Konten dari Pengguna

Ketika Dunia Kerja Berubah Cepat, Apakah Perencanaan SDM Kita Masih Relevan?

Salwa Rayni

Salwa Rayni

Mahasiswa Manajemen Universitas Pamulang

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Salwa Rayni tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perubahan dunia kerja menuntut perencanaan SDM yang adaptif, dari rekrutmen hingga pengembangan talenta untuk menghadapi kebutuhan kompetensi masa depan. (sumber: Generate AI)
zoom-in-whitePerbesar
Perubahan dunia kerja menuntut perencanaan SDM yang adaptif, dari rekrutmen hingga pengembangan talenta untuk menghadapi kebutuhan kompetensi masa depan. (sumber: Generate AI)

Dunia kerja sedang berubah dengan kecepatan yang tidak selalu bisa diikuti oleh organisasi. Kehadiran kecerdasan buatan (AI), transformasi digital, pola kerja yang semakin fleksibel, hingga munculnya jenis pekerjaan baru membuat kebutuhan perusahaan terhadap tenaga kerja ikut berubah. Dalam situasi seperti ini, satu pertanyaan penting perlu diajukan: apakah cara perusahaan merencanakan sumber daya manusia masih relevan?

Selama ini, perencanaan sumber daya manusia atau SDM sering dipahami secara sederhana sebagai proses menentukan berapa banyak karyawan yang dibutuhkan perusahaan. Ketika kebutuhan meningkat, perusahaan merekrut. Ketika kebutuhan menurun, jumlah tenaga kerja dikurangi. Cara pandang seperti ini mungkin cukup ketika perubahan bisnis berjalan relatif lambat. Namun, kondisi dunia kerja saat ini menuntut pendekatan yang lebih strategis.

Perusahaan tidak cukup hanya mengetahui berapa orang yang dibutuhkan. Mereka juga harus memahami kompetensi apa yang dibutuhkan, kapan kompetensi tersebut diperlukan, serta bagaimana organisasi menyiapkan orang-orang yang mampu memenuhi kebutuhan tersebut.

Perubahan teknologi membuat kebutuhan kompetensi tenaga kerja ikut bergeser. Pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan banyak aktivitas administratif mulai terbantu oleh otomatisasi, sementara kemampuan seperti analisis data, literasi digital, kreativitas, pemecahan masalah, komunikasi, dan kemampuan beradaptasi semakin penting. Artinya, tantangan perusahaan bukan hanya kekurangan tenaga kerja, tetapi juga kemungkinan memiliki tenaga kerja yang jumlahnya cukup namun kompetensinya tidak lagi sesuai dengan kebutuhan bisnis.

Di sinilah perencanaan SDM perlu mengalami perubahan paradigma. Perusahaan harus mulai bergeser dari headcount planning menuju capability planning. Fokusnya bukan hanya “berapa orang yang kita punya?,” tetapi juga “kemampuan apa yang kita miliki dan kemampuan apa yang akan kita butuhkan?”

Pertanyaan tersebut menjadi semakin penting ketika perubahan bisnis berlangsung cepat. Kompetensi yang relevan hari ini belum tentu memiliki tingkat relevansi yang sama beberapa tahun ke depan.

Merekrut bukan selalu menjadi jawaban, ketika perusahaan menemukan kesenjangan kompetensi, solusi yang sering muncul adalah merekrut orang baru. Padahal, perekrutan bukan satu-satunya jalan.

Organisasi sebenarnya memiliki aset yang sudah berada di dalam perusahaan: karyawan yang telah memahami budaya, proses, pelanggan, dan cara kerja organisasi. Mereka dapat dikembangkan melalui upskilling dan reskilling. Upskilling memungkinkan karyawan meningkatkan kemampuan yang sudah dimiliki, sedangkan reskilling membantu mereka mempelajari kompetensi baru untuk menjalankan peran yang berbeda.

Pendekatan ini membuat perencanaan SDM tidak berhenti pada proses rekrutmen. Perusahaan perlu memikirkan siklus yang lebih panjang: memetakan kebutuhan kompetensi, mengidentifikasi kesenjangan, mengembangkan karyawan, mengevaluasi hasilnya, dan menyiapkan talent untuk kebutuhan masa depan.

Perencanaan SDM harus lebih adaptif, perencanaan SDM juga tidak seharusnya menjadi dokumen tahunan yang hanya dibuat untuk memenuhi kebutuhan administratif. Perencanaan tersebut perlu menjadi bagian dari strategi bisnis.

Ketika perusahaan ingin melakukan ekspansi, misalnya, pertanyaan SDM bukan hanya berapa karyawan yang harus ditambah. Perusahaan perlu mempertimbangkan kompetensi apa yang diperlukan, posisi mana yang paling kritis, apakah talenta internal dapat dikembangkan, dan bagaimana kebutuhan tersebut berubah jika strategi bisnis mengalami penyesuaian. Pendekatan seperti ini membuat fungsi SDM lebih dekat dengan pengambilan keputusan bisnis.

Teknologi juga dapat membantu proses tersebut. Data mengenai kinerja, kompetensi, kebutuhan tenaga kerja, turnover, hingga perkembangan karier dapat digunakan untuk membantu perusahaan membuat keputusan SDM yang lebih berbasis data. Namun, teknologi tetap bukan pengganti keputusan manusia. Data dapat menunjukkan pola, tetapi organisasi tetap membutuhkan pertimbangan manajerial untuk memahami konteks di balik angka tersebut.

Talenta hari ini adalah kebutuhan bisnis esok hari, pada akhirnya, perencanaan SDM bukan sekadar aktivitas untuk memastikan posisi yang kosong segera terisi. Perencanaan SDM merupakan cara perusahaan mempersiapkan manusia yang dibutuhkan untuk menjalankan strategi bisnis.

Perusahaan yang hanya bereaksi ketika kebutuhan tenaga kerja sudah muncul akan selalu berada dalam posisi mengejar. Sebaliknya, organisasi yang mampu mengantisipasi perubahan kompetensi dapat memiliki waktu lebih panjang untuk mengembangkan talent internal, melakukan perekrutan secara lebih tepat, dan menyiapkan calon pemimpin masa depan.

Dunia kerja akan terus berubah. Teknologi akan berkembang, model bisnis akan bergeser, dan kebutuhan kompetensi akan ikut bergerak. Karena itu, yang perlu dipertanyakan bukan apakah perencanaan SDM masih relevan, melainkan apakah cara kita melakukan perencanaan SDM masih sesuai dengan dunia kerja yang terus berubah.

Perencanaan SDM masa kini seharusnya tidak hanya menjawab kebutuhan tenaga kerja hari ini. Ia harus mampu membaca kebutuhan organisasi esok hari dan mempersiapkan manusia untuk menghadapinya.