Konten dari Pengguna

Chinmoku: Diam itu Baik dalam Budaya Jepang

Salsha Okta

Salsha Okta

Mahasiswa Studi Kejepangan - Universitas Airlangga

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Salsha Okta tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebagai makhluk sosial pasti sudah tidak asing dengan namanya komunikasi. Komunikasi merupakan bentuk penyampaian pesan atau maksud kepada orang lain untuk memenuhi tujuan tertentu.

Negara Jepang juga tentu memiliki yang namanya komunikasi. Berbeda dengan negara lain, negeri sakura ini mempunyai budayanya sendiri dalam berkomunikasi, yaitu "Chinmoku".

Chinmoku merupakan salah satu bentuk komunikasi dalam budaya Jepang yang berarti diam, sunyi atau hening. Chinmoku atau keheningan ini biasanya digunakan saat percakapan sehari-hari dan dinilai sebagai hal yang lumrah dalam masyarakat Jepang.

Jepang memiliki salah satu peribahasa yang berbunyi “kuchi wa wazawai no moto” yang memiki arti bahwa mulut adalah sumber bencana. Jika kita telaah peribahasa tersebut, kita bisa melihat bagaimana orang Jepang sangat berhati-hati dalam berucap atau mengeluarkan kata-kata.

Orang Jepang menggambarkan bahwa mulut adalah alat pengucap yang dapat menimbulkan berbagai masalah saat digunakan untuk berkomunikasi. Cara berkomunikasi yang hati-hati dan tidak menyakiti hati sang lawan pembicara merupakan salah satu kegunaan dari adanya Chinmoku ini.

Dalam jurnal “The Cultural Significance of silence in Japanese communication” (2007) yang ditulis oleh Takie Lebra mengidentifikasikan bahwa terdapat empat dimensi dalam keheningan Jepang, yaitu truthfulness atau kejujuran, social discretion atau kebijaksanaan sosial, embarrassment atau rasa malu, dan defiance atau pembangkangan.

Truthfulness atau kejujuran ini juga diambil dari ideologi Zen Buddhisme yang mengajarkan bahwa ekspresi verbal harus ditunjukkan rendah sebagaimana batin harus disembunyikan sebanyak mungkin. Untuk social discretion atau kebijaksanaan sosial mempunyai arti bahwa keheningan dapat meningkatkan status sosial atau kesopanan seseorang.

Selain itu, untuk embarrassment atau rasa malu berarti bahwa keheningan merupakan tingkat keintiman dalam hubungan pribadi. Berkaitan dengan itu, keheningan juga digunakan pada pasangan suami istri dengan sang suami yang akan menunjukkan jarak emosional dengan menggunakan Chinmoku kepada pasangannya. Terakhir, yaitu defiance atau pembangkangan berarti bahwa keheningan menunjukkan adanya sikap pembangkangan atau keterasingan. Jika kita telaah dari faktor sejarahnya, Chinmoku merupakan budaya yang dipengaruhi oleh adanya ideologi Zen Buddhisme. Dalam ideologi tersebut terdapat ajaran yang berfokus pada keheningan, seperti meditasi dan pengosongan pikiran.

Dalam ideologi zen terdapat pemikiran bahwa keheningan sebenarnya sudah mewakili segala kebenaran yang ada di dalam tubuh (perut atau hati) sedangkan untuk wajah, mulut, dan kata-kata yang diucapkan dikaitkan sebagai kepalsuan moral dan kognitif. Maka dari itu, terlalu banyak berbicara atau mengeluarkan kata-kata dianggap sebagai konotasi yang negatif.

Peran Shinto dan Buddhisme di Jepang juga mengajarkan pola pikir bahwa keheningan merupakan kebajikan. Perasaan tersebut bisa didapatkan saat kita menahan emosi dan lidah untuk berbicara. Selain itu, nilai keheningan juga terdapat dalam seni tradisional Jepang, yaitu praktik kesenian Shodo (kaligrafi) dan Kado (merangkai bunga). Konsentrasi spiritual dan keheningan batin yang terdapat dalam praktik kesenian Jepang tersebut merupakan salah satu faktor terbentuknya Chinmoku.

Chinmoku juga berasal dari faktor kesadaran kelompok, di mana terdapat peribahasa jepang berupa "deru kui wa utareru“ yang artinya paku yang mencuat harus dipukul. Arti peribahasa ini adalah jika ada orang yang terlihat terlalu menunjukkan bakat atau hal yang berbeda dari kebanyakan orang maka akan dikritik dan dibenci oleh orang lain.

Contohnya, yaitu jika kita terlalu banyak berbicara di dalam suatu kelompok maka akan dianggap negatif atau bahkan tidak dewasa. Oleh sebab itu, keheningan dan diam digunakan oleh banyak orang agar mereka tidak dikritik atau dibenci oleh masyarakat. Keheningan mewarnai bentuk komunikasi sebagai upaya untuk menjaga keharmonisan kelompok dan kehidupan sosial di Jepang.

Diam alias Chinmoku ini dapat menghasilkan berbagai makna dalam komunikasi sehari-hari. Oleh karena itu, terdapat dampak positif dan negatif dari adanya budaya Chinmoku. Jika kita lihat dari dampak positifnya, diam atau Chinmoku ini dapat membantu dalam menjaga keharmonisan antar individu atau kelompok. Chinmoku dapat menghasilkan suasana komunikasi yang tenang dan tidak terburu-buru sehingga keharmonisan antar individu atau kelompok dapat lebih mudah tercipta.

Selain itu, adanya Chinmoku juga membuat orang Jepang dapat lebih menghindari adanya konflik antar individu atau kelompok. Chinmoku menciptakan lingkungan yang lebih hening dan hati-hati, hal ini membuat orang Jepang tidak berani untuk terlalu terbuka dalam mengeluarkan kata-kata atau berbicara. Sikap tersebut membuat perasaan sakit hati atau tersinggung dapat lebih terhindari.

Walaupun memiliki dampak positif, yaitu menjaga keharmonisan, Chinmoku juga tetap menghasilkan dampak negatif. Dampak negatif yang dihasilkan dari Chinmoku ini adalah timbulnya kesalahpahaman antar individu, hal ini disebabkan Chinmoku membuat keterbatasan komunikasi karena sikap hati-hati tersebut. Orang Jepang tidak dapat mengekspresikan atau berbicara sepenuhnya tentang apa yang ia rasakan atau pikirkan, keterbatasan ini dapat membuat adanya kesalahpahaman.

Sumber: shutterstock.com

Chinmoku juga kerap digunakan saat dalam keadaan marah dan cenderung menjaga jarak. Budaya Chinmoku saat berkonflik ini menggambarkan sikap lepas tanggung jawab dan tidak peduli terhadap adanya konflik.

Jika terdapat konflik antar individu, orang Jepang cenderung lebih mendiamkan dengan maksud agar tidak menambah “api” dalam konflik tersebut. Tetapi, dengan sikap mendiamkan tersebut justru bisa memberi opini bahwa bagaimana Chinmoku tidak dapat menyelesaikan masalah ketidakharmonisan dengan baik. Padahal kunci dari penyelesaian konflik antar individu adalah menyelesaikannya dengan saling berkomunikasi. Dengan mendiamkan atau melakukan Chinmoku tersebut dapat menambah perasaan sakit hati yang lebih mendalam pada setiap individu.

Hal negatif dari adanya sikap diam atau Chinmoku ini juga kerap ditemukan dalam aktivitas sehari-hari. Misalnya, ketika terjadi suatu permasalahan dalam ruang publik, orang Jepang cenderung untuk lebih memilih berdiam diri.

Chinmoku membuat orang Jepang cenderung untuk lebih menghindari konflik dan diam ketika melihat suatu masalah. Hal ini dapat menjadi masalah serius dalam kehidupan sosial di Jepang nantinya.

Jika kita telaah budaya Chinmoku dengan menggunakan sudut pandang budaya Indonesia, maka Chinmoku atau keheningan merupakan upaya komunikasi yang tidak tepat. Orang Indonesia mungkin lebih senang dengan perasaan jujur dan terbuka. Tetapi, di Jepang sendiri justru lebih baik menjaga perasaan orang lain dibandingkan dengan melukai hati orang lain dengan perkataan yang lebih jujur.

Walaupun Chinmoku dirasa tidak tepat digunakan dalam upaya berkomunikasi, terdapat beberapa nilai positif dari penggunaan Chinmoku. Sebagaimana di Indonesia mempunyai peribahasa yang senilai dengan Chinmoku, yaitu “Diam adalah emas” yang mengartikan bahwa terkadang memang sikap diam dapat lebih membawa nilai dan suasana positif. Komunikasi yang terlalu terbuka juga dapat menimbulkan perspektif negatif dan membawa konflik yang lebih besar dikarenakan ketersinggungan tersebut.

Akhir kata, budaya Chinmoku tidak terbatas pada berdiam diri saja, melainkan terdapat beragam filosofi dan latar belakang bagaimana keheningan itu berasal. Setiap kata yang dilontarkan dari mulut pasti akan membawa dampak penting kepada hubungan antar manusia.

Adanya Chinmoku atau diamnya budaya Jepang dapat membawa kebaikan dan dampak positif dalam menjaga keharmonisan setiap individu. Dengan menggunakan Chinmoku seperti dalam budaya Jepang diharapkan akan lebih menjaga keharmonisan tiap individu dan kelompok dan menghindari beragam konflik yang dapat merusak keharmonisan.

DAFTAR PUSTAKA

Jones, Sally. (Tanpa Tahun). Speech is Silver, Silence is Golden: The Culturan Important of Silence in Japan, 18-21. Diakses 20 September 2022, dari Angular Momentum.

Lebra, Takie. (2007). The Cultural Significance of Silence in Japanese Communication. Ed. Takie Lebra. Identity, gender, and status in Japan: collected papers of Takie Lebra. Folkestone, Kent, U.K.: Global Oriental.

Pola Komunikasi dalam Masyarakat Jepang. Scribd.id. (Tanpa Tahun). Web. Diakses 19 September 2022, dari https://id.scribd.com/embeds/438412087/content?start_page=1&view_mode=scroll&access_key=key-fFexxf7r1bzEfWu3HKwf.

Silence in Japanese Business Culture and Communication. Commicseo-global.com. (Tanpa Tahun). Web. Diakses 20 September 2022, dari https://www.commisceo-global.com/blog/silence-in-japanese-business-culture-and-communication.

The Japanese Mind: Communication. Toki.tokyo. 11 Agustus 2021. Web. Diakses 20 September 2022, dari https://www.toki.tokyo/blogt/2016/9/15/the-japanese-mind-communication.