Pemberdayaan Ekonomi Lokal melalui Digitalisasi UMKM M.J Home Made Bakery

Samsul arifin adalah seorang dosen di fakultas hukum universitas muhammadiyah surabaya
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Samsul Arifin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan oleh dosen dan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSurabaya) melalui program BIMA Skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat, yang merupakan bagian dari Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Program ini dirancang untuk memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, khususnya pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), melalui pendampingan, pelatihan, serta penerapan inovasi berbasis teknologi.
Berdasarkan data resmi dari Satuan Data Pemerintah Kabupaten Pamekasan, tercatat bahwa Kecamatan Pakong memiliki sekitar 6.923 UMKM. Meskipun jumlahnya besar, keberadaan UMKM tersebut belum mampu memberikan dampak signifikan terhadap penurunan angka kemiskinan. Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa pada tahun 2024, angka kemiskinan di Kabupaten Pamekasan masih berada di angka 13,41%, hanya turun tipis sebesar 0,35% dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 13,85%. Fakta ini menunjukkan bahwa peran UMKM yang sejatinya strategis belum sepenuhnya optimal dalam memberikan kontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat. Padahal, UMKM memiliki fungsi penting, antara lain memperluas kesempatan kerja, menyediakan layanan ekonomi bagi masyarakat luas, berkontribusi pada pemerataan pendapatan, mendorong pembangunan ekonomi lokal, serta menjadi penopang stabilitas nasional.
Dalam konteks izin usaha, pihak kecamatan bersama pemerintah desa telah berperan aktif mendampingi pelaku UMKM, baik dalam hal edukasi maupun proses pengurusan izin usaha. Langkah ini penting agar UMKM memiliki legalitas yang jelas sekaligus meningkatkan kredibilitas usaha mereka di mata konsumen maupun mitra bisnis. Namun, agar UMKM benar-benar bisa berkembang pesat, diperlukan lebih dari sekadar legalitas; mereka membutuhkan peningkatan kapasitas produksi, strategi pemasaran yang tepat, serta kemampuan membangun brand awareness agar dapat bersaing di pasar yang semakin kompetitif.
Salah satu mitra dalam kegiatan ini adalah M.J Home Made Bakery, sebuah UMKM yang berlokasi di Desa Seddur, Kecamatan Pakong, Pamekasan. Usaha ini bergerak di bidang produksi roti dan kue, yang merupakan salah satu jenis usaha dengan potensi besar karena permintaan pasar terhadap produk roti dan kue relatif stabil dan terus meningkat. Namun, M.J Home Made Bakery menghadapi sejumlah permasalahan prioritas yang menghambat perkembangan usahanya. Pertama, aspek produksi masih terkendala karena penggunaan peralatan konvensional dan proses manual. Hal ini menyebabkan efisiensi rendah, beban tenaga kerja tinggi, dan kapasitas produksi terbatas. Dampaknya, pemenuhan permintaan pasar sering mengalami keterlambatan, sehingga menghambat pertumbuhan usaha. Kedua, aspek pemasaran masih terbatas pada penjualan langsung di pasar tradisional dan pesanan melalui WhatsApp. Pemanfaatan media sosial maupun promosi digital belum berjalan optimal, sehingga jangkauan pasar masih sempit dan pertumbuhan pelanggan baru berjalan lambat. Ketiga, rendahnya brand awareness menjadi tantangan serius, karena tanpa strategi branding modern yang sistematis, produk sulit dikenal luas dan kalah bersaing dengan merek lain yang lebih mapan.
Untuk menjawab permasalahan tersebut, tim pelaksana menawarkan beberapa solusi yang terintegrasi. Di bidang produksi, dilakukan pelatihan penggunaan mesin pengaduk adonan otomatis, sehingga proses produksi menjadi lebih efisien, kapasitas meningkat, dan kualitas produk lebih terjaga. Di bidang pemasaran, dilakukan pendampingan ekspansi melalui platform e-commerce seperti Shopee, TikTok Shop, dan Google Ads, yang diharapkan dapat memperluas jangkauan pasar sekaligus menarik pelanggan baru. Selain itu, strategi branding juga diperkuat agar produk M.J Home Made Bakery memiliki identitas yang lebih menonjol di mata konsumen.
Inovasi utama dalam program ini adalah pengembangan Learning Management System Kampung Roti Bu-ibu (LMS Karbu). LMS ini merupakan aplikasi berbasis web yang dirancang untuk mempermudah proses pelatihan dan pembelajaran bagi mitra. Di dalamnya tersedia lima modul pembelajaran dan lima video pelatihan yang fokus pada strategi pemasaran digital dan pembangunan brand awareness. Melalui LMS Karbu, pelatihan dapat diakses kapan saja secara fleksibel, keberlanjutan program tetap terjaga meskipun kegiatan pendampingan formal telah selesai, dan komunikasi antara mentor serta peserta pelatihan dapat difasilitasi dengan baik. Sistem ini juga memudahkan pemantauan perkembangan peserta sehingga proses evaluasi menjadi lebih terukur.
Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan pada tanggal 28 Juli 2025 hingga 5 Agustus 2025. Rangkaian kegiatan dimulai dengan sosialisasi dan penyamaan persepsi mengenai permasalahan mitra serta solusi yang ditawarkan. Setelah itu, pelaksanaan pelatihan dilakukan dalam tiga pertemuan inti: pertama, pengenalan program dan penyampaian materi dasar; kedua, pelatihan tata cara penggunaan mesin pengaduk adonan otomatis; dan ketiga, pelatihan penggunaan LMS Karbu dengan panduan modul dan video pembelajaran yang telah disiapkan tim. Selanjutnya, dilakukan kegiatan monitoring dan evaluasi (monev) untuk mengukur sejauh mana kemampuan peserta sebelum dan sesudah mengikuti pelatihan.
Keberhasilan program ini juga tidak terlepas dari peran aktif mitra. M.J Home Made Bakery berperan sebagai penyedia tempat kegiatan, peserta aktif dalam pelatihan, sekaligus mitra diskusi dalam forum group discussion (FGD) untuk memberikan masukan dan saran. Mitra juga memberikan umpan balik yang konstruktif terhadap jalannya program serta berkomitmen menjaga keberlanjutan kegiatan melalui peran kader yang telah dipilih. Kader ini diharapkan mampu menjadi penggerak internal dalam memastikan LMS Karbu terus dimanfaatkan dan proses peningkatan kapasitas usaha dapat berjalan berkesinambungan.
Secara keseluruhan, kegiatan pengabdian masyarakat ini dapat dikatakan berhasil dan memberikan manfaat nyata. Tidak hanya membantu M.J Home Made Bakery dalam meningkatkan kapasitas produksi dan memperluas pemasaran, tetapi juga menghadirkan inovasi teknologi pembelajaran yang bisa diakses secara berkelanjutan. Program ini menjadi bukti bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat mampu melahirkan solusi yang aplikatif dan berdampak langsung. Ke depan, keberlanjutan pelatihan pemasaran produk dan peningkatan produksi melalui LMS Karbu diharapkan terus berjalan, sehingga UMKM dapat semakin berdaya saing dan berkontribusi lebih besar dalam mendukung perekonomian lokal maupun nasional.
