Konten dari Pengguna

Model Tertawa “Wkwk” Ala Warga +62 dalam Kajian Semantik

Nur Rahmah Komalasari

Nur Rahmah Komalasari

Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nur Rahmah Komalasari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: google.com
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: google.com

Seringkali kita temukan model tertawa ala warga +62 atau Negara Indonesia yang kita cintai ini dengan berbagai macam. Tertawa merupakan bentuk dari mengekspresikan perasaan seseorang ketika menemukan sesuatu yang membuat jiwa maupun pikiran tergelitik dan menimbulkan rasa bahagia dan seolah-olah beban kehidupan kita terlepas dari pundak. Tentu hal tersebut menjadi sebuah tindakan yang menyenangkan bagi siapa pun yang merasakan tertawa. Pernahkah kalian terlintas dalam pikiran tentang tertawa yang berubah bentuk atau beralih menjadi sebuah tulisan yang jauh berbeda dengan wujud asli sebuah bunyi ujarnya? Seperti WKWKWK. Mengapa hal demikian bisa terjadi? Apakah ujaran tersebut menyimpang dari bahasa? Oke, kali ini mari kita bahas, simak sampai tuntas ya guys!

Apakah Tertawa Bagian Dari Bahasa?

Dijelaskan dalam (abdul Chaer, 2014: 44) bahasa adalah sistem lambang yang berbentuk bunyi, ataupun bunyi tutur. Sesuatu yang dilambangkan tersebut merupakan sebuah pengertian, konsep, ide maupun pemikiran, maka dapat dinyatakan bahwa bahasa memiliki makna. Terdapat pada kajian semantik memang ada teori makna yang menyatakan bahwa makna sama dengan bendanya, namun ada pula yang berpendapat bahwa makna sebagai konsepnya sebab tidak semua lambang bahasa yang berwujud bunyi memiliki hubungan dengan sesuatu ataupun benda yang ada dalam dunia nyata. Lambang-lambang bunyi bahasa yang memiliki makna dalam bahasa seperti satuan-satuan bahasa yang berbentuk morfem, kata, frasa, klausa, kalimat, dan wacana. Keseluruhan mempunyai makna karena bahasa itu bermakna, maka semua ucapan yang tidak memiliki makna pun bisa disebut bukan bahasa. demikian berkenaan dengan bentuk-bentuk bunyi yang tidak memiliki makna dalam bahasa apa pun tidak termasuk bahasa sebab fungsi dari bahasa ialah guna menyampaikan pesan, konsep, ide, maupun pemikiran.

Pada pembahasan ini erat kaitannya dengan bahasa sebagaimana ketika seseorang mengekspresikan sesuatu humor/lelucon dengan tertawa, saat tertawa seseorang mengeluarkan sebuah ujaran untuk mewujudkannya. Tertawa dapat berbentuk lisan ataupun tulisan. Humor merupakan dorongan secara spontan yang memunculkan senyuman dan tawa bagi seseorang. Humor dapat menghadirkan tawa ketika sesuatu yang disampaikan adalah perihal yang tidak biasa, kesalahan, atau di luar nalar manusia. Kejadian dan pengalaman tiap orang mengenai lingkungan kehidupan yang disampaikan dengan adanya humor sebagai perkara yang anti mainstream, aneh, dan menyeleweng. Di samping itu, dalam menunculkan tawa humor mesti secara mendadak memberikan kesadaran terhadap ketidaksepadanan antara konsep dengan realita yang sesungguhnya (Husen, 2001: 357). Kemunculan humor dikarenakan mendapatkan sesuatu yang tak terduga dari apa yang telah disampaikan. Tampak adanya kalimat yang dimunculkan menjadi dua macam asosiasi. Pertama, adanya teknik belokan mendadak (unexpected turns) dan kedua, terdapat asosiasi ganda (Husen, 2001: 357).

Menyelidiki Struktur Makna WKWK dalam Kajian Semantik

Secara umum, sesuatu yang mengacu pada bentuk ungkapan rasa seseorang atau dalam berekspresi tiap orang dapat disaksikan ketika orang tersebut tertawa. Tertawa apabila ditinjau dalam bentuk nyata (secara langsung) dengan bentuk tulisan khususnya yang terdapat dalam tulisan percakapan pesan di gawai seperti WhatsApp, Twitter, Instagram, dan lainnya sangat jauh berbeda. Biasanya seseorang yang tertawa wujud ekspresi sangat terlihat jelas saat diujarkan. Namun lain halnya jika tertawa yang beralih pada tulisan menjadi sesuatu yang menyimpang dari aturan bahasa dan juka dilihat dalam suatu ujaran sulit untuk diungkapkan seperti WKWKWK. Hal ini berkaitan dalam tataran bahasa berkenaan pada kajian makna (semantik). Dalam semantik, bagian yang menjadi objek fokus utama yaitu makna. Posisi makna di sini dapat berada dalam suatu sistem yang kompleks dari kebiasaan-kebiasaan. Sistem bahasa terdiri dari 5 subsistem yakni gramatika (tata bahasa), fonologi (bunyi bahasa), morfofonemik (perubahan bunyi), semantik (makna bahasa), dan fonetik (hasil bunyi ujar). Bapak Linguistik modern, Ferdinand de Saussure menjelaskan bahwa tanda linguistik terdiri dari 2 komponen yaitu signifian dan signifie, maka hal tersebut menjadi suatu hal yang tak bisa dipisahkan. Komponen signifian atau “yang memberikan makna” bentuknya berupa urutan bunyi dan komponen signifie atau “yang diberikan makna” bentuknya berupa pengertian atau konsep (yang terdapat pada signifian). Seperti halnya dalam linguistik <tertawa> mengandung komponen signifian berupa urutan bunyi (fonem) yaitu /w/, /k/, /w/, /k/, /w/, dan /k/; dan komponen signifie berupa konsep atau makna ‘tertawa’. Maksud pada tertawa ini merujuk pada ekspresi seseorang ketika tertawa, apabila dilihat kata “WKWKWK” terdengar tidak sesuai dan aneh saat direalisasikan dalam bentuk ujaran. Begitu pula sama hanya dengan bentuk tertawa lainnya yang bermunculan seperti AWOKWOK, SKSKSK, SHISHISHI, CKCKCK, HAHAHA, HIHIHI, HEHEHE. Alasan bahasa merupakan sesuatu yang universal, abstrak, dan digunakan dalam berbagai kegiatan ataupun kehidupan bermasyarakat menjadikan bahasa bersifat dinamis.

Makna Tertawa WKWK yang Menuai Perbincangan Netizen di Media Sosial

Berdasarkan informasi yang didapat mengenai makna dari WKWKWK, warga net yang ramai membahas makna dari tertawa dalam bahasa tulisan WKWKWK muncul atas dasar dari pemendekkan dari kata Gue/Gw (saya) menjadi “W” dan kata ketawa yang disingkat menjadi “K”. Peristiwa tertawa WKWKWK ini muncul disebabkan dari kelompok para gaming online. Para gamer yang memberikan alasan bahwa ketika tertawa sebagai ekspresi tawa itu diwujudkan berbentuk tulisan “huehue” sebelum mengalami perubahan menjadi “wkwk”. Perubahan tersebut dikarenakan untuk mempermudah para gamer guna melancarkan aksinya dengan cepat antara mata yang terfokus pada layar dan juga papan ketik (keyboard) karena posisi tombol agar tidak sulit diraih oleh tangan dan tidak banyak melakukan gerakan sehingga fokus gamer tidak terpecahkan. Setelah mengetahui makna tersebut dalam perbincangan di media sosial, kerap kali candaan warga net oleh pengguna bahasa berkembang sangat pesat sehingga pengguna bahasa yang digunakan menjadi suatu kesepakatan. Berkaitan dengan pandangan ahli bahasa John Rupert Firth dalam (A. Chaedar Alwasilah, 2011: 73) bahwa konsep maknanya adalah sosial dan behavioral. Pemisahan makna atau fungsi ke dalam hubungannya dengan konteks. Makna haruslah dianggap keseluruhan hubungan-hubungan kontekstual dan fonetik, grammar, leksikografi, dan semantik masing-masing mengatur unsur-unsurnya sendiri dari keseluruhan tersebut pada konteks yang sama. Meskipun penggunaan kata tertawa dalam bahasa tulis tidak nyambung atau terdengar aneh dalam bentuk ujarannya, tetapi keadaan situasi ataupun lingkungan saat berlangsungnya komunikasi tersebut kita dapat memahami maksud atau arti dari sebuah percakapan yang disampaikan meskipun melalui bentuk tulisan. Seperti halnya percakapan warga net perihal tertawa online dengan diwujudkannya kata WKWKWK.

Sumber:

Alwasilah, A. Chaedar. 2011. Beberapa Mazhab dan Dikotomi Teori Linguistik. Bandung: Angkasa.

Chaer, Abdul. 2014. Linguistik Umum. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Subuki, Makyun. 2011. Semantik: Pengantar Memahami Makna Bahasa. Jakarta: Transpustaka.

Sukardi, Mochamad Ighfir, dkk. Penyimpangan Makna dengan Homonimi dalam Wacana Meme (Kajian Semantik). Dalam Jurnal LINGUA Vol. 13, No. 1, Juni 2018 • ISSN 1693-4725 • e-ISSN 2442-3823 pada laman http://ejournal.uin-malang.ac.id/index.php/humbud/article/view/4513