Tekno & Sains
·
16 Maret 2021 15:05

Dampak Lingkungan Akibat Pandemi COVID-19 dan Strategi Pencegahan

Konten ini diproduksi oleh Salsahp Hp

Wabah penyakit virus corona-2019 (COVID-19) pertama kali muncul pada akhir Desember 2019 dari pasar makanan laut Hunan di Kota Wuhan Cina dan dinyatakan sebagai darurat kesehatan masyarakat internasional dalam beberapa minggu oleh Organisasi Kesehatan Dunia. Penularan virus terutama terjadi melalui orang ke orang melalui kontak langsung atau tetesan yang dihasilkan oleh batuk, bersin, dan berbicara. Per 06 September 2020; Virus ini diklaim telah menyebar di 216 negara, wilayah atau teritori dengan kematian 876.616 manusia dari 26.763.217 kasus yang dikonfirmasi (WHO, 2020a) dan jumlahnya meningkat pesat.

ADVERTISEMENT
Hingga saat ini belum ada terobosan yang berarti dalam pengembangan obat atau vaksin yang efektif untuk penyakit ini. Otoritas dan pakar nasional dan internasional menyarankan penggunaan tindakan non-farmasi seperti memakai masker wajah dan sarung tangan, mencuci tangan dengan sabun, sering menggunakan larutan anti septik dan menjaga jarak sosial. Pemerintah dari sebagian besar negara yang terkena dampak juga mulai membatasi pergerakan orang agar mengurangi penyebaran virus.
Dampak Lingkungan Akibat Pandemi COVID-19 dan Strategi Pencegahan (179972)
Pada 7 April 2020, World Economic Forum melaporkan hampir 3 miliar orang dihadapkan pada beberapa bentuk penguncian secara global, dan gerakan dibatasi oleh pemerintah masing-masing untuk mengendalikan penyebaran COVID-19 (WEF, 2020). Kecuali layanan darurat (mis., Medis, pemadam kebakaran, polisi, pasokan makanan, dll). Secara keseluruhan, pandemi telah menyebabkan masalah global yang sangat besar dan gangguan sosial ekonomi yang secara langsung atau tidak langsung yang mempengaruhi lingkungan seperti peningkatan kualitas udara dan air, pengurangan kebisingan dan pemulihan ekologi.
Pembatasan aktivitas manusia selama masa pandemi COVID-19 dan berhentinya berbagai kegiatan ekonomi, termasuk beberapa sektor industri, telah berkontribusi pada penurunan emisi global. Hampir setengah (43%) dari penurunan emisi global selama puncak lockdown berasal dari sektor transportasi dan industri, terutama kendaraan bermotor dan pabrik manufaktur komersial (bbc. com, 24 Mei 2020). Peneliti dari beberapa institusi menemukan bahwa lingkungan berubah dengan cepat, dan waktu perubahan tersebut tampaknya menunjukkan bahwa pandemi mungkin menjadi alasannya. Laju penggundulan hutan berubah di beberapa tempat, polusi udara berkurang, kualitas air membaik, dan salju menjadi lebih reflektif di beberapa daerah sejak pandemi dimulai awal tahun 2020.
ADVERTISEMENT
Gangguan global yang disebabkan oleh COVID-19 telah membawa beberapa dampak terhadap lingkungan dan iklim. Karena hambatan pergerakan dan perlambatan yang signifikan dari kegiatan sosial dan ekonomi, kualitas udara di banyak kota telah meningkat dengan pengurangan polusi air di berbagai belahan dunia. Kondisi pandemi ini berdampak positif dan negatif dari beberapa sektor kehidupan, salah satunya pada meningkatnya timbulan sampah, terutama sampah plastik dan sampah medis.
Dampak negatif yang dirasakan tentunya banyak, mulai dari bidang ekonomi, banyak para pekerja yang di-phk dan otomatis menambah presentase pengangguran diindonesia, bahkan sebagian dari mereka tidak sedikit ada yang melakukan tindakan kriminal demi bertahan hidup atau menghidupi keluarganya. selain itu, para wirausahawan tidak jarang pulang ada beberapa dari mereka yang harus gulung tikar karena usahanya sudah tak ramai lagi akan pengunjung dikarenakan adanya psbb dan tidak mampu untuk memberikan gaji yang layak untuk para pekerja.
ADVERTISEMENT
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia menyebutkan bahwa sampah plastik domestik meningkat dari 1-5 menjadi 5-10 gram per hari per individu karena pandemi COVID-19. Selain itu, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mencatat kenaikan produksi limbah medis saat ini sebanyak 290 ton limbah medis per hari (idnfinancials.com, 8 Juni 2020). Sampah plastik tersebut sebagian besar berasal dari penggunaan plastik sekali pakai dari makanan yang dikemas, sedangkan sampah medis berasal dari peralatan medis dan Alat Pelindung Diri (APD), termasuk sarung tangan dan masker.
Akibat, pemerintah gencar buat mewajibkan masyarakat untuk pakai masker menjadi banyak sampah masker yang dibuang secara sembarangan, sedangkan edukasi cara membuang masker yang baik dan bener itu minim banget. Sampah masker dibuang begitu saja sembarangan tidak di robek/di gunting. Selain itu, sampah makanan juga berpengaruh terhadap lingkungan di masa pandemi COVID-19. Sejak diberlakukan PSBB atau kegiatan di luar yang dibatasi pemerintah, banyak sekali masyarakat yang memesan makanan melalui aplikasi online, yaitu gofood dan grabfood mau gamau diharuskan memakai styrofoam/plastik untuk membungkus makanannya.
ADVERTISEMENT
Sampah plastik tidak hanya merusak ekosistem yang ada di darat maupun laut, tetapi juga ancaman nyata bagi kelangsungan seluruh makhluk hidup di dunia. Daya hancur plastik terhadap lingkungan sangat besar, sebab ia sangat sulit terurai. Rata–rata hanya restoran cepat saji saja yang sudah nerapin pengurangan penggunaan sampah plastik, sedangkan pedagang kaki lima yang berada di pinggir jalan masih menggunakan plastik. Dalam studi yang dilakukan oleh UN Environment Programme (UNEP) berjudul “Single-Use Plastics: A Roadmap for Sustainabil-ity” pada tahun 2018 mengungkapkan, bahwa sampah plastik berupa kantong dan styrofoam memerlukan ribuan tahun untuk bisa terurai. Bukan hanya itu, sampah plastik juga berpotensi mencemari tanah dan udara melalui pembakaran terbuka atau insinerasi, menurut Greenpeace. Insinerasi sering dianggap sebagai solusi paling mudah atas permasalahan pencemaran plastik berbasis lahan skala besar.
ADVERTISEMENT
Padahal, insinerasi ini dapat menghasilkan emisi karbon dioksida (CO2) terbanyak di antara metode pengelolaan limbah plastik. Ketika ketergantungan pada insinerasi tumbuh, maka secara langsung emisi dari limbah plastik juga akan meningkat.
Adapun dampak positif selama masa pandemi, yaitu terjadi peningkatan kualitas udara perkotaan. Citra dari satelit NASA Earth Observatory menunjukkan polusi NO2 di Wuhan China menurun tajam. Tingkat polusi udara di New York berkurang 50%, kualitas udara di China naik 11,4%, dan emisi NO2 juga menurun di Italia, Spanyol, dan Inggris. Untuk kondisi Indonesia, CREA menyampaikan bahwa penurunan emisi maksimum mencapai 18,2%. Tingkat gas NO2 di Jakarta turun sekitar 40% dari level gas tersebut pada tahun lalu (bbc, 24 Mei 2020). Langit yang lebih bersih menjadi perhatian beberapa warga ibu kota dan sekitarnya selama PSBB.
ADVERTISEMENT
Mengacu pada kedua sudut pandang tersebut, sisi positif adanya pandemi pada lingkungan global hendaknya diiringi kebijakan berupa mitigasi, adaptasi, serta program yang memberikan sumbangan dalam rangka menghambat krisis iklim. Penanganan sampah hendaknya dilakukan secara menyeluruh dari sumber sampah hingga pembuangan akhir dan penambahan sarana dan prasarana pengelolaan limbah medis. Demikian juga penegakan hukum perlu terus dijalankan untuk meminimalisasi perusakan atau pembakaran hutan. Hal penting lainnya adalah perlunya peran 16 serta masyarakat, misalnya dalam pengurangan sampah plastik dan penggunaan energi karbon yang lebih bijak, termasuk beralih ke alat tranportasi umum untuk mengurangi emisi.
Dampak Lingkungan Akibat Pandemi COVID-19 dan Strategi Pencegahan (179973)
Ilustrasi COVID-19. Foto: DADO RUVIC/REUTERS