Era AI Telah Tiba: Apakah Gen Z Masih Punya Peluang?

Dosen Manajemen Universitas Pamulang Ketua Bidang Eksternal Komunitas 1001buku
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Syamsul Anwar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bonus demografi selama ini sering diposisikan sebagai salah satu aset strategis Indonesia untuk mencapai kemajuan ekonomi. Dominasi penduduk usia produktif diyakini mampu menjadi motor penggerak pertumbuhan apabila didukung oleh kualitas sumber daya manusia yang memadai.
Akan tetapi, di tengah harapan tersebut, perkembangan Artificial Intelligence (AI) memunculkan tantangan baru yang perlu mendapat perhatian serius. Teknologi yang semula berfungsi sebagai alat pendukung pekerjaan kini mulai memengaruhi cara manusia berpikir, belajar, dan bekerja, khususnya bagi generasi muda yang akan mendominasi pasar tenaga kerja pada masa mendatang.
Sebagai generasi yang lahir dan berkembang di era digital, Generasi Z (Gen Z) memiliki tingkat kedekatan yang sangat tinggi dengan teknologi, termasuk berbagai aplikasi berbasis AI. Kemudahan yang ditawarkan teknologi tersebut memang mampu meningkatkan efisiensi dalam menyelesaikan berbagai aktivitas.
Namun, di balik manfaatnya, muncul kecenderungan meningkatnya ketergantungan terhadap AI dalam menyelesaikan tugas-tugas yang sebelumnya mengandalkan kemampuan berpikir manusia. Laporan "GoTo Pulse of Work 2026" menunjukkan bahwa sekitar setengah pekerja di dunia mengaku sangat bergantung pada AI dalam menjalankan pekerjaannya.
Bahkan, sekitar tiga dari sepuluh responden merasa produktivitas mereka menurun ketika akses terhadap AI tidak tersedia. Kondisi yang lebih mengkhawatirkan terlihat pada kelompok Gen Z, di mana hampir separuh responden menyadari bahwa penggunaan AI secara terus-menerus membuat kemampuan berpikir mereka mengalami penurunan. Meski demikian, tuntutan produktivitas menyebabkan mereka tetap menggunakan teknologi tersebut secara intensif.
Fenomena tersebut dikenal sebagai cognitive offloading, yaitu kecenderungan memindahkan sebagian proses berpikir kepada teknologi sehingga individu semakin jarang melatih kemampuan analisis, evaluasi, maupun penyelesaian masalah secara mandiri.
Temuan Gerlich (2025) memperkuat fenomena tersebut dengan menunjukkan bahwa kelompok usia 17-25 tahun merupakan pengguna AI yang paling bergantung sekaligus memiliki tingkat kemampuan berpikir kritis yang lebih rendah dibandingkan kelompok usia lainnya.
Meskipun mereka cukup terampil dalam menyusun prompt yang efektif, kemampuan untuk melakukan penalaran mendalam dan mengambil keputusan secara independen masih menjadi tantangan yang cukup besar.
Perkembangan AI juga membawa perubahan signifikan terhadap dinamika pasar tenaga kerja. Berbagai pekerjaan tingkat awal yang selama ini menjadi pintu masuk bagi lulusan baru mulai tergantikan oleh sistem otomatis berbasis AI.
Berdasarkan data McKinsey tahun 2026, lebih dari separuh organisasi di berbagai negara telah mengurangi jumlah posisi entry-level karena implementasi Generative AI dinilai mampu meningkatkan efisiensi sekaligus menekan biaya operasional perusahaan.
Arah perubahan tersebut selaras dengan proyeksi "Future of Jobs Report 2025" yang diterbitkan World Economic Forum. Laporan tersebut memperkirakan bahwa sejumlah pekerjaan administratif dan posisi perkantoran tingkat awal akan terus mengalami penurunan permintaan akibat meningkatnya otomatisasi. Profesi seperti staf administrasi, analis data junior, desainer grafis pemula, hingga sekretaris legal termasuk di antara pekerjaan yang paling rentan terdampak.
Dari perspektif perusahaan, penggunaan AI dipandang sebagai investasi yang mampu meningkatkan produktivitas sekaligus menghasilkan efisiensi biaya. Oleh karena itu, tidak sedikit organisasi yang memilih memperluas pemanfaatan AI dibandingkan menambah jumlah tenaga kerja baru.
Meskipun demikian, orientasi terhadap efisiensi tidak selalu memberikan manfaat berkelanjutan. Posisi entry-level memiliki fungsi yang jauh lebih penting daripada sekadar memenuhi kebutuhan operasional perusahaan. Tahap ini merupakan proses pembelajaran yang memungkinkan tenaga kerja muda memperoleh pengalaman praktis, memahami budaya organisasi, serta mengembangkan kompetensi profesional melalui bimbingan dari rekan kerja yang lebih berpengalaman.
Berbagai pengalaman, seperti menyusun laporan, menerima umpan balik dari atasan, maupun menghadapi tantangan pekerjaan sehari-hari, menjadi bagian penting dalam membentuk kemampuan teknis, kedisiplinan, adaptabilitas, serta kematangan profesional seseorang.
Apabila tugas-tugas dasar tersebut semakin banyak dialihkan kepada AI, kesempatan belajar yang selama ini menjadi fondasi pengembangan sumber daya manusia akan semakin menyempit. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut berpotensi memperlambat proses pengembangan karier generasi muda, menurunkan keterikatan terhadap organisasi, bahkan memperbesar risiko munculnya fenomena quiet quitting.
Oleh karena itu, pemanfaatan AI seharusnya tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan efisiensi, tetapi juga dirancang agar tetap memberikan ruang bagi manusia untuk mengembangkan kemampuan berpikir, belajar, dan berinovasi. Dengan demikian, bonus demografi Indonesia dapat benar-benar menjadi kekuatan strategis dalam menghadapi persaingan global di era transformasi digital.
