Konten dari Pengguna

Doomscrolling dan Kebiasaan Scroll Tanpa Henti di Era Digital

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Salsabilla Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto : Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Foto : Shutterstock

Menurut saya, kecanduan scrolling di media sosial memang nyata adanya. Semakin lama kita melakukan scrolling, semakin banyak pula informasi, hiburan, dan topik baru yang muncul sehingga membuat kita terus ingin melihat konten berikutnya.

Tanpa disadari, kita dapat menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk melihat satu konten ke konten lainnya karena selalu ada sesuatu yang menarik perhatian kita.

Tanpa terasa, lima menit berubah menjadi satu jam, dan satu jam berubah menjadi beberapa jam.

Ketika terus menerima informasi baru tanpa henti, pikiran kita dipaksa untuk terus memproses berbagai hal dalam waktu yang singkat. Mulai dari berita, hiburan, tren terbaru, hingga kehidupan orang lain yang terlihat sempurna di media sosial.

Menurut saya, kebiasaan ini tidak baik apabila dilakukan secara berlebihan karena otak dan pikiran juga membutuhkan waktu untuk beristirahat.

Selain itu, terlalu lama menatap layar juga dapat menyebabkan mata lelah, gangguan tidur, kesulitan berkonsentrasi, dan menurunkan produktivitas dalam kehidupan sehari-hari.

Media sosial seharusnya menjadi sarana hiburan dan informasi, bukan sesuatu yang mengendalikan waktu dan perhatian kita sepenuhnya.

Hal lain yang sering terjadi adalah munculnya overthinking setelah terlalu lama menggunakan media sosial. Terkadang kita menemukan konten yang sesuai dengan suasana hati atau kondisi yang sedang kita alami sehingga membuat kita semakin tenggelam dalam pikiran tersebut.

Foto : Shutterstock

Belum lagi banyaknya standar yang muncul di media sosial, mulai dari standar kecantikan, hubungan percintaan, gaya hidup, hingga pencapaian hidup di usia tertentu.

Tidak sedikit orang yang akhirnya mulai membandingkan diri mereka dengan apa yang mereka lihat di layar, padahal apa yang ditampilkan di media sosial belum tentu menggambarkan kehidupan seseorang secara keseluruhan.

Membandingkan kehidupan nyata dengan potongan kehidupan orang lain di media sosial sering kali menjadi sumber tekanan yang tidak disadari.

Menurut saya, solusi dari doomscrolling bukanlah berhenti menggunakan media sosial sepenuhnya, melainkan belajar menggunakannya dengan lebih bijak dan seimbang.

Membatasi waktu penggunaan perangkat, mengambil jeda dari layar, atau melakukan aktivitas lain di luar media sosial dapat membantu menjaga kesehatan mental dan kualitas hidup sehari-hari.

Teknologi seharusnya memudahkan hidup kita, bukan membuat kita kehilangan kendali atas waktu dan perhatian kita sendiri.

Pada akhirnya, doomscrolling merupakan kebiasaan yang semakin umum terjadi di era digital saat ini, terutama di kalangan generasi muda. Meskipun terlihat sederhana, kebiasaan scrolling tanpa henti dapat memberikan dampak yang cukup besar apabila tidak disadari dan dikendalikan.