Konten dari Pengguna

Kota Peduli: Jalan Menuju Inklusi dan Ketahanan di Asia-Pasifik

Salsabila Rasdi

Salsabila Rasdi

Sarjana Pendidikan Bahasa Jerman Universitas Negeri Jakarta Bridging the gap between global geopolitics and digital storytelling. An educator and content strategist.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Salsabila Rasdi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: UN Women Asia-Pacific
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: UN Women Asia-Pacific

Kota-kota di kawasan Asia-Pasifik saat ini sedang berada di persimpangan jalan akibat tekanan urbanisasi yang sangat cepat, pergeseran demografi menuju masyarakat menua, serta ancaman krisis iklim yang semakin nyata. Fenomena ini memicu lahirnya paradigma Kota Peduli atau Caring Cities, sebuah konsep pembangunan perkotaan yang menempatkan fungsi perawatan sebagai bagian mendasar dalam perencanaan kota. Melalui sudut pandang ini, layanan pengasuhan anak, perawatan lansia, serta dukungan bagi penyandang disabilitas tidak lagi dianggap sebagai tanggung jawab domestik semata, melainkan diakui sebagai infrastruktur publik yang menentukan kualitas hidup, kesetaraan gender, dan ketahanan sosial masyarakat urban.

Urgensi penguatan fungsi perawatan dalam pembangunan kota didasari oleh realitas bahwa pekerjaan ini sebagian besar dilakukan oleh perempuan tanpa kompensasi ekonomi. Kondisi tersebut menjadi hambatan struktural bagi tercapainya kesetaraan gender karena membatasi partisipasi produktif mereka. Secara ekonomi, nilai pekerjaan perawatan tidak berbayar di Asia-Pasifik mencapai angka triliunan dolar, sehingga integrasi aspek ini ke dalam kebijakan kota menjadi sangat strategis. Langkah tersebut juga sejalan dengan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, terutama dalam mengurangi beban kerja domestik, menciptakan kota yang inklusif, serta memastikan ketangguhan komunitas terhadap dampak perubahan iklim.

Sejumlah lembaga internasional telah mengonsolidasikan dukungan terhadap visi ini melalui berbagai inisiatif konkret. UN Women meluncurkan Transform Care Investment Initiative untuk mendorong perluasan layanan perawatan yang terjangkau untuk menciptakan lapangan kerja yang layak, sementara UN Habitat berfokus pada desain ruang kota yang ramah bagi semua kelompok usia dan penyandang disabilitas. Di sisi lain, ESCAP mengembangkan kerangka kebijakan ekonomi perawatan yang terintegrasi dengan adaptasi infrastruktur, sedangkan UCLG ASPAC menekankan peran vital pemerintah lokal dalam mengatur pendanaan dan melibatkan partisipasi warga dalam merancang kebijakan perawatan di tingkat daerah.

Beberapa negara telah menunjukkan keberhasilan dalam menerapkan prinsip Kota Peduli melalui studi kasus yang nyata. Sri Lanka telah membangun pusat daycare bagi lansia sebagai kebijakan resmi perkotaan. Di Changning, China, dilakukan penataan ulang arus lalu lintas di sekitar area sekolah untuk menjamin keamanan anak-anak dan orang tua. Sementara itu, Malaysia dan Korea Selatan terus memperluas pembangunan infrastruktur inklusif yang mengakomodasi kebutuhan aksesibilitas fisik serta layanan kesehatan mental bagi penduduknya.

Penerapan konsep ini memiliki implikasi yang luas bagi negara-negara di Asia Tenggara dan Pasifik. Indonesia dapat mengintegrasikan aspek perawatan ke dalam sistem transportasi publik dan tata ruang, serta mengoptimalkan sistem organisasi komunitas seperti RT dan RW untuk mendukung layanan perawatan berbasis warga. Malaysia dapat memperluas penyediaan pusat daycare lansia di kota besar seperti Penang dan Johor Bahru sesuai dengan visi sosial nasionalnya "Malaysia Madani". Thailand mulai menyertakan layanan perawatan lansia dalam desain perumahan dan infrastruktur pengendalian banjir di Bangkok. Di wilayah Kepulauan Pasifik, ketahanan terhadap bencana diperkuat dengan menyediakan fasilitas childcare dan eldercare di dalam pusat pengungsian darurat.

Untuk mewujudkan Kota Peduli secara menyeluruh, diperlukan strategi kebijakan yang menempatkan perawatan sebagai infrastruktur dasar setara dengan jalan raya, jaringan listrik, dan air bersih. Hal ini membutuhkan dorongan investasi dari sektor publik maupun swasta melalui model pembiayaan yang inovatif. Selain itu, pengambilan kebijakan harus berbasis pada data yang terpilah menurut gender serta melibatkan partisipasi aktif masyarakat dalam proses perancangannya. Dengan menjadikan perawatan sebagai lensa utama dalam pembangunan, kota-kota di Asia-Pasifik dapat bertransformasi menjadi lingkungan yang lebih inklusif dan tangguh dalam menghadapi berbagai krisis di masa depan.