Konten dari Pengguna

Menapaki Kemerdekaan sebagai Jembatan Menuju Indonesia Emas

Samsul Marpitasa

Samsul Marpitasa

Seorang guru di SMPN 11 Tangerang Selatan, tertarik pada investasi, isu-isu politik, kebijakan publik, fenomena sosial dan leadership

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Samsul Marpitasa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Indonesia merdeka (pixabay.com/SyauqiFillah)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Indonesia merdeka (pixabay.com/SyauqiFillah)

Indonesia telah meraih kemerdekaannya sejak 80 tahun yang lalu tepatnya pada 17 Agustus 1945, 80 tahun bukanlah waktu yang singkat, telah banyak peristiwa di negeri ini yang memenuhi setiap relung jiwa anak bangsa yang mana kian menambah pengalaman bernegara kita, dari peristiwa ke peristiwa, silih bergantinya pergantian pucuk pimpinan nasional yang mana itu semua harusnya menjadi pelajaran berharga agar kita semua terutama kaum elite dapat membawa negeri ini menjadi negeri yang makmur, gemah ripah loh jinawi sebagaimana diamanatkan di dalam undang-undang dasar negara kita.

Jika kita menengok kebelakang ke masa-masa perebutan kemerdekaan, betapa negeri ini terasa surplus para negarawan yang menjadi suri tauladan bagi rakyatnya, lihatlah bagaimana nasionalisme pemimpin Dwi Tunggal Soekarno-Hatta yang rela hidup dari penjara ke penjara, mengorbankan jiwa raga bahkan keluarga demi Indonesia merdeka bahkan tertulis jelas di dalam sejarah, Bung Hatta pernah berikrar tidak akan menikah sebelum Indonesia mendapatkan kemerdekaannya, dan hal ini betul-betul beliau wujudkan karenanya Bung Hatta baru menikah pada 18 November 1945, dua bulan setelah Indonesia merdeka. Sama halnya dengan Bung Karno, demi memperjuangkan Indonesia merdeka beliau hidup dari penjara ke penjara dan diasingkan karena dianggap sosok yang berbahaya bagi bangsa Belanda pada masa itu.

Selain kecintaannya terhadap negeri ini, ada benang merah yang kita bisa teladani serta ambil pelajaran dari beliau berdua yaitu kegemarannya terhadap ilmu pengetahuan, baik Bung Karno maupun Bung Hatta adalah sosok yang gemar sekali membaca, bahkan mahar perkawinan Bung Hatta kepada istrinya bukanlah emas permata namun sebuah buku yang berjudul “Alam Pikiran Yunani”, pun dengan Bung Karno berawal dengan kegemaran akan membaca buku, beliau mampu mengumpulkan ratusan karya tulis, yang mana karyanya itu telah diabadikan di dalam sebuah buku yang berjudul Di Bawah Bendera Revolusi dengan tebal 630 halaman. Tingginya ilmu pengetahuan serta pengalaman berorganisasi telah mengantarkan beliau berdua menjadi pemimpin yang sangat disegani baik di dalam negeri maupun luar negeri, diplomasi dan perundingan demi perundingan dengan bangsa lain mereka tapaki dengan gagah berani dan penuh percaya diri bahwasanya kemerdekaan akan segera dapat diraih, hal ini ditempuh bukan hanya lewat peperangan mengangkat senjata namun juga lewat perundingan demi perundingan.

Sebagai generasi penerus yang lahir pada era modern sekarang ini, sudah sepatutnyalah kita semua sebagai anak bangsa meneladani apa yang telah mereka torehkan bagi bangsa ini, terlebih lagi Presiden Indonesia saat ini yaitu Prabowo Subianto telah mencanangkan “Indonesia Emas” pada tahun 2045. Kecintaan terhadap ilmu pengetahuan lewat kebiasaan membaca menjadi faktor penting yang bisa menjadikan Bangsa Indonesia maju dan bermartabat dan bukan mustahil Indonesia Emas akan terwujud.

Kebiasaan membaca dan cinta terhadap ilmu pengetahuan telah dicontohkan oleh para pendiri bangsa ini, Soekarno, Hatta, Sutan Syahrir, dan juga Tan Malaka adalah contoh para pahlawan kemerdekaan yang cinta akan ilmu pengetahuan dan dengan itu, mereka dapat berkiprah luas dan memiliki peran yang sangat besar terhadap kemerdekaan Indonesia.

Tantangan yang dihadapi bangsa ini baik sebelum kemerdekaan maupun setelahnya jauh berbeda namun yang pasti tantangan serta hambatan tersebut bukan semakin ringan, justru sebaliknya semakin bertambah berat, maka dari itu nilai-nilai luhur yang telah ditanamkan oleh para pendiri bangsa ini patut diteladani oleh semua anak negeri.