Relevansi Drama Malam Botak Terhadap Citra Kehidupan Masyarakat Indonesia

Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah
Tulisan dari Nur Rahmah Komalasari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah enggak sih? kalian mendengar atau seringkali terlintas perkataan orang lain seperti ini, “Makanya hidup itu jangan kebanyakan drama!”. Perkataan tersebut secara implisit memberikan citra kurang baik seolah-olah banyak dalam pandangan masyarakat yang salah dalam mengartikan drama yang sesungguhnya. Pandangan mengenai drama adalah peniruan atau tindakan yang tidak sebenarnya, berpura-pura di atas pentas sehingga istilah drama tersebut digunakan sebagai suatu ejekan atau ketidakseriusan. Padahal kenyataannya berbanding terbalik dengan apa yang dipersepsikan masyarakat mengenai drama tersebut. Dengan demikian, drama sebagai salah satu genre sastra sebaiknya dapat dipahami bahwa di dalamnya memiliki nilai-nilai pelajaran, kebenaran, keseriusan, dan bukan sekadar permainan saja.
Kata drama dapat diartikan lakon, cerita atau meniru perilaku seseorang, seni peran atau pementasan di panggung, televisi, maupun film. Dalam kata drama itu sendiri berasal dari bahasa Yunani kata draomai (Hasanuddin, 1996: 2) yang berarti berbuat, berlaku, bertindak, bereaksi dan sebagainya. Jadi, drama dapat dikatakan sebuah rekaan kehidupan melalui penampilan gerak dan perilaku konkret yang terfokus sebagai suatu karya berorientasi pada seni pertunjukan yang melibatkan banyak orang-orang (relasi) bidang kreatif sebagai penunjang daya imajinatif seperti sutradara, artistik, tata panggung (stage manager), tata cahaya (lighting), tata suara (sound effect), tata busana, dan lain sebagainya.
Citra kehidupan masyarakat dalam pementasan drama ‘Malam Botak’ seperti apa?
Pencitraan adalah topik yang termasuk dalam bidang psikologi dan studi sastra. Dalam psikologi “citra” berarti reproduksi mental, suatu ingatan masa lalu yang bersifat indrawi dan berdasarkan persepsi atau tidak selalu bersifat visual (Rene Wellek dan Austin Warren, 2016: 216). Jadi, citra merupakan sebuah perwujudan baik melalui sesuatu yang ditangkap melalui indera seperti penglihatan, pendengaran, penciuman, sentuhan, atau gerak. Sedangkan citra dalam arti sebagai perwakilan pada sesuatu yang tidak dapat ditangkap indera seperti persepsi, imajinasi, simbol atau tanda (Rene Wellek dan Austin Warren, 2016: 220).
Pementasan drama Malam Botak karya AB Asmarandana terlihat dalam alur yang meceritakan citra kehidupan metropolitan dipenuhi hiruk pikuk kota, kesibukan para pekerja dari pagi hari hingga petang berlalu lalang. Sosok dua orang sahabat si Botak dan si Gondrong menjalani kerasnya kehidupan di tengah ibu kota dengan memegang teguh prinsip dalam diri mereka. Menurut si Botak dan si Gondrong dunia ini penuh dengan dualisme kehidupan ada orang baik dan orang buruk, ada orang konglomerat dan orang melarat. Namun kebanyakan orang yang hidup dengan kaya harta seperti para pejabat justru berperilaku bejat layaknya penjahat menghabisi para hak rakyat seolah-olah kehidupan ini hanyalah dikuasai orang-orang yang berharta dan bertahta.
Rakyat yang termarjinalkan tidak berhak atas kehidupan yang sepadan sehingga mereka mengasumsikan kehidupan ini sebuah kemunafikan belaka. Perjuangan hidup dengan mempertahankan prinsip dan idealis walaupun pada relitanya sangat menyiksa diri dengan kelaparan hidup di pinggir jalan. Ketika sebuah ujian melanda si Botak dan si Gondrong saat mendapatkan barang yang terjatuh berupa kotak yang tidak tahu isi dalam kotak itu ada apa. Mulailah perselisihan antara keduanya dengan mempertahankan prinsip yang satu sama lain si Gondrong beranggapan kotak tersebut milik orang lain dan harus dikembalikan sedangkan anggapan si Botak berbanding terbalik dengannya hingga menyebabkan si Gondrong dibunuh si Botak. Padahal setelah membuka isi dari kotak itu bukanlah uang ataupun berlian, tidak sesuai dengan harapan, dan berujung pada penyesalan. Berakhir dengan tragis karena Botak telah membunuh sahabatnya sendiri hingga menimbulkan kekecewaan lantas kini ia tidak mendapatkan apapun ditambah kehilangan sahabat yang selalu menemani setiap saat menghadapi peliknya kehidupan di tengah kota.
Pementasan drama terhadap masyarakat Indonesia, relevankah dengan kehidupan sekarang?
Setelah mengetahui arti sebenarnya bahwa drama itu suatu hal yang tidak main-main dalam penggarapannya mulai dari penulisan cerita, keaktoran (lakon/peran), penataan artistik, pengelolaan produksi, manajemen panggung, penyutradaraan dan sebagainya membutuhkan banyak persiapan jiwa dan raga yang support sehingga terlaksana dengan baik dan lancar segala apa yang ditujukan. Meskipun drama biasa disebut dengan istilah kata zaman sekarang yaitu setting-an (dibuat-buat) penceritaannya namun beberapa dapat dirasakan adanya keterkaitan dalam kehidupan sehari-hari, berkaitan dengan kisah Malam Botak penggambaran peliknya kehidupan di tengah kota metropolitan butuh perjuangan yang amat keras bukan hanya sekadar mencari makan untuk mengisi perut namun juga harus kuat pendirian agar tidak mudah tertipu daya orang-orang yang ingin bertindak buruk yang dapat mengancam diri bahkan nyawa dapat menjadi taruhannnya. Adanya konflik batin (dalam diri) maupun lingkungan (luar diri) yang datang silih berganti menjadikan diri sulit mengontrol emosi dan untuk mengendalikan emosi tersebut biasanya dengan menyendiri, merenung atau cerita dengan seseorang dapat mengendalikan diri dan lebih memahami kehidupan memang harus dihadapi dan diperjuangkan.
Dalam sebuah drama hal ini disebut keaktoran (seni peran) artinya peran di sini kita dapat menyesuaikan dengan alur permainan dari cerita memiliki kepekaan jiwa raga yang dirasakan aktor (lakon) menyimak atau menganalisa dengan baik keadaan situasi kondisi disekitarnya. Makna lain drama dalam kehidupan masyarakat juga sebagai penggambaran sosial sebagaimana manusia adalah makhluk yang berhubungan timbal-balik sehingga tidak bisa lepas dari manusia lain dan lingkungannya. Proses drama dalam pementasan tidak hanya mendalami keaktoran (seni peran) tetapi juga kegiatan sosial satu sama lain dalam hal pekerjaan contohnya membutuhkan komunikasi yang baik sehingga tiap individu mampu mengetahui perannya dalam suatu masyarakat.
Nilai-nilai apa saja yang didapat dalam pementasan drama?
Istilah “nilai” adalah sesuatu yang dapat menyempurnakan manusia dengan hakikatnya, pengalaman menjadi sebuah pelajaran berharga yang mengacu pada kebenaran atau pengakuan, serta apresiasi. Adapun nilai yang terkandung dalam pementasan drama, yakni:
Nilai kehidupan banyak aspek-aspek penting manusia dalam menjalani kehidupan seperti kesadaran tiap individu memanusiakan manusia peduli sesama tanpa memandang perbedaan Suku, Agama, Ras, maupun Antargolongan (SARA) sebagaimana manusia sebagai makhluk yang terdidik maka baru di sinilah seseorang memperoleh hakikat manusia seutuhnya.
Nilai estetik atau keindahan sesuatu yang dapat dinikmati baik melalui penglihatan maupun perasaan.
Nilai budaya atau adat istiadat sebagai ciri khusus yang terkandung dalam sebuah drama dapat belajar banyak perilaku (karakter) dan kebiasaan-kebiasaan seseorang.
Nilai religius menyuguhkan nilai-nilai kehidupan akan kepercayaan Tuhan.
Nilai sejarah sebagai peninggalan yang berharga bagi anak cucu kita nanti karena sejarah sebagai pedoman bagi suatu bangsa untuk melangkah dalam kehidupan yang beradab dan menyadari pentingnya sejarah.
