HSBC di Tengah Dunia yang Terbelah: Mengapa Peta Bisnisnya Ikut Berubah?

Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Sriwijaya
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari San Hugo Roxi Ginting tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perusahaan multinasional tidak lagi beroperasi dalam dunia yang sepenuhnya terintegrasi. Ketegangan geopolitik, persaingan kekuatan besar, serta meningkatnya ketidakpastian ekonomi membuat perusahaan yang memiliki aktivitas lintas negara harus menghadapi lingkungan bisnis yang semakin kompleks.
Fenomena tersebut menarik untuk dilihat melalui perubahan struktur HSBC, salah satu bank multinasional terbesar di dunia. Pada Oktober 2024, di bawah CEO baru Georges Elhedery, HSBC mengumumkan perubahan besar terhadap struktur organisasinya yang mulai berlaku pada 1 Januari 2025. Bank ini menyederhanakan organisasinya menjadi empat unit bisnis sekaligus mengubah pengelompokan geografisnya menjadi Eastern Markets dan Western Markets.
Perubahan tersebut menimbulkan pertanyaan menarik: apakah HSBC hanya sedang melakukan efisiensi internal, atau perubahan peta organisasinya juga mencerminkan bagaimana perusahaan multinasional beradaptasi dengan dunia yang semakin terfragmentasi secara geopolitik?
Dari Struktur Global ke Peta Timur dan Barat
Pada 22 Oktober 2024, HSBC mengumumkan penyederhanaan struktur organisasinya menjadi empat bisnis utama. Mulai 2025, empat unit tersebut adalah Hong Kong, UK, Corporate and Institutional Banking, serta International Wealth and Premier Banking. HSBC menyatakan perubahan ini bertujuan membuat organisasi menjadi lebih sederhana, dinamis, dan agile.
Namun, perubahan yang menarik bukan hanya pembentukan empat unit bisnis tersebut. HSBC juga mengubah tata kelola geografisnya.
Wilayah Eastern Markets menggabungkan Asia-Pasifik dan Timur Tengah. Sementara itu, Western Markets mencakup bisnis HSBC di Eropa, Amerika, serta bank UK yang tidak termasuk dalam struktur ring-fenced. Jadi, dapat dipahami bagaimana wilayah operasi HSBC secara internal mulai dikelompokkan berdasarkan dua ruang geografis yang cukup jelas: Timur dan Barat.
Sekilas, pembagian tersebut mungkin terlihat seperti persoalan administrasi perusahaan. HSBC sendiri menekankan penyederhanaan organisasi dan percepatan pelaksanaan strategi sebagai alasan utama perubahan tersebut. Karena itu, tidak tepat jika langsung menyimpulkan bahwa HSBC membagi organisasinya semata-mata karena persaingan Amerika Serikat dan Tiongkok.
Namun, konteks internasional ketika perubahan tersebut dilakukan membuat fenomena ini menjadi lebih menarik.
Ketika Geopolitik Masuk ke Dunia Korporasi
Dalam beberapa tahun terakhir, hubungan ekonomi internasional semakin dipengaruhi oleh pertimbangan geopolitik. Persaingan Amerika Serikat dan Tiongkok, perang Rusia-Ukraina, perubahan kebijakan perdagangan, serta meningkatnya ketidakpastian politik membuat aktivitas perusahaan multinasional tidak hanya ditentukan oleh pertimbangan pasar.
Literatur mengenai perusahaan multinasional menunjukkan bahwa perubahan geopolitik dapat memengaruhi pengambilan keputusan perusahaan. Moura, Lawton, dan Tobin melalui tinjauan terhadap 93 penelitian menunjukkan bahwa MNC menghadapi ketidakpastian geopolitik dengan berbagai bentuk respons, mulai dari melakukan penyesuaian aktivitas hingga mengurangi keterlibatan atau keluar dari suatu lingkungan tertentu. Dengan kata lain, geopolitik dapat menjadi bagian dari lingkungan strategis yang harus diperhitungkan perusahaan multinasional.
Hal ini menjadi semakin relevan bagi perusahaan seperti HSBC karena bisnisnya memang bersifat lintas batas. HSBC memiliki jaringan internasional yang menghubungkan berbagai pasar, sehingga perubahan kondisi politik dan ekonomi di satu wilayah dapat memberikan konsekuensi terhadap aktivitasnya di wilayah lain.
Perubahan struktur HSBC dapat dilihat sebagai bagian dari persoalan yang lebih besar: bagaimana sebuah MNC mempertahankan fleksibilitas ketika dunia tempatnya beroperasi semakin terfragmentasi?
Bank Tidak Bisa Mengabaikan Risiko Geopolitik
Bagi sektor perbankan, persoalan geopolitik bahkan memiliki konsekuensi yang lebih langsung.
Penelitian Trinh dan Tran terhadap data dari 179 negara menemukan bahwa peningkatan geopolitical risk memiliki dampak negatif terhadap stabilitas sistem perbankan. Mereka juga menemukan bahwa tingkat paparan terhadap risiko geopolitik berbeda-beda antarnegara dan kawasan.
Artinya, geopolitik bukan sekadar persoalan hubungan antarnegara yang berada jauh dari aktivitas perusahaan. Bagi bank yang beroperasi di banyak negara, konflik politik, ketidakpastian kebijakan, perubahan hubungan ekonomi, maupun ketegangan antarnegara dapat memengaruhi lingkungan tempat bank menjalankan bisnisnya.
Konteks Eropa juga memperlihatkan persoalan tersebut. Studi terhadap 229 bank Eropa selama 2000–2023 menemukan bahwa semakin besar eksposur bank terhadap risiko geopolitik dari negara-negara tempat mereka beroperasi, semakin tinggi pula risiko sistemiknya. Bank berukuran besar dan bank di kawasan euro ditemukan lebih rentan terhadap risiko tersebut.
Temuan tersebut memberikan konteks penting bagi HSBC. Eropa bukan sekadar salah satu pasar yang ditempatkan HSBC dalam kategori Western Markets. Eropa juga merupakan bagian dari lingkungan perbankan yang semakin menghadapi konsekuensi dari perubahan geopolitik global.
Mengapa Asia Tetap Menjadi Titik Penting?
Di sisi lain, restrukturisasi HSBC tidak dapat dilepaskan dari posisi Asia dalam model bisnis bank tersebut.
Dalam pengumuman restrukturisasinya, HSBC menyebut Asia dan Timur Tengah sebagai wilayah dengan peluang pertumbuhan penting, terutama dalam bisnis international wealth. HSBC juga mempertahankan Hong Kong sebagai salah satu pusat utama bisnisnya.
Hal ini memperlihatkan sesuatu yang cukup menarik. HSBC tidak memilih untuk meninggalkan jaringan globalnya. Sebaliknya, bank tersebut menyederhanakan cara mengelola jaringan tersebut.
Eastern Markets menyatukan Asia-Pasifik dan Timur Tengah, sementara Western Markets menggabungkan Eropa dan Amerika dengan bagian tertentu dari bisnis UK. Pada saat yang sama, HSBC tetap mempertahankan bisnis globalnya melalui Corporate and Institutional Banking.
Dengan kata lain, perubahan tersebut bukan berarti HSBC membentuk dua perusahaan yang terpisah. HSBC tetap merupakan satu perusahaan global.
Justru di sinilah menariknya fenomena tersebut.
Bukan Berarti HSBC “Memilih Timur atau Barat”
Pembagian Eastern Markets dan Western Markets mudah dibaca sebagai tanda bahwa dunia bisnis HSBC ikut terpecah menjadi dua blok. Namun, pembacaan tersebut perlu dilakukan secara hati-hati.
HSBC tidak mengumumkan bahwa restrukturisasi tersebut merupakan pemisahan formal antara bisnis Timur dan Barat. Pernyataan resmi perusahaan justru menekankan penyederhanaan organisasi, pengurangan kompleksitas, dan peningkatan kemampuan untuk menjalankan strategi.
Karena itu, lebih tepat jika restrukturisasi tersebut dilihat sebagai upaya menciptakan struktur yang lebih fleksibel di tengah lingkungan internasional yang semakin kompleks.
Perusahaan multinasional seperti HSBC berada dalam posisi yang berbeda dari negara. Negara dapat menentukan kebijakan luar negeri berdasarkan kepentingan politik dan keamanan. Sementara perusahaan harus tetap mempertimbangkan keuntungan, efisiensi, risiko, regulasi, dan keberlangsungan bisnis.
Ketika kepentingan ekonomi tidak lagi dapat dipisahkan sepenuhnya dari geopolitik, perusahaan kemudian harus menemukan cara untuk tetap beroperasi di berbagai lingkungan politik tanpa kehilangan fleksibilitasnya.
Eropa dalam Peta Baru HSBC
Bagi Eropa, perubahan HSBC juga menarik karena kawasan tersebut ditempatkan dalam Western Markets bersama Amerika.
Pengelompokan ini menunjukkan bahwa Eropa menjadi bagian dari salah satu ruang geografis utama dalam tata kelola HSBC. Namun, hal tersebut tidak berarti Eropa kehilangan relevansinya bagi HSBC. Justru sebaliknya, HSBC tetap mempertahankan operasi Eropa sebagai bagian dari struktur globalnya.
Dalam konteks studi kawasan, fenomena ini menunjukkan bahwa perubahan politik dan ekonomi global dapat memengaruhi bagaimana sebuah perusahaan multinasional mengorganisasikan aktivitasnya di Eropa.
Eropa juga tidak hanya dapat dilihat sebagai kawasan yang dipengaruhi oleh keputusan negara-negara besar. Kawasan ini juga menjadi bagian dari arena tempat perusahaan global menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan internasional.
Dunia yang Terfragmentasi, Perusahaan yang Harus Lebih Fleksibel
Restrukturisasi HSBC pada akhirnya menunjukkan satu fenomena penting dalam hubungan internasional: fragmentasi geopolitik tidak hanya memengaruhi negara, tetapi juga organisasi bisnis yang beroperasi lintas negara.
Perusahaan multinasional menghadapi dunia yang berbeda dari era ketika globalisasi ekonomi dapat diasumsikan berjalan semakin terintegrasi. Ketika hubungan antarnegara semakin kompleks, perusahaan harus mempertimbangkan bagaimana struktur internalnya dapat mengikuti perubahan tersebut.
Dalam kasus HSBC, perubahan menjadi Eastern Markets dan Western Markets tidak cukup untuk membuktikan bahwa bank tersebut sedang memisahkan diri berdasarkan blok geopolitik. Namun, perubahan tersebut menunjukkan bahwa sebuah MNC global mulai menggunakan pengelompokan geografis yang lebih sederhana untuk mengelola bisnisnya di lingkungan internasional yang semakin kompleks.
Di sinilah restrukturisasi HSBC menjadi menarik untuk dibaca. Bukan karena HSBC telah memilih antara Timur dan Barat, tetapi karena sebuah perusahaan yang secara historis dibangun untuk menghubungkan keduanya kini harus mengatur kembali cara mengelola keduanya.
Dan mungkin, perubahan peta internal HSBC tersebut menjadi salah satu gambaran kecil tentang bagaimana perusahaan multinasional menghadapi dunia yang tidak lagi sesederhana gagasan “globalisasi tanpa batas”.
