Menyulap Limbah Kulit Telur Menjadi Karya Seni

Mahasiswi Jurnalistik Politeknik Negeri Jakarta.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Salsyabila Sukmaningrum tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Telur merupakan bahan makanan yang hampir ada di setiap menu masakan karena mudah diolah. Namun banyak orang yang tidak terlalu memperhatikan cangkang si telur dan biasanya dibuang begitu saja. Padahal, limbah kulit telur ayam ini jika dimanfaatkan dapat menjadi karya seni yang bernilai fantastis, lho!
Hakim Abdul merupakan seorang guru di SDN Muncul 01 yang memiliki hobi pada seni lukis. Jiwa seni yang sudah melekat pada dirinya membuat pria berusia 45 tahun ini memiliki insting untuk mengubah kulit telur menjadi lukisan dengan harga jual tinggi.
Di tengah kesibukannya mengajar anak-anak SD, Hakim juga menjadi seniman yang sehari-hari membuat berbagai karya seni, mulai dari seni lukis, seni kriya, dan Hakim juga memiliki komunitas seni untuk para pemuda yang ia kelola sendiri, yaitu Balai Betah yang aktif setiap hari Sabtu dan Minggu.
Bermula dari ketidaksengajaan, pada tahun 2010 silam Hakim melihat limbah kulit telur berserakan di dapur rumahnya. Sebagai seorang seniman, dirinya mencoba mengaplikasikan kulit telur untuk ditempel ke gerabah dan pot bunga.
"Waktu itu di dapur lihat kulit telur berserakan, akhirnya saya coba-coba tempel di pot dan gerabah ternyata bisa. Dari sini saya coba media lain seperti tripleks dan lain-lain. Kebetulan saya (juga) suka menggambar dan melukis," ujar Hakim Abdul yang ditemui di kediamannya di Setu, Tangerang Selatan.
Untuk membuat lukisan dari kulit telur, waktu yang diperlukan cenderung relatif tergantung pada tingkat kerumitannya. Lukisan kaligrafi biasanya hanya butuh tiga hari, namun lukisan wajah bisa 3x dari itu, kurang lebih seminggu sampai dua minggu.
Selain lukisan dari kulit telur, Hakim juga membuat karya seni lain seperti lampu hias, kotak tisu, gerabah, dan seni kriya lainnya. Karyanya pun sering dijumpai di berbagai pameran. Yang paling terbaru, Hakim akan ikut serta pameran dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Tangerang Selatan yang akan diselenggarakan pada 21 April 2022 ini.
Hakim mengatakan pembeli karyanya cukup merata mulai dari Sabang sampai Merauke, bahkan ada pembeli dari Flores, NTT yang datang langsung ke rumahnya di Kecamatan Setu, Tangerang Selatan, Banten. Lukisan kulit telurnya juga sudah menembus internasional, biasanya menghubunginya lewat facebooknya yaitu Hakim Abdul.
"Kalau keluar negeri pernah ke Jepang, mereka kagum dengan budaya Indonesia yang unik, saya buatkan wayang. Ada juga yang dari Qatar namun individu (yang menghubungi) bukan skala besar," jelas sang pengrajin kulit telur.
Harga jual yang ditawarkan juga variatif dan fantastis tergantung bentuk dan ukuran, yang terkecil dijual mulai Rp 75.000 rupiah hingga yang terbesar mencapai jutaan rupiah, kurang lebih Rp 15.000.000. Kerumitan dan lama pengerjaan juga mempengaruhi harga jual.
Meski berprofesi sebagai guru SD yang tentunya tidak mudah, Hakim mengaku karya yang dirinya kerjakan tidak mengganggu pekerjaannya sama sekali. Dengan melukis Hakim dapat meluangkan waktu untuk rileks dan santai setelah sibuk mengajar. Bonusnya, kegiatan waktu luangnya juga menghasilkan uang.
Kini Hakim dikenal oleh banyak orang melalui karyanya. Padahal semula hanya berawal dari ketidaksengajaan dirinya melihat sampah di dapur. Hakim juga telah tampil di beberapa TV nasional dan media nasional untuk diwawancarai mengenai lukisan kulit telurnya.
