Dari Keluarga untuk Desa: Tim KKN-T IPB Gaungkan Pemberdayaan Keluarga

Salsabila adalah mahasiswa dari program studi Ilmu Keluarga dan Konsumen Institut Pertanian Bogor.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Salsabila Ramadhani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di tengah tantangan ekonomi yang semakin kompleks, membangun desa tidak cukup hanya dengan membangun infrastruktur. Perubahan berkelanjutan harus dimulai dari pondasi terkecil dalam masyarakat — yaitu keluarga. Berangkat dari pemahaman inilah, mahasiswa KKN-T Inovasi IPB menginisiasi dua program unggulan di Desa Pasir Eurih, Kecamatan Tamansari: FAMTASIA (Merekam cerita, membangun rumah, menata desa dari keluarga) dan TOT Literasi Keuangan (Training of Trainers).

Kedua program ini dirancang untuk memperkuat literasi keuangan sekaligus ketahanan keluarga. Melalui sesi interaktif, warga diajak memahami pentingnya perencanaan keuangan rumah tangga: membuat anggaran, menabung, mengelola pendapatan, hingga memanfaatkan peluang usaha kecil. Tidak hanya sekadar teori, peserta juga mempraktekkan langsung cara membuat catatan keuangan sederhana yang bisa diterapkan sehari-hari.
“Kalau keluarga bisa mengatur keuangannya dengan baik, desa pun akan ikut maju," ujar salah satu warga Desa Pasir Eurih yang hadir dalam pelatihan.
“Kami ingin setiap keluarga memiliki pengetahuan mengelola uang dan merencanakan masa depan. Kalau setiap rumah tangga kuat, desa pun akan kuat," ungkap Alip, salah satu mahasiswa KKN-T IPB.
Kegiatan dilakukan dengan metode partisipatif seperti diskusi kelompok, simulasi, dan studi kasus yang relevan dengan kondisi nyata di desa. Antusiasme warga terlihat dari interaksi aktif, pertanyaan, hingga cerita pengalaman pribadi.
“Selama ini saya tidak pernah mencatat uang keluar-masuk. Ternyata setelah dihitung, banyak pengeluaran yang bisa dihemat," ungkap salah satu peserta pelatihan.
Program FAMTASIA juga menjadi ruang refleksi keluarga. Melalui kegiatan mendengarkan cerita, membangun narasi keluarga, dan memetakan nilai-nilai lokal, warga diajak memahami bahwa ketahanan keluarga tidak hanya soal finansial, tetapi juga komunikasi dan dukungan emosional.
Dampak dari kegiatan ini mulai terasa. Beberapa keluarga mengaku sudah mulai memisahkan uang untuk kebutuhan pokok dan tabungan, sementara ibu-ibu pelaku usaha kecil mulai merancang strategi untuk memutar modal dengan lebih efisien.
Mahasiswa KKN-T IPB berharap, program ini menjadi pemicu pembangunan desa berbasis keluarga. Keluarga yang tangguh secara ekonomi akan lebih siap berkontribusi pada kegiatan sosial, gotong royong, dan inovasi desa.
“Dari keluarga untuk desa” bukan sekadar slogan, tetapi strategi membangun masa depan desa yang mandiri, terencana, dan berdaya saing. Dari rumah-rumah yang terkelola dengan baik, lahirlah desa yang lebih sejahtera.
