Lima Kemampuan yang Perlu Dikuasai Humas Sekolah Muhammadiyah di Era Digital

Pendidik dan penulis yang senang mengabadikan cerita dari ruang kelas, masyarakat, dan lingkungan sekitar. (MTs Muhammadiyah 2 Kedungadem)
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Samsul Arifin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perkembangan media digital mengubah cara sekolah berkomunikasi dengan masyarakat. Informasi tentang prestasi siswa, program pendidikan, kegiatan sekolah, hingga kontribusi sosial kini dapat disebarluaskan melalui berbagai platform. Namun, kemudahan publikasi tersebut juga menuntut pengelola hubungan masyarakat (humas) sekolah memiliki keterampilan jurnalistik dan pemahaman etika komunikasi.
Bagi sekolah Muhammadiyah, humas bukan sekadar bagian yang mendokumentasikan kegiatan atau mengunggah foto ke media sosial. Humas juga berperan menyampaikan informasi yang benar, memperkenalkan praktik baik pendidikan, dan membangun kepercayaan masyarakat melalui komunikasi yang bertanggung jawab.
Hal tersebut menjadi salah satu pokok pembahasan dalam kegiatan Akademi Jurnalis Muhammadiyah (AJM) yang diselenggarakan Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Aula Gedung Madina, Pesantren Entrepreneur Muhammadiyah (PEM) Gondanglegi, Kabupaten Malang, pada 10–11 Oktober 2026.
Dalam kegiatan tersebut, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. H. Dadang Kahmad, M.Si., menekankan pentingnya kemampuan jurnalistik dan pengelolaan media bagi pengelola informasi di lingkungan Muhammadiyah.
Dari pembahasan tersebut, ada lima kemampuan yang relevan untuk dikembangkan oleh humas sekolah Muhammadiyah agar mampu menghadapi tantangan komunikasi di era digital.
1. Menulis berita secara akurat dan menarik
Kemampuan pertama adalah menulis informasi secara jelas, akurat, dan menarik. Humas sekolah perlu mampu mengolah kegiatan sehari-hari menjadi informasi yang memiliki nilai bagi pembaca.
Prestasi siswa, inovasi pembelajaran, kegiatan keagamaan, program kepedulian sosial, dan kiprah guru dapat menjadi bahan publikasi. Namun, informasi tersebut perlu disajikan dengan sudut pandang yang jelas, bahasa yang mudah dipahami, serta data yang dapat diperiksa.
Berita sekolah tidak harus selalu dimulai dengan pujian atau kata-kata bombastis. Informasi tentang siapa yang melakukan kegiatan, apa yang dicapai, kapan dan di mana kegiatan berlangsung, serta bagaimana manfaatnya bagi masyarakat justru membantu pembaca memahami nilai sebuah peristiwa.
Dengan keterampilan jurnalistik yang baik, humas dapat menyampaikan informasi secara profesional tanpa mengurangi kejujuran dan ketepatan fakta.
2. Memanfaatkan media digital secara bertanggung jawab
Kemampuan kedua adalah memanfaatkan media digital dan media sosial secara efektif. Humas sekolah perlu memahami karakter setiap platform, menentukan sasaran pembaca, dan menyesuaikan bentuk konten dengan kebutuhan komunikasi.
Foto, video pendek, artikel berita, infografik, dan siaran informasi dapat digunakan untuk memperluas jangkauan publikasi. Akan tetapi, banyaknya konten yang diunggah bukan satu-satunya ukuran keberhasilan komunikasi.
Hal yang tidak kalah penting adalah memastikan informasi dapat dipahami dan dipercaya. Kecepatan mengunggah kabar tidak boleh mengalahkan proses pemeriksaan fakta. Humas juga perlu memperhatikan privasi siswa, izin penggunaan foto, serta etika dalam menampilkan anak di ruang digital.
Media digital seharusnya menjadi sarana untuk menyampaikan informasi yang bermanfaat, bukan sekadar mengejar jumlah penonton atau interaksi.
3. Membangun citra sekolah berdasarkan fakta
Kemampuan ketiga adalah membangun citra institusi melalui prestasi, kualitas program, dan integritas. Citra positif sekolah tidak cukup dibentuk melalui slogan atau promosi, tetapi perlu ditopang oleh kenyataan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Dalam pemaparannya, Dadang menekankan bahwa pencitraan lembaga harus berdasarkan data dan realitas. Ia menyatakan, “Branding, informasi yang dikeluarkan, haruslah lahir dari realitas, bukan narasi yang dibuat-buat, narasi yang bombastis tetapi kosong, tetapi harus berdasarkan data.”
Pesan tersebut relevan bagi humas sekolah. Publikasi mengenai keberhasilan siswa, misalnya, perlu mencantumkan nama kompetisi, tingkat perlombaan, dan hasil yang benar-benar diraih. Begitu pula ketika sekolah menyampaikan program unggulan, informasi sebaiknya dilengkapi penjelasan mengenai pelaksanaan dan manfaatnya.
Dengan demikian, branding bukan sekadar usaha membuat sekolah terlihat menarik. Branding juga merupakan upaya menunjukkan identitas dan kualitas lembaga secara jujur kepada masyarakat.
4. Menjadikan media sebagai sarana dakwah dan pendidikan
Kemampuan keempat adalah mengembangkan media sebagai sarana dakwah yang mencerahkan dan mencerdaskan. Bagi sekolah Muhammadiyah, publikasi dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan nilai keislaman, semangat pendidikan, dan kegiatan yang membawa manfaat bagi lingkungan sekitar.
Dakwah melalui media tidak harus selalu berbentuk ceramah atau tulisan keagamaan. Kisah guru yang berinovasi, siswa yang berprestasi, kegiatan membantu masyarakat, serta praktik pembelajaran yang inspiratif juga dapat menyampaikan nilai-nilai kebaikan.
Konten semacam itu membantu masyarakat melihat pendidikan sebagai proses membangun pengetahuan sekaligus karakter. Pesan dakwah pun dapat disampaikan melalui karya jurnalistik yang informatif, santun, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Karena itu, humas sekolah perlu memikirkan bukan hanya informasi apa yang ingin disampaikan, tetapi juga manfaat apa yang dapat diperoleh pembaca.
5. Memeriksa informasi dan melawan hoaks
Kemampuan kelima adalah melakukan verifikasi informasi serta menghadapi hoaks dan disinformasi. Di tengah derasnya arus informasi, kabar yang belum jelas kebenarannya dapat dengan mudah menyebar melalui grup percakapan maupun media sosial.
Humas sekolah perlu membiasakan diri memeriksa sumber, tanggal, konteks, dan bukti pendukung sebelum menerbitkan atau membagikan suatu informasi. Jika kabar menyangkut pihak tertentu, konfirmasi juga perlu dilakukan agar publikasi tidak menimbulkan kesalahpahaman.
Prinsip tabayun dalam Surah Al-Hujurat ayat 6 memberikan pengingat tentang pentingnya memeriksa berita sebelum mengambil tindakan berdasarkan informasi tersebut.
Dadang juga menekankan pentingnya menghadapi hoaks dengan menghadirkan informasi yang benar dan bermanfaat bagi masyarakat. Artinya, upaya meluruskan informasi tidak cukup dilakukan dengan menyalahkan pihak lain. Humas perlu menyajikan fakta yang jelas, menggunakan bahasa yang baik, dan memberikan konteks yang memadai.
Sikap tersebut membantu sekolah menjaga kualitas komunikasi sekaligus membangun kebiasaan bermedia yang lebih bertanggung jawab.
Humas profesional dimulai dari kebiasaan yang konsisten
Lima kemampuan tersebut saling berkaitan. Keterampilan menulis membantu humas menyampaikan informasi, pemanfaatan media digital memperluas jangkauan, branding berbasis fakta menjaga kredibilitas, dakwah melalui media menghadirkan manfaat, sedangkan verifikasi melindungi publik dari informasi yang keliru.
Pengembangan kemampuan itu tidak harus dimulai dengan peralatan canggih atau tim yang besar. Sekolah dapat memulainya melalui kebiasaan sederhana: membuat catatan kegiatan yang lengkap, menyimpan data prestasi secara tertib, memeriksa informasi sebelum diunggah, meminta persetujuan penggunaan foto, dan mengevaluasi kualitas publikasi secara berkala.
Pada akhirnya, keberhasilan humas sekolah Muhammadiyah tidak hanya diukur dari seberapa sering sekolah muncul di media. Hal yang lebih penting adalah apakah informasi yang disampaikan akurat, bermanfaat, dan mampu membantu masyarakat memahami kontribusi sekolah.
Di era digital, kepercayaan publik dibangun melalui komunikasi yang konsisten dan dapat dipertanggungjawabkan. Dengan keterampilan jurnalistik, etika bermedia, dan komitmen terhadap kebenaran, humas sekolah dapat menjadi penghubung yang efektif antara lembaga pendidikan dan masyarakat.
