Dari Ziarah hingga Sekadar Mencari Ketenangan: Cerita Pengunjung Sendang Sriningsih

Mahasiswa Program Studi S1 Pariwisata Universitas Gadjah Mada
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Salwa Felita Ardiyanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Gua Maria Sendang Sriningsih yang berada di Gayamharjo, Prambanan, Sleman, dikenal sebagai tempat ziarah umat Katolik. Saat berkunjung ke sana, kami menemukan sebuah informasi baru bahwa orang berkunjung dengan alasan yang beragam dan tidak semuanya untuk tujuan religi, serta tidak semuanya merupakan umat Katolik.

Rute yang dilewati untuk menuju lokasi cukup menantang. Jalan yang dilewati menanjak curam dan diberi rambu peringatan yang ada di awal jalur. Transportasi disarankan menggunakan mobil, sebab sepeda motor dirasa kurang cocok dan ojek online sulit menjangkau kawasan ini.
Pada tanjakan curam ini, disediakan anak tangga untuk pengunjung yang ingin berjalan kaki. Setelah melewati tanjakan curam dan anak tangga, pengunjung tiba di gua dengan dua pohon beringin yang membentuk lengkungan di depannya. Di gua ini terdapat patung Bunda Maria yang dikelilingi bunga dan di depannya disediakan lemari untuk tempat lilin diletakkan. Pengunjung dapat mengambil air dari sumur yang diyakini dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Untuk berkunjung ke Gua Maria Sendang Sriningsih ini tidak diberi tarif, tetapi terdapat kotak sukarela untuk para pengunjung dan lokasi ini buka 24 jam. Tersedia lilin dan hio bersifat sukarela, serta disediakan rosario dan jeriken air yang dijual dengan harga yang tertera.
Kami sedikit berbincang dengan para pengunjung Gua Maria Sendang Sriningsih. Salah satu pengunjung yang berasal dari Ambarawa datang bersama komunitasnya dengan motivasi berkunjungnya karena merasa bahwa doa yang sebelumnya beliau panjatkan di Gua Maria Sendang Sriningsih ini terkabul. Selanjutnya kami berbincang dengan salah satu pengunjung yang berasal dari Klaten yang datang untuk bernostalgia dengan masa mudanya serta mencari ketenangan. Selain itu, terdapat juga pengunjung dari Yogyakarta yang berkunjung hanya untuk menikmati alam di kawasan ini dan tidak memiliki tujuan spiritual.
Tempat ini fungsi utamanya masih digunakan untuk beribadah, adanya keberagaman pengunjung perlu diimbangi pendampingan sederhana, seperti pos informasi dan papan etika berkunjung, karena masih ditemukan kekurangan pada informasi untuk berkunjung. Oleh karena itu, peziarah maupun wisatawan umum bisa sama-sama menikmati ketenangan Gua Maria Sendang Sriningsih tanpa menggeser nilai spiritualitas.
