Batulayang Membayar Takut dengan Keindahannya

Halo! Saya mahasiswi Jurnalistik di Politeknik Negeri Jakarta
Konten dari Pengguna
24 Mei 2022 19:02
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Salwa Rubia Darussalam tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Batulayang Membayar Takut dengan Keindahannya (5428)
zoom-in-whitePerbesar
Ujung Rimba Camp, Kota Bogor (Diambil oleh Salwa Rubia Darussalam)
ADVERTISEMENT
Masih kuingat, saat itu Jumat malam, kami santri pondok Mahasiswa Al-Faqih Mandiri serta dewan guru pergi berkesempatan untuk berlibur mengunjungi wisata di dataran tinggi Kota Bogor, tepatnya Desa Batulayang.
ADVERTISEMENT
Untuk sampai ke sana, kami berangkat menggunakan bus besar. Dan cukup membuat kami kapok serta harus berjuang ekstra melewati jalanan yang sempit dan terjal. Tiga jam perjalanan sangat terasa melelahkan, tidak ada keinginan lain dari kami kecuali beristirahat sesampainya di sana.
Kami sampai tepat pukul dua belas malam, dingin mulai menusuk tulang, itu yang kami rasakan setelah keluar dari bus.
Ujung Rimba Camp, nama tempat persinggahan untuk menghabiskan waktu libur kami. Letaknya berada di ketinggian Desa Batulayang, dengan beberapa fasilitas rumah panggung, kolam renang, lapangan, gazebo yang lumayan luas, dan tempat outbound untuk bermain.
Setelah berbaris untuk pendataan kamar, kami yang berjumlah lebih dari 50 orang mulai menyebar mencari kamar masing-masing. Kamar atau rumah panggung yang sudah tersedia sebagai tempat penginapan di sana cukup luas dan unik, ada beberapa kamar untuk lima orang juga yang berisikan untuk sepuluh orang.
ADVERTISEMENT
Kebetulan aku ditempatkan di kamar yang berisikan sepuluh orang, dinding kamarnya terbuat dari anyaman bambu tebal, pondasinya kuat karena terdiri dari besi panjang dilapisi bambu utuh yang tinggi.
Aku mengambil kasur paling ujung dari arah kanan pintu, dan langsung tidur dengan menutup seluruh tubuh dengan selimut yang sudah di sediakan di penginapan.
Suhu yang sejuk, itulah yang pertama kali kurasakan ketika pagi sudah menyapa hari, sekarang pukul tujuh, kulangkahkan kaki keluar dari kamar dan... Bum! Mata langsung disuguhkan oleh hamparan hijau serta gunung-gunung cantik yang menjulang sebagai pemandangan indah yang masuk ke dalam mata.
Melupakan bagaimana mabuk kepalangnya perjalanan kemari, aku tersenyum lebar, dan tidak berhenti kagum dengan apa yang sedang kulihat.
ADVERTISEMENT
Aku bergabung dengan teman-teman asrama yang tengah duduk-duduk di selasar gazebo di luar kamar. Meski seharusnya kami bergantian untuk mandi, agaknya rugi jika meninggalkan momentum matahari terbit di atas bukit ini. Sungguh, pemandangan yang sangat indah sekali untuk dilewatkan.
Tidak menyia-nyiakan hal itu, aku merogoh kantung jaket, mengambil ponsel dan mengarahkan kamera ke langit yang mulai terang hangat, cantik, cantik sekali.
Aku tersenyum lebar, pemandangan yang kunikmati rasanya tidak sebanding dengan ongkos yang kukeluarkan, ini terlampau menakjubkan. Berharap ketika lelah nanti, setidaknya dengan mengingat dan memandang foto di galeri membuatku lebih tenang seakan sedang berada di tempat sejuk dan indah ini lagi.
(Salwa Rubia Darussalam/Politeknik Negeri Jakarta)
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020