Komunikasi Bisnis dan Kepribadian Manusia: Kunci Sukses Membangun Relasi

Saya adalah seorang mahasiswi universitas pamulang yang menjalankan pendidikan S1 Manajemen Sumber Daya Manusia (SDM) yang sedang berjalan saat ini
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Fariza Salsa Nurjanah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam dunia Komunikasi Bisnis, memahami kepribadian manusia merupakan fondasi utama agar pesan dapat tersampaikan secara efektif. Setiap individu terlahir unik dengan akal dan panca indra, sehingga tidak ada dua orang yang memiliki karakter benar-benar sama di tengah keberagaman latar belakang. Sebelum memulai negosiasi atau berkolaborasi dengan relasi kerja, pengenalan terhadap karakter lawan bicara sangat penting agar interaksi berjalan lancar dan menghasilkan umpan balik yang diharapkan.
Faktor dan Unsur Pembentuk Kepribadian
Kepribadian seseorang tidak terbentuk begitu saja, melainkan dipengaruhi oleh tiga faktor utama:
Keturunan: Sifat bawaan yang diwariskan secara biologis dari orang tua menjadi salah satu dasar pembentuk karakter seseorang.
Lingkungan: Menjadi faktor utama yang mampu memengaruhi atau mengubah kepribadian; lingkungan yang baik cenderung akan membentuk perilaku baik, begitu pula sebaliknya.
Budaya: Kebiasaan serta nilai yang berkembang di suatu daerah ikut membentuk pola pikir dan perilaku individu yang bermukim di dalamnya.
Selain faktor di atas, kepribadian juga dilandasi oleh unsur pengetahuan yang tersimpan di dalam otak, perasaan yang secara sadar menilai suatu keadaan sebagai hal positif atau negatif, serta tipologi kepribadian bawaan individu tersebut.
Ragam Tipologi Kepribadian
Mengetahui ragam Kepribadian Manusia sangat membantu dalam menempatkan diri saat bernegosiasi atau berkolaborasi:
Enam Tipe Kepribadian Dasar: Terdiri dari Realistis (menyenangi kegiatan fisik), Investigatif (menyukai kegiatan berpikir), Sosial (suka berinteraksi dengan masyarakat), Konvensional (menyukai aturan dan prosedur jelas), Enterprising (suka memengaruhi orang lain), serta Artistik (ekspresif, imajinatif, dan kurang menyukai keteraturan).
Teori Hipocrates: Menggolongkan manusia menjadi Koleris (produktif, tegas, namun keras kepala), Melankolis (perfeksionis dan analitis), Plegmatis (cinta damai dan pendengar yang baik), serta Sanguinis (mudah bergaul namun cenderung egois).
Kepribadian Pebisnis (Darrell Zahorsky): Terbagi menjadi enam jenis, yaitu The Improver, Superstar, Artist, Visionary, Fireball, dan Hero, yang masing-masing mendefinisikan cara spesifik seorang pebisnis menjalankan perusahaannya dan berinteraksi dengan klien.
Enneagram: Memetakan karakter ke dalam sembilan profil komprehensif, mulai dari Reformer, Giver, Achiever, Artist, Observer, Pessimist, Generalist, Challenger, hingga Peacemaker.
Psikologi Komunikasi dan Hierarki Kebutuhan
Dalam ilmu komunikasi bisnis, proses penyampaian pesan tidak terlepas dari tahapan psikologis. Menurut Fisher, proses ini meliputi empat tahap berurutan: penerimaan stimuli melalui indrawi, pengantar stimuli menuju respons, prediksi respons, dan peneguhan penguatan terhadap respons yang terbentuk. Komunikasi bisnis dapat dikatakan berhasil jika memunculkan pengertian yang cermat, memengaruhi sikap, memicu kesenangan, menghasilkan tindakan nyata, serta menumbuhkan hubungan sosial yang lebih baik antarmanusia. Untuk melengkapi kemampuan adaptasi, komunikator bisnis juga harus peka terhadap Teori Hierarki Kebutuhan Abraham Maslow. Setiap individu memiliki prioritas yang digerakkan oleh lima tingkat kebutuhan dasar: fisiologis (bertahan hidup), rasa aman, interaksi sosial, status/pengakuan, hingga puncaknya pada aktualisasi diri yang berwujud inovasi dan kebijaksanaan. Memahami level kebutuhan relasi bisnis merupakan landasan kunci dalam membangun komunikasi yang produktif dan saling menguntungkan.
