Konten dari Pengguna

Mahasiswa Telkom University Ciptakan "BoostCo" dari Limbah Agroindustri

Salsha Amelia

Salsha Amelia

Mahasiswa Di Telkom University Purwokerto

·waktu baca 5 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Salsha Amelia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Contoh: Foto Tim PKM-K BoostCo (Sumber: Dokumentasi Pribadi))
zoom-in-whitePerbesar
Contoh: Foto Tim PKM-K BoostCo (Sumber: Dokumentasi Pribadi))

Banyumas -- Lima mahasiswa Telkom University Kampus Kabupaten Banyumas berhasil mengembangkan inovasi pakan ternak berkelanjutan bernama BoostCo, suplemen alami untuk ayam ras petelur yang dibuat dari limbah agroindustri berupa ampas kelapa dan ampas tahu.

Inovasi ini lahir dari keresahan akan tingginya biaya pakan ternak, yang mencapai 60--70 persen dari total biaya produksi. Menggunakan teknologi fermentasi Effective Microorganism 4 (EM4), tim berhasil meningkatkan kandungan protein dan menurunkan kadar serat kasar pada limbah, sehingga menghasilkan pakan bernutrisi tinggi yang ramah lingkungan.

"BoostCo tidak hanya membantu peternak menekan biaya produksi, tapi juga mendukung pengurangan limbah dan ekonomi sirkular," ujar Ika Wida Nuragustin, ketua tim PKM-K, Jumat (15/08/2025). Produk ini dikemas dalam botol 250 gram dan dapat dicampur ke pakan utama, dengan dosis 5--10 gram per kilogram pakan setiap 3--7 hari.

Selain Ika, tim ini juga terdiri dari Afifah Faiqatuzzahra, Fatulloh Razizantory, Salsha Amelia Amanda, dan Gilang Risqi Maulana. Kelimanya tergabung dalam Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKM-K) yang didanai oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).

Produk BoostCo telah melalui uji awal pada skala laboratorium. Hasilnya, ayam ras petelur yang diberikan suplemen ini menunjukkan peningkatan produktivitas.

"Meski uji ini masih skala kecil, hasilnya menjanjikan. Ayam terlihat lebih aktif, dan warna kuning telurnya pun lebih pekat, yang menandakan peningkatan kualitas nutrisi," jelas Ika.

Ke depannya, tim berencana melakukan uji coba lapangan bekerja sama dengan peternak lokal di Banyumas. Uji coba ini akan melibatkan populasi ayam yang lebih banyak dan periode pengamatan yang lebih lama, guna memastikan konsistensi manfaat BoostCo.

Banyumas merupakan salah satu daerah dengan produksi kelapa dan tahu yang cukup besar. Hal ini menyebabkan limbah berupa ampas kelapa dan ampas tahu melimpah setiap harinya. Sebagian limbah ini memang dimanfaatkan sebagai pakan ternak tradisional atau kompos, tetapi sebagian besar masih dibuang begitu saja, menimbulkan masalah lingkungan.

Padahal, kandungan gizi dari ampas kelapa dan ampas tahu cukup tinggi. Ampas kelapa mengandung lemak, protein, dan serat, sementara ampas tahu kaya akan protein nabati, kalsium, dan fosfor. Masalahnya, kandungan serat kasar pada kedua bahan tersebut cukup tinggi sehingga sulit dicerna oleh ayam.

Di sinilah teknologi fermentasi EM4 memainkan peran penting. Mikroorganisme dalam EM4, seperti bakteri asam laktat, ragi, dan bakteri fotosintetik, bekerja memecah serat kasar menjadi komponen yang lebih mudah dicerna. Selain itu, fermentasi juga meningkatkan kandungan protein melalui aktivitas mikroba yang memproduksi enzim pencernaan.

Konsep ekonomi sirkular menjadi salah satu nilai utama dari pengembangan BoostCo. Dengan memanfaatkan limbah sebagai bahan baku utama, produk ini tidak hanya mengurangi beban lingkungan, tetapi juga memberi nilai tambah bagi rantai produksi lokal.

“Selama ini, limbah ampas kelapa dan tahu sering dianggap tidak bernilai. Padahal, jika diolah dengan tepat, bisa menjadi sumber pendapatan tambahan bagi produsen kelapa dan tahu, sekaligus menekan biaya pakan bagi peternak,” kata Ika.

Tim BoostCo berharap, ke depannya mereka dapat bekerja sama dengan produsen kelapa dan tahu di Banyumas untuk memastikan pasokan bahan baku yang stabil. Dengan demikian, inovasi ini juga dapat membuka peluang usaha baru di sektor pengolahan limbah.

Produk Boostco (Dokumentasi Sendiri)

BoostCo merupakan bagian dari Program Kreativitas Mahasiswa bidang Kewirausahaan (PKM-K) 2025, yang tahun ini mengusung tema "Kemandirian Pangan, Energi, dan Air". Inovasi ini sejalan dengan upaya pemerintah memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus memodernisasi sektor peternakan melalui pemanfaatan teknologi tepat guna.

Dengan memanfaatkan limbah agroindustri sebagai sumber bahan baku, BoostCo tidak hanya berkontribusi pada pengurangan limbah, tetapi juga mendukung terciptanya sistem peternakan yang efisien, berkelanjutan, dan adaptif terhadap perubahan iklim serta dinamika harga pakan di pasar.

Sektor peternakan, khususnya ayam ras petelur, memegang peran penting dalam penyediaan sumber protein hewani yang terjangkau bagi masyarakat Indonesia. Namun, tingginya biaya pakan menjadi kendala utama yang dihadapi peternak.

Dengan adanya BoostCo, peternak diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada pakan komersial yang harganya fluktuatif. Suplemen ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan pakan utama, tetapi untuk melengkapinya sehingga ayam mendapatkan nutrisi optimal dengan biaya lebih rendah.

Jika diterapkan secara luas, inovasi seperti BoostCo berpotensi membantu menstabilkan harga telur di pasaran. Hal ini pada akhirnya mendukung ketahanan pangan nasional, terutama dalam menjaga ketersediaan protein hewani yang terjangkau.

Perjalanan tim BoostCo dimulai dari diskusi sederhana mengenai masalah yang dihadapi peternak. Mereka menemukan fakta bahwa banyak peternak di Banyumas mengeluhkan mahalnya harga pakan, sementara di sisi lain, limbah agroindustri berlimpah dan kurang dimanfaatkan.

Bermodalkan riset literatur, diskusi dengan dosen pembimbing, dan beberapa kali percobaan di laboratorium, lahirlah formula awal BoostCo. Meski prosesnya penuh tantangan, seperti menentukan rasio bahan baku yang tepat dan memastikan fermentasi berjalan optimal, tim tetap konsisten hingga menemukan komposisi yang diinginkan.

Saat ini, tim BoostCo tengah mempersiapkan tahap produksi skala kecil untuk keperluan uji lapangan. Mereka juga mulai merancang strategi pemasaran, termasuk desain kemasan yang informatif dan menarik.

“Kami ingin kemasan tidak hanya fungsional, tetapi juga memberi edukasi kepada pengguna tentang manfaat produk ini,” ujar Ika. Tim berencana menyertakan informasi tentang kandungan nutrisi, cara penggunaan, dan manfaat BoostCo bagi ternak dan lingkungan.

Selain itu, mereka sedang menjajaki peluang kerja sama dengan koperasi peternak dan toko pakan ternak di wilayah Banyumas. Tujuannya adalah membangun jaringan distribusi yang kuat sejak awal, sehingga ketika BoostCo siap diproduksi secara massal, pasar sudah terbentuk.

Tim BoostCo optimis bahwa inovasi mereka dapat menjadi bagian dari solusi bagi peternak di Indonesia, khususnya dalam mengatasi masalah biaya pakan. Mereka juga berharap inovasi ini dapat menginspirasi mahasiswa lain untuk memanfaatkan potensi lokal dan mengolahnya menjadi produk bernilai tinggi.

“Kami ingin membuktikan bahwa inovasi sederhana, jika dikerjakan dengan serius, bisa memberikan dampak besar. BoostCo adalah bukti bahwa limbah bisa berubah menjadi sumber daya,” tutup Ika.

Dengan memadukan ilmu pengetahuan, kreativitas, dan kepedulian terhadap lingkungan, BoostCo menjadi contoh nyata kontribusi generasi muda untuk membangun masa depan yang lebih berkelanjutan.