1,69 juta ton, naik 161 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya, sementara penyaluran beras SPHP telah mencapai 610,3 ribu ton atau 73,71 persen dari target 828 ribu ton hingga awal Agustus.

Bukti-bukti ini menunjukkan bahwa pembelajaran dari krisis pangan sebelumnya tidak sia-sia. Tetapi justru di titik inilah letak ironi yang perlu digarisbawahi: jika stok benar-benar melimpah dan distribusi berjalan sesuai target, mengapa harga di tingkat konsumen tetap merangkak naik melewati HET pada bulan dengan cakupan kemarau terluas sepanjang tahun? Ada kemungkinan jeda antara volume stok nasional dan efektivitas intervensi harga di titik-titik pasar tertentu. Sebuah persoalan distribusi mikro yang tidak serta-merta terjawab oleh angka stok makro yang besar.

Siapa yang Menanggung Selisih Harga

Persoalan ini bukan sekadar statistik. Kenaikan harga beras dengan bobot besar dalam pengeluaran rumah tangga berpendapatan rendah akan lebih dulu dan lebih dalam dirasakan oleh kelompok miskin dan rentan miskin, jauh sebelum kelompok menengah atas menyadarinya. Berbagai upaya pemerataan yang telah berjalan, mulai dari penyaluran Kredit Usaha Rakyat yang mencapai Rp198,9 triliun dari plafon Rp290,59 triliun per akhir Juli 2026, hingga penguatan koperasi desa dan kelurahan, bisa kehilangan sebagian dampaknya jika belanja pangan harian rumah tangga miskin justru membengkak akibat selisih harga yang tidak kunjung tertutup oleh intervensi pasar.

Menjaga Optimisme yang Berimbang

Tulisan ini tidak dimaksudkan meragukan kerja keras yang telah dilakukan berbagai kementerian dan lembaga sepanjang tahun ini dalam menjaga inflasi dan memperkuat cadangan pangan nasional. Sebagai rakyat, kita perlu memastikan bahwa stok yang tercatat di gudang benar-benar sampai secara efektif ke rak-rak pasar dengan harga yang terjangkau, terutama pada bulan-bulan puncak kemarau yang risikonya sudah diperingatkan sejak jauh hari.

Pertumbuhan 5,29 persen dan stok beras 5,17 juta ton adalah dua modal yang baik. Namun modal itu baru bermakna penuh apabila keduanya benar-benar bertemu di titik yang paling menentukan: meja makan rumah tangga yang paling rentan terhadap gejolak musiman.