Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.100.8
28 Ramadhan 1446 HJumat, 28 Maret 2025
Jakarta
imsak04:10
subuh04:25
terbit05:30
dzuhur11:30
ashar14:45
maghrib17:30
isya18:45
Konten dari Pengguna
Kekhawatiran Seorang Pemimpin, Antara Ditinggalkan atau Dikenang
9 Maret 2025 13:01 WIB
·
waktu baca 3 menitTulisan dari samsul marpitasa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT

Patut disyukuri, Indonesia banyak memiliki pemimpin hebat yang akan selalu dikenang sepanjang masa, Bung Hatta dengan nama lengkap Mohammad Hatta, mantan wakil Presiden RI yang pertama, mendampingi Ir. Soekarno, selalu dikenang hingga sekarang atas kesederhanaan dan kejujurannya, masih tetap hangat dibenak siapapun apalagi bagi yang pernah membaca kisahnya di banyak literatur, yang mana walau ia seorang wakil Presiden RI dengan menyandang jabatan begitu tinggi namun kesederhanaan dan kejujurannya serta budi pekerti luhur selalu terjaga dan melekat pada dirinya, salah satu kisah yang amat terkenal adalah manakala ia tengah membaca koran dan melihat iklan sepatu bally kemudian muncul keinginannya untuk membeli sepatu tersebut maka dengan rapi ia menggunting iklan itu dan menyelipkannya di dalam dompet, hal ini dilakukannya agar memotivasi dan mendorong dirinya untuk menabung guna membeli sepatu tersebut, namun hingga akhir hayatnya sepatu tersebut tetap tak mampu dibelinya.
ADVERTISEMENT
Kisah selanjutnya yaitu tentang kisah perjuangan seorang Panglima besar Jenderal Soedirman, pemimpin besar yang begitu tinggi darma bhakti serta kecintaannya terhadap negeri ini, meskipun dalam keadaan sakit parah (TBC) dan harus ditandu namun tetap memutuskan untuk berjuang melawan penjajah Belanda dengan cara bergerilya, hari demi hari beliau lalui dengan cara berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain.
Siapa yang tidak kenal dengan Jenderal polisi Hoegeng, polisi yang jujur nan sederhana, terkenal dengan prinsipnya yang teguh yaitu “lebih baik hidup susah dari pada menerima suap atau korupsi” dimana dikisahkan seorang Hoegeng pernah merasakan jahatnya godaan suap, dirayu oleh seorang pengusaha yang terlibat kasus penyelundupan, pengusaha itu meminta Hoegeng agar kasus yang dihadapinya tak dilanjutkan ke pengadilan, ia berusaha mengajak damai Hoegeng dengan mengiming-imingi berbagai hadiah mewah yang dikirim ke alamat Hoegeng, namun dengan serta-merta ditolak semua pemberian itu oleh Hoegeng.
ADVERTISEMENT
Di era tahun 90-an kita pun pernah memiliki Presiden yang sangat mengagumkan dan fenomenal yaitu Bacharuddin Jusuf Habibie atau biasa dipanggil pak Habibie, Presiden Indonesia ke-3 yang juga merupakan Presiden Indonesia dengan rentang waktu jabatan paling singkat yaitu dari 21 Mei 1998 – 20 Oktober 1999 berarti hanya selama 1 tahun dan 5 bulan beliau menjabat, namun prestasi yang telah ditorehkannya sangat luar biasa yaitu mampu merawat iklim demokrasi serta menjaga kebebasan pers, maka tidaklah berlebihan jika ia dikenal dengan bapak demokrasi Indonesia, selain kemauannya serta kemampuannya di dalam menjaga iklim demokrasi dan kebebasan pers di Indonesia, ia pun mampu menurunkan nilai mata uang dollar yang sempat menyentuh di level Rp. 16.800 hingga turun cukup dalam ke level Rp. 7.385.
ADVERTISEMENT
Pemimpin-pemimpin di atas akan selalu dikenang dan tak akan dilupakan, bukan hanya prestasinya namun terlebih adalah nilai-nilai hidup yang patut diteladani oleh seluruh rakyat Indonesia, betapa terenyuhnya hati siapapun yang membaca apalagi menyaksikan sendiri kesederhanaan dan kejujuran yang ditunjukan oleh Bung Hatta, Jenderal Soedirman dan Jenderal Soegeng, akan berdecak kagum siapapun yang merasakan iklim demokrasi yang dibangun oleh pak Habibie pasca runtuhnya masa orde baru.
Pemimpin – pemimpin di atas, tidak akan lekang tergusur zaman, namanya akan tetap ada di sanubari seluruh rakyat Indonesia. Lalu bagaimana dengan pemimpin-pemimpin yang ada saat ini dari pemimpin nasional hingga daerah, yang mana tidak lama lagi mereka mau tidak mau, akan segera mengikhlaskan estapet kepemimpinannya untuk diberikan kepada generasi berikutnya. Apakah mereka layak dikenang atau malah ditinggalkan? ataukah rasa kekhawatiran mendalam yang justru sedang menghinggapi sanubari mereka saat ini?
ADVERTISEMENT