Di Balik Gemerlap Liga Dunia, Ada Sepak Bola Kampung yang Tak Pernah Mati

Sarjana Hukum Pidana Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Samsul Maarif, SH tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika nama-nama seperti Cristiano Ronaldo, Lionel Messi, dan Kylian Mbappé menjadi pusat perhatian dunia sepak bola, di belahan dunia lain—termasuk Indonesia—hidup dunia sepak bola yang berbeda: tarkam, singkatan dari antar-kampung.
Jangan remehkan istilahnya. Meski hanya diadakan di lapangan berumput setengah jadi, dengan tribun penonton dari bambu dan bunyi petasan bersahut-sahutan, dunia tarkam adalah jantungnya sepak bola rakyat. Di sanalah gairah, bakat, dan harga diri bertarung tanpa kamera, tanpa VAR, dan sering kali… tanpa aturan baku.
Sepak Bola Tarkam: Lebih dari Sekadar Hiburan
Turnamen tarkam sudah ada sejak puluhan tahun silam. Diadakan saat 17 Agustusan, libur lebaran, atau akhir pekan panjang. Hadiahnya bisa bervariasi: mulai dari piala, kambing, sepeda motor, hingga uang tunai puluhan juta. Penontonnya? Kadang bisa melebihi laga Liga 2.
Fenomena ini bukan hanya terjadi di Jawa. Tarkam merajalela dari Sumatera hingga Papua. Dari stadion dadakan di ladang jagung, hingga lapangan bekas sawah yang dikeringkan. Terkadang, kualitas pertandingan lebih menghibur daripada tayangan bola profesional di TV lokal.
Yang membuat dunia tarkam makin panas adalah kemunculan pemain-pemain profesional. Beberapa mantan pemain Liga 1, bahkan yang baru pensiun, turun gunung di tarkam demi pemasukan tambahan. Beberapa pemain aktif pun diam-diam ikut tarkam saat libur kompetisi, meski dengan risiko sanksi dari klub atau federasi.
Mengapa mereka mau? Alasannya jelas: ekonomi. Tarkam bukan sekadar panggung nostalgia, tapi juga sumber penghasilan. Ada pemain yang dibayar Rp2–5 juta per pertandingan. Belum termasuk bonus jika mencetak gol atau membawa timnya juara. Bandingkan dengan gaji pemain Liga 3 yang kadang belum cair tiga bulan.
Gairah Sepak Bola yang Otentik
Tarkam juga jadi cermin betapa cintanya masyarakat Indonesia terhadap sepak bola. Meski federasi sering kacau, liga tidak konsisten, dan prestasi timnas naik-turun, semangat sepak bola tidak pernah benar-benar mati di tengah masyarakat. Tarkam menjadi simbol perlawanan rakyat terhadap elitisme sepak bola nasional yang kerap diselimuti birokrasi dan politik uang.
Di tarkam, tidak ada sponsor besar. Tidak ada siaran langsung. Tapi ada semangat gotong royong, supporter militan, dan pemain-pemain yang bermain karena cinta bola. Penonton tidak datang karena fanatisme klub, tapi karena ikatan kampung, keluarga, dan nostalgia masa kecil. Namun, Dunia Tarkam Tak Bebas Masalah
Tarkam memang menggairahkan, tapi bukan tanpa sisi gelap. Tawuran antarpenonton, wasit yang tidak netral, hingga pengaturan skor kerap menghiasi pertandingan tarkam. Bahkan tak jarang, pertandingan berakhir ricuh akibat adu jotos antara pemain atau suporter.
Kasus seperti ini mencoreng semangat asli tarkam: olahraga rakyat yang seharusnya jadi ruang ekspresi, bukan ajang kekerasan. Perlu keterlibatan tokoh masyarakat, pemuda, dan perangkat desa agar dunia tarkam tetap hidup sehat dan aman.
Tarkam adalah Warisan dan Harapan
Di balik ketertinggalannya dari segi fasilitas dan regulasi, tarkam menyimpan harta karun yang tak bisa diremehkan: bibit pemain masa depan. Banyak pemain besar Indonesia yang ditempa dari lapangan becek dan pertarungan keras antar kampung.
Bayangkan jika sistem scouting sepak bola Indonesia bisa menyerap energi tarkam dengan baik. Dunia tarkam bisa jadi akar yang kuat untuk menopang struktur sepak bola nasional. Bukan hanya jadi hiburan rakyat, tapi juga bagian dari ekosistem pembinaan.
Tarkam adalah wajah lain dari sepak bola Indonesia. Di tengah megaproyek liga profesional, dunia tarkam menunjukkan bahwa gairah masyarakat terhadap si kulit bundar masih membara. Mungkin tak ada drone atau kamera ultra-HD, tapi di situlah letak keasliannya.
Selama masih ada anak-anak yang menendang bola plastik di gang sempit, selama masih ada turnamen antar-RT yang dipenuhi sorak-sorai, sepak bola Indonesia belum mati.
Dunia tarkam adalah bukti bahwa sepak bola bukan milik elite, tapi milik rakyat.
