Konten dari Pengguna

KPR 40 Tahun: Jalan Gen Z Punya Rumah atau Cicilan Seumur Hidup?

Samrotul Fuadhah

Samrotul Fuadhah

Mahasiswa Universitas Pamulang

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Samrotul Fuadhah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber Foto:https://id.pngtree.com/freebackground/a-hand-holding-key-and-house-against-warm-golden-sunset-background-symbolizing-new-home-or-real-estate-success_16110847.html
zoom-in-whitePerbesar
Sumber Foto:https://id.pngtree.com/freebackground/a-hand-holding-key-and-house-against-warm-golden-sunset-background-symbolizing-new-home-or-real-estate-success_16110847.html

Belakangan lagi ramai soal KPR tenor 40 tahun. Alasannya masuk akal sih: harga rumah makin tinggi, gaji anak muda naiknya pelan, jadi tenornya dipanjangkan supaya cicilan per bulan lebih kecil. Saya sendiri belum punya rumah, dan jujur waktu pertama dengar saya sempat mikir "oke juga". Tapi setelah dicoba dihitung, ternyata tidak sesederhana itu.

Saya coba hitung pakai pinjaman Rp300 juta dengan bunga 9% per tahun, anggap saja tetap. Kalau 20 tahun, cicilannya sekitar Rp2,7 juta per bulan dan total yang dibayar sekitar Rp648 juta. Kalau 40 tahun, cicilannya Rp2,3 juta, tapi totalnya jadi sekitar Rp1,1 miliar. Jadi yang kita hemat cuma sekitar Rp385 ribu sebulan, sementara bunga yang harus dibayar nambah lebih dari Rp460 juta. Rumah Rp300 juta ujungnya dibayar hampir Rp1,1 miliar.

Buat bank pun ini tidak sepenuhnya aman. Kebanyakan Gen Z baru mulai kerja, banyak yang masih kontrak atau freelance, jadi penghasilannya belum tentu stabil. Cicilan baru lunas di umur 65-an, dan selama 40 tahun itu bisa saja terjadi PHK, sakit, atau bunga naik setelah masa bunga tetap selesai. Kalau sampai macet, bank punya kredit bermasalah (NPL) dan debiturnya bisa kehilangan rumah.

Menurut saya, KPR 40 tahun boleh saja ada sebagai pilihan, tapi jangan dianggap jawaban dari masalah harga rumah. Yang bikin Gen Z susah beli rumah itu harganya yang kemahalan dibanding gaji, dan itu tidak berubah hanya karena tenornya diperpanjang. Kalau memang mau ambil, saran saya cicilan jangan lebih dari sepertiga gaji, siapkan uang muka yang cukup, dan usahakan lunas lebih cepat. Kalau tidak, nanti kita cuma punya rumah di atas kertas, sambil nyicil sampai pensiun.

Sumber Foto:https://id.pngtree.com/freebackground/a-hand-holding-key-and-house-against-warm-golden-sunset-background-symbolizing-new-home-or-real-estate-success_16110847.html