Menyembuhkan Luka

saat ini saya seorang mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di Universitas Muhammadiyah Malang denga Fakultas Psikologi dan saya aktif di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari salwa nizar khoirunnisa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Menyembuhkan Luka: Seni Memaafkan Diri dan Memulihkan Luka yang Tak Terlihat

Penulis: Syahril Amaliah
Penerbit: Anak Hebat Indonesia, Yogyakarta
Cetakan: Pertama, 2025
Tebal buku: X + 160 halaman
Genre: Self-improvement
Peresensi: Salwa Nizar Khoirunnisa/029
Buku Menyembuhkan Luka karya Syahril Amaliah membahas tentang bagaimana seseorang menghadapi perasaan sedih, kekecewaan, kecemasan, dan berbagai persoalan yang dapat memengaruhi kondisi batin. Buku ini mengajak pembaca untuk memahami bahwa mengalami masa sulit merupakan bagian dari kehidupan. Seseorang tidak harus selalu terlihat kuat atau berpura-pura baik-baik saja ketika sedang menghadapi masalah.
Menurut saya, salah satu hal yang menarik dari buku ini adalah cara penulis menyampaikan pesannya dengan bahasa yang sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pembaca seolah diajak berbicara secara langsung mengenai perasaan yang terkadang sulit dijelaskan kepada orang lain. Oleh karena itu, buku ini dapat menjadi bahan renungan bagi orang-orang yang sedang berusaha memahami diri sendiri dan menerima keadaan yang tidak sesuai dengan harapan.
Buku ini juga mengingatkan pembaca agar tidak terus-menerus menyalahkan diri sendiri ketika mengalami kegagalan. Kehidupan setiap orang memiliki perjalanan yang berbeda. Apa yang berhasil dicapai orang lain tidak seharusnya menjadi ukuran mutlak untuk menilai keberhasilan diri sendiri.
Dalam kehidupan, ada kalanya seseorang merasa bahwa segala usaha yang telah dilakukan belum memberikan hasil seperti yang diharapkan. Perasaan tersebut dapat menimbulkan berbagai pertanyaan, seperti mengapa hidup terasa sulit, mengapa orang lain tampak lebih berhasil, atau mengapa keadaan yang dihadapi tidak sesuai dengan rencana. Ketika pikiran-pikiran tersebut terus muncul, seseorang bisa merasa kecewa, kehilangan semangat, bahkan meragukan kemampuan dirinya sendiri.
Melalui pembahasan dalam buku ini, pembaca diajak untuk melihat persoalan hidup dari sudut pandang yang lebih luas. Kegagalan bukan berarti seseorang tidak memiliki kemampuan, begitu pula keterlambatan dalam mencapai sesuatu tidak berarti bahwa dirinya telah tertinggal selamanya. Setiap orang mempunyai keadaan, kesempatan, dan proses yang berbeda. Karena itu, membandingkan perjalanan hidup sendiri dengan pencapaian orang lain secara terus-menerus justru dapat membuat seseorang sulit menghargai apa yang sudah dimilikinya.
Hal lain yang menjadi perhatian dalam buku ini adalah pentingnya menerima perasaan yang sedang dialami. Menangis, merasa lelah, atau membutuhkan waktu untuk menyendiri tidak selalu menunjukkan kelemahan. Terkadang, seseorang membutuhkan waktu untuk memahami apa yang sebenarnya sedang dirasakan sebelum kembali menghadapi berbagai tuntutan kehidupan.
Menurut saya, pesan ini cukup dekat dengan kehidupan mahasiswa. Tugas kuliah, tuntutan keluarga, persoalan pertemanan, serta kekhawatiran mengenai masa depan dapat membuat seseorang merasa terbebani. Dalam keadaan seperti itu, seseorang mungkin melihat pencapaian teman-temannya dan mulai mempertanyakan kemampuan dirinya sendiri. Padahal, setiap mahasiswa memiliki kondisi dan tantangan yang tidak selalu terlihat oleh orang lain.
Buku ini juga menekankan pentingnya berhenti sejenak untuk melakukan introspeksi. Ketika sesuatu berjalan tidak sesuai rencana, seseorang perlu mengevaluasi keadaan tanpa harus terus-menerus menghukum dirinya sendiri. Mengakui kekurangan memang penting, tetapi hal tersebut seharusnya menjadi kesempatan untuk belajar, bukan alasan untuk menganggap diri tidak berharga.
Selain itu, penulis mengajak pembaca untuk lebih bersyukur dan tidak menggantungkan kebahagiaan sepenuhnya pada pencapaian tertentu. Keinginan untuk menjadi lebih baik merupakan hal yang wajar. Namun, jika semua hal harus berjalan sesuai harapan, seseorang dapat kehilangan kesempatan untuk menikmati proses yang sedang dijalani. Oleh sebab itu, menerima kenyataan, berusaha memperbaiki diri, dan tetap memiliki harapan merupakan bagian penting dalam menjalani kehidupan.
Dalam buku ini juga terdapat sudut pandang spiritual yang mengajak pembaca untuk percaya bahwa kehidupan memiliki proses yang tidak selalu dapat dipahami pada saat itu juga. Bagi pembaca yang memiliki keyakinan kepada Tuhan, pandangan tersebut dapat menjadi sumber penguatan ketika menghadapi keadaan yang sulit. Meskipun demikian, menerima keadaan bukan berarti berhenti berusaha. Seseorang tetap perlu mengambil tindakan yang sesuai dengan kemampuannya untuk memperbaiki kehidupan.
Secara keseluruhan, makna yang saya tangkap dari buku ini adalah bahwa memulihkan luka batin membutuhkan proses. Seseorang perlu belajar menerima perasaannya, memahami keterbatasan diri, mengurangi kebiasaan membandingkan hidup dengan orang lain, dan memberikan kesempatan kepada dirinya sendiri untuk berkembang.
Salah satu kelebihan buku Menyembuhkan Luka adalah penggunaan bahasa yang relatif ringan sehingga pesan yang disampaikan mudah dipahami. Penulis membahas persoalan emosional dengan pendekatan yang dekat dengan pengalaman sehari-hari. Hal tersebut membuat pembaca lebih mudah menghubungkan isi buku dengan situasi yang mungkin pernah dialaminya.
Kelebihan lainnya terletak pada pesan yang mendorong pembaca untuk lebih menghargai diri sendiri. Buku ini mengingatkan bahwa setiap orang memiliki proses kehidupan yang berbeda dan tidak perlu selalu mengukur keberhasilannya berdasarkan pencapaian orang lain. Pesan tersebut relevan bagi pembaca yang sedang menghadapi tekanan sosial, merasa kurang percaya diri, atau terlalu memikirkan penilaian orang lain.
Buku ini juga memberikan ruang bagi pembaca untuk melakukan introspeksi. Pembahasannya tidak hanya berkaitan dengan cara menghadapi kesedihan, tetapi juga mengajak pembaca memikirkan kembali harapan, cara memandang kegagalan, dan sikap terhadap kehidupan. Dengan demikian, buku ini dapat digunakan sebagai bahan renungan untuk memahami diri sendiri dengan lebih baik.
Di samping kelebihannya, buku ini memiliki beberapa kekurangan. Salah satunya adalah adanya pembahasan yang terasa berulang, terutama mengenai pentingnya bersyukur, menerima keadaan, dan tidak membandingkan diri dengan orang lain. Pengulangan tersebut dapat membantu mempertegas pesan penulis, tetapi bagi sebagian pembaca, hal itu mungkin membuat isi buku terasa kurang bervariasi.
Selain itu, berdasarkan pembahasan yang saya ulas, buku ini juga terasa akan lebih menarik apabila dilengkapi dengan ilustrasi, contoh kasus, atau latihan refleksi yang lebih beragam. Kehadiran unsur tersebut dapat membantu pembaca memahami bagaimana menerapkan pesan buku dalam kehidupan sehari-hari.
Buku ini juga lebih banyak memberikan dorongan motivasional dan bahan renungan. Oleh karena itu, pembaca yang mengharapkan pembahasan mendalam mengenai penyebab masalah psikologis atau langkah-langkah penanganan yang terstruktur mungkin perlu mencari sumber tambahan. Pesan motivasi dalam buku ini dapat menjadi pendamping refleksi diri, tetapi tidak selalu cukup untuk menyelesaikan setiap persoalan yang dialami seseorang.
Menurut saya, Menyembuhkan Luka karya Syahril Amaliah merupakan buku pengembangan diri yang mengajak pembaca untuk lebih memahami dan menerima dirinya sendiri. Buku ini mengingatkan bahwa kehidupan tidak selalu berjalan sesuai dengan rencana dan bahwa setiap orang mempunyai perjalanan yang berbeda. Karena itu, kegagalan maupun keterlambatan dalam mencapai tujuan tidak seharusnya menjadi alasan untuk terus merendahkan diri sendiri.
Hal yang paling saya maknai dari buku ini adalah pentingnya memberikan kesempatan kepada diri sendiri untuk beristirahat, mengevaluasi keadaan, dan kembali melangkah tanpa harus selalu membandingkan pencapaian dengan orang lain. Menurut saya, seseorang tidak harus menyelesaikan seluruh persoalannya sekaligus. Ada kalanya langkah kecil untuk memahami diri sendiri menjadi awal dari perubahan yang lebih baik.
Buku ini layak dibaca oleh orang-orang yang ingin melakukan refleksi diri, terutama ketika sedang merasa kehilangan semangat atau mengalami kekecewaan terhadap keadaan. Bahasa yang sederhana membuat pesannya mudah diikuti, meskipun beberapa pembahasan yang berulang dapat mengurangi variasi bacaan.
Pada akhirnya, buku ini mengajak pembaca untuk memahami bahwa menghargai diri sendiri bukan berarti mengabaikan kekurangan. Sebaliknya, kita perlu mengakui kekurangan tanpa kehilangan keyakinan bahwa diri kita masih dapat berkembang. Dengan menerima keadaan, belajar dari pengalaman, dan tetap berusaha, kita dapat menjalani proses kehidupan dengan sikap yang lebih bijaksana.
Oleh:
Salwa Nizar Khoirunnisa, Program Studi Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang
