Konten dari Pengguna

Menangis Sebagai Jalan Pintas Menuju Kesehatan Batin

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari salwa nizar khoirunnisa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menangis Sebagai Jalan Pintas Menuju Kesehatan Batin
zoom-in-whitePerbesar

oleh :

Salwa Nizar Khoirunnisa

Program Studi Psikologi, Universitas Muhammadiyah Malang

KARYA SYAHRIL AMALIAH S.

Banyak di masa saat ini anak-anak, remaja, maupun dewasa, yang mengalami kecemasan, overthinking, takut, marah, depresi, sedih, kecewa, dan lelah. Buku menyembuhkan karya Syahril Amaliah S memberikan pandangan cukup dekat dengan apa yang terjadi pada setiap kehidupan manusia, dalam kehidupan sehari-hari kita sering terlalu keras dengan diri sendiri. Ketika menghadapi masalah dan kegagalan, kita sering menyalahkan diri sendiri atas apa yang terjadi dan membandingkan diri dengan orang lain, padahal tidak semua hal berjalan sesuai apa yang kita inginkan. Saya berpendapat dalam membaca buku ini salah satu pesan penting dalamnya mengajarkan kepada pembaca untuk menerima keadaan tanpa harus kehilangan keinginan dalam berkembang. Menerima diri sendiri bukan berarti menyerah atau membiarkan kesalahan dan kegagalan terus terjadi, melainkan belajar untuk memahami kekurangan dan memperbaikinya tanpa terus-menerus menyalahkan diri sendiri. Hal ini penting karena, setiap orang mempunya pengalaman, perjalanan, proses dan kemampuan masing-masing. Pandangan tersebut diperkuat oleh penelitian Febriyani, Hastuti, dan Khairina (2021) mengenai welas diri (self-compassion) pada mahasiswa. Penelitian tersebut melibatkan 69 mahasiswa dan menemukan bahwa 22 mahasiswa atau 32% memiliki welas diri, sedangkan 47 mahasiswa atau 68% menunjukkan tingkat welas diri yang lebih rendah. Hasil tersebut menggambarkan bahwa menerima diri ketika mengalami kegagalan bukanlah hal yang mudah bagi semua orang. Menurut saya temuan ini sejalan dengan apa yang dibahas dalam buku ini, yaitu pentingnya memperlakukan diri sendiri dengan sebaik mungkin ketika menghadapi masalah dan kesulitan. Seseorang boleh merasa sedih, kecewa, lelah, marah, dan takut, tetapi perasaan tersebut tidak boleh menjadikan diri seseorang menjadi tidak berharga. Dengan belajar menerima diri sendiri, kita dapat melihat kegagalan sebagai pengalaman untuk memperbaiki diri, bukan sebagai bukti bahwa kita tidak mampu dalam menghadapi kehidupan.

Menurut saya buku ini sangat relevan dengan mahasiswa, karena masa perkuliahan seringkali adanya tuntutan yang tidak sederhana. Mahasiswa harus memahami materi, menyelesaikan tugas, memperoleh nilai bagus, menjaga hubungan dengan orang lain, dan masa depan. Ditengah kejadian tersebut membandingkan diri dengan teman menjadi kebiasaan yang sulit dihindari. Ketika melihat teman memperoleh nilai tinggi, memenangkan perlombaan, atau memiliki pencapaian tertentu, seseorang merasa tertinggal. Padahal, kita tidak mengetahui kesulitan yang mereka alami ataupun perjuangan yang dilakukan. Menurut opini saya, buku ini mengingkatkan bahwa setiap orang mempunyai perjalanan masing-masing yang berbeda sehingga kita perlu meghargai proses diri sendiri. Sebagai contoh, mahasiswa yang mendapatkan nilai rendah tidak seharusnya menganggap dirinya bodoh atau gagal. Ia dapat mengevaluasi cara belajar, berdiskusi dengan teman, bertanya kepada dosen, dan mecoba memperbaikinya pada kesempatan berikutnya. Selain, menerima diri sendiri, saya juga menilai bahwa seseorang perlu belajar memaafkan dirinya sendiri atas kesalahan yang pernah dilakukan. Larasati dan Widyastuti (2020), melalui penelitian berjudul Pengembangan Skala Pemaafan Diri (Self-forgiveness), membahas pentingnya pemaafan diri sebagai konsep yang berkaitan dengan kesejahteraan psikologis. Penelitian tersebut mengembangkan alat ukur pemaafan diri yang mencakup dimensi mengakui tanggung jawab dan memperbarui diri. Memaafkan diri sendiri bukan berarti melupakan kesalahan, melainkan memperbaiki dan mengakui atas apa yang terjadi dan berusaha untuk menjadi yang lebih baik. Dalam kehidupan mahasiswa hal tersebut dapat diterapkan ketika seseorang mengalami penyesalan dalam keputusan, melakukan kesalahan dalam pertemanan, atau merasa belum mencapai target dalam akademik. Ia hanya perlu bertanggung jawab, tidak menghukum dirinya sendiri dengan penyesalan yang begitu lama. Dengan, demikian pesan buku ini dapat membantu pembaca memahami bahwa menghargai diri sendiri dan memperbaiki diri merupakan dua hal yang dapat berjalan dengan bersama.

Dalam sudut pandang saya, kelebihan buku Menyembuhkan Luka terletak pada penggunaan Bahasa yang sederhana dan pesan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Penulis membahas seperti kekecewaan, rasa tidak percaya diri, kegagalan, dan kebiasaan membandingkan diri sendiri dengan orang lain melalui pendekatan yang mudah untuk dipahami. Hal tersebut membuat buku ini cocok dibaca bagi yang ingin melakukan refleksi diri tanpa harus menghadapi persoalan yang sulit. Saya juga menghargai pesan bahwa seseorang tidak harus selalu kuat dalam setiap kondisi, adakalanya kita membutuhkan waktu untuk beristirahat, memahami perasaan, dan Menyusun Kembali Langkah yang akan diambil. Namun, menurut saya buku ini mempunyai kekurangan, beberapa pembahasan mengenai tentang bersyukur, menerima keadaan, dan menghargai diri sendiri terasa berulang dalam penjelasan. Salain itu, pembahasan akan menarik apabila adanya contoh kasus yang beragam, Latihan refleksi, atau Langkah praktis Ketika mengahadapi masalah dan kegagalan. Saya juga berpendapat bahwa pesan motivasi dalam buku ini perlu dipahami dengan bijaksana. Tidak semua persoalan seperti kegagalan dan masalah dapat diselesaikan dalam berpikir positf atau menerima keadaan, karena sebagian masalah memperlukan dukungan dan bantuan orang terdekat atau professional. Maka dari itu buku ini hanya dapat dijadikan sebagai teman Ketika menghadapi suatu masalah atau kegagalan, bukan sebagai cara untuk menghadapi semua masalah. Secara keseluruham buku ini dapat dibaca khususnya oleh mahasiswa atau pun semua orang, yang sedang berusaha untuk berdamai dengan kehidupan yang sedang dialami. Pelajaran yang paling bermakna bagi saya adalah tidak semuanya harus sempurna untuk menghargai diri sendiri. Kita boleh memiliki kekurangan, pernah melakukan kesalahan, dan mengalami kegagalan. Pada akhirnya menyembuhkan luka batin bukan berarti menghapus semua kesalahan pahit, melainkan belajar untuk menerima apa yang telah terjadi, mengambil pelajarannya, dan melanjutkan kehidupan dengan lebih baik dan bijaksana.

Daftar Pustaka

Febriyani, D., Hastuti, E. S., & Khairina, N. (2021). Gambaran self compassion: Bagaimana mahasiswa menerima dirinya ketika berada dalam keadaan yang terpuruk? In Search, 20(1). https://doi.org/10.37278/insearch.v21i1.1043

Larasati, D. A., & Widyastuti, T. (2020). Pengembangan skala pemaafan diri (self-forgiveness). Acta Psychologia, 2(1), 80–90. https://doi.org/10.21831/ap.v1i1.34121