Overachievement Burnout dan Tekanan untuk Selalu Menjadi yang Terbaik

English Literature Student at Universitas Pamulang
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Salsabilla Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejak kecil, saya tumbuh dengan pemikiran bahwa saya harus selalu menjadi yang terbaik. Saya terbiasa merasa bahwa jika saya tidak mendapatkan peringkat pertama atau tidak mencapai hasil yang diharapkan, saya akan dimarahi dan dianggap gagal.
Karena itu, saya terus berusaha mengejar prestasi demi prestasi. Bukan hanya karena saya ingin berhasil, tetapi juga karena saya ingin membuat orang tua bangga kepada saya.
Bagi saya saat itu, prestasi bukan lagi sebuah pilihan, melainkan sebuah kewajiban.
Semakin lama saya menyadari bahwa terus memaksa diri untuk selalu berada di posisi terbaik bukanlah sesuatu yang sehat. Ada batas kemampuan fisik, mental, dan pikiran yang dimiliki setiap orang.
Tekanan untuk selalu sempurna dan tidak boleh gagal perlahan berubah menjadi beban yang terus saya bawa setiap hari. Saya mulai merasa lelah, tertekan, dan takut melakukan kesalahan karena merasa kegagalan bukanlah sesuatu yang boleh terjadi.
Terkadang, tekanan terbesar bukan datang dari orang lain, tetapi dari ekspektasi yang terus kita letakkan pada diri sendiri.
Pada akhirnya, saya mulai belajar melepaskan sebagian tekanan tersebut. Saya menyadari bahwa menjadi manusia berarti memiliki keterbatasan, dan tidak semua hal harus dilakukan secara sempurna.
Saya mulai mencoba menerima bahwa yang terpenting bukanlah selalu menjadi nomor satu, tetapi memberikan usaha terbaik sesuai kemampuan yang saya miliki saat itu.
Karena pada kenyataannya, setiap orang memiliki kapasitas yang berbeda-beda dan perjalanan hidup yang berbeda pula.
Berusaha sebaik mungkin jauh lebih penting daripada memaksakan diri untuk selalu menjadi yang terbaik.
Ada satu hal yang akhirnya saya pelajari, yaitu bahwa kegagalan bukanlah akhir dari segalanya. Jika suatu saat saya gagal mencapai sesuatu, bukan berarti saya tidak cukup baik atau tidak layak untuk dibanggakan.
Kegagalan hanyalah bagian dari proses belajar dan bertumbuh. Jika gagal hari ini, masih ada kesempatan untuk mencoba lagi besok dengan pengalaman dan pelajaran yang lebih banyak dari sebelumnya.
Kadang-kadang, keberanian untuk mencoba kembali jauh lebih berharga daripada sebuah kesempurnaan.
Pada akhirnya, saya menyadari bahwa hidup bukanlah perlombaan untuk terus berada di posisi pertama. Tidak ada salahnya memiliki ambisi dan keinginan untuk berprestasi, tetapi semuanya tetap membutuhkan batas yang sehat.
Karena manusia bukan mesin yang bisa terus dipaksa bekerja tanpa henti. Dan mungkin, salah satu bentuk kedewasaan adalah menerima bahwa kita tidak harus selalu menjadi yang terbaik untuk tetap berharga di mata diri sendiri maupun orang lain.
