Strategi Luar Negeri Brasil: Cerdas atau Hanya Bermain Aman?

Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Sriwijaya
·waktu baca 8 menit
Tulisan dari San Hugo Roxi Ginting tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Strategi Brasil Gagal?

Artikel ini akan membahas terkait bagaimana di tengah dunia yang kacau pada 2025, dimana Trump kembali menampar dunia dengan tarif gila-gilaan, China tetap lapar komoditas, dan Global South ingin punya suara, sementara Brasil memilih jalan “berteman dengan semua orang sekaligus”. Lula naik panggung di PBB, COP30, dan BRICS sambil berkoar tentang “akhir dominasi dolar”, “reformasi tata kelola global”, dan “Brasil pemimpin negara-negara selatan”. Kedengarannya heroik, revolusioner, dan sangat menggoda bagi siapa saja yang benci pada ketidakadilan dunia. Namun kenyataannya, Brasil tetap menjual kedelai, daging, dan bijih besi dalam jumlah yang semakin besar ke China dan malah semakin tergantung. Janji reformasi PBB, IMF, dan Bank Dunia berakhir nol hasil. Hutan Amazon kembali gundul demi menutup lubang anggaran akibat tarif Trump. Industri dalam negeri mati pelan-pelan karena banjir barang murah China. Penulis akan memaparkan tiga argument utama yakni kegagalan retorika reformasi global, rapuhnya hedging ekonomi, dan konsekuensi domestik yang disembunyikan.
Pada 11 November 2025, di tengah hiruk-pikuk COP30 di Belém, Presiden Luiz Inácio Lula da Silva berdiri di podium yang sama dengan Presiden China Xi Jinping untuk menerima janji pendanaan hijau US$10 miliar, sementara di ruang belakang tim ekonominya sedang memohon keringanan tarif 60% kepada Menteri Keuangan AS Scott Bessent. Dua hari kemudian, Brasil memimpin deklarasi BRICS+ yang menyerukan “akhir hegemoni dolar”, meski 87% perdagangannya dengan sesama anggota BRICS masih menggunakan greenback. Satu negara, tiga wajah, satu strategi yakni multi-alignment. Berbeda dengan non-alignment era Perang Dingin yang dengan tegas menolak kedua blok, multi-alignment versi Lula III (2023 – sekarang) mengklaim sebagai jalan tengah yang cerdas dengan berteman dengan Washington sekaligus Beijing, memimpin Global South tanpa harus memusuhi Utara, dan menjaga otonomi di tengah dunia yang terbelah.
Retorika vs Realitas: Ideologi Global South sebagai Topeng
Sejak kembali ke Planalto pada Januari 2023, Lula da Silva terus membranding kebijakan luar negerinya sebagai “diplomasi aktif dan berani” demi mereformasi tata kelola global yang lebih mencerminkan suara Global South. Dalam tiga pidato berturut-turut di Sidang Umum PBB (2023–2025), ia selalu mengulang seruan reformasi Dewan Keamanan PBB, IMF, dan Bank Dunia serta mengklaim Brasil sebagai “jembatan Utara-Selatan” sekaligus “pemimpin alami” negara berkembang. Realitas, bagaimanapun, sangat bertolak belakang.
Ketergantungan ekspor komoditas primer ke China justru melonjak, dimana kedelai mencapai 82% (dari 78% pada 2022), daging sapi 44% (dari 38%), bijih besi 61% (dari 57%), dan minyak mentah 38% (dari 31%), menurut data Comex Stat/SECEX Brasil November 2025. Reformasi institusi global yang dijanjikan juga berakhir nol, hasil usulan kursi tetap DK PBB G4 kembali ditolak 2025, kuota suara Brasil di IMF malah turun dari 1,72% (2023) menjadi 1,69% (2025), dan New Development Bank BRICS hanya menyalurkan US$4,2 miliar setahun, kurang dari 5% pinjaman tahunan Bank Dunia. Bahkan di COP30 yang diselenggarakan Brasil sendiri, frasa “phase-out fossil fuels” dihapus dari dokumen akhir karena Brasil ikut melobi demi kepentingan Petrobras.
Namun, di dalam negeri, narasi ini tetap laku keras, sebanyak 64 % pendukung PT percaya Brasil sedang “memimpin dunia baru” (Datafolha, Oktober 2025). Oliver Stuenkel (FGV São Paulo) merangkumnya dengan tepat “Lula menjual revolusi kepada rakyatnya, tapi yang dijual ke dunia tetap kedelai dan bijih besi.” Ideologi Global South ternyata hanya topeng ideologis yang nyaman untuk menutupi oportunisme pragmatis sebuah negara yang masih terperangkap sebagai pengekspor komoditas abad ke-19.
Hedging yang Gagal: Ketika Semua Pintu Dibuka, Tidak Ada yang Benar-Benar Terbuka
Konsep hedging dalam kebijakan luar negeri menjanjikan otonomi strategis bagi negara menengah seperti Brasil dalam jaga hubungan baik dengan semua kekuatan besar tanpa komitmen eksklusif, sehingga minimalkan risiko geopolitik sambil maksimalkan peluang ekonomi. Namun, multi-alignment Lula justru menunjukkan kegagalan model ini, di mana upaya membuka semua pintu malah membuat Brasil terjebak di koridor sempit ketergantungan. Mari kita ambil contoh tarif Trump 2.0 yang diberlakukan Agustus 2025, dimana bea masuk 50% pada baja, aluminium, dan produk digital Brasil ke AS, yang memengaruhi miliaran dolar ekspor utama seperti daging dan kopi. Kerugian tahunan diperkirakan mencapai US$6–8 miliar, dengan pemecatan massal di sektor manufaktur dan agribisnis, termasuk 1.200–1.500 pekerja di industri sepatu Franca saja. Respons Brasil? Bukan konfrontasi multilateral atau diversifikasi agresif melalui Mercosur, melainkan lobi diam-diam ke Washington yang gagal, diikuti lonjakan ekspor ke China sebesar 33,4% pada Oktober 2025 dibanding tahun sebelumnya, terutama kedelai (naik 74,9%) dan daging sapi (43,6%). Pangsa China dalam total ekspor Brasil melonjak dari 23,6% menjadi 28,8%, memperdalam ketergantungan struktural pada satu mitra yang rentan terhadap slowdown ekonomi Beijing.
Efek domino strategi ini semakin jelas. Hubungan dengan Uni Eropa macet total dimana Kesepakatan Mercosur–UE FTA ditunda lagi pada November 2025, akibat tekanan petani Prancis yang menolak impor daging murah dari Brasil dan Argentina, dengan Menteri Pertanian Annie Genevard bersumpah memblokir deal yang “mengutuk petani kami”. Sementara itu, BRICS+ gagal sebagai alternatif kredibel, dedolarisasi hanya mencapai 9 - 11% transaksi intra-bloc pada 2025, dengan kemajuan terbatas pada perdagangan bilateral seperti Rusia-China, bukan reformasi sistemik. New Development Bank (NDB) pun lemah, hanya menyalurkan sekitar US$4 miliar per tahun untuk proyek global, sementara kebutuhan infrastruktur Brasil saja mencapai US$200 miliar tahunan untuk capai target 4% PDB.
Jika dibandingkan dengan India, yang berhasil hedging sukses 2020–2025, dimana ketergantungan impor dari China turun dari 18% menjadi 12% melalui skema Production Linked Incentive (PLI) dan aliansi Quad (AS, Jepang, Australia), sambil tingkatkan ekspor elektronik ke AS naik 240% pada 2025. Brasil? Ketergantungannya malah naik, membuktikan multi-alignment sebagai ilusi yang memperlemah, bukan menguatkan, posisi tawar.
Biaya Domestik yang Disembunyikan
Multi-alignment Brasil, meski dipromosikan sebagai strategi fleksibel, menimbulkan biaya domestik yang sering kali disembunyikan di balik retorika global. Pertama, banjir impor murah dari China mempercepat de-industrialisasi dan menekan upah di sektor manufaktur. Studi menggunakan data survei rumah tangga Brasil (2000–2012, diperbarui hingga 2024) menunjukkan bahwa peningkatan penetrasi impor China sebesar 1% menurunkan upah pekerja tidak terampil di industri padat karya hingga 0,5 - 1%, sementara upah pekerja terampil di industri lain justru turun akibat kompetisi input menengah. Pada 2025, dengan impor China naik 28%, pengangguran manufaktur mencapai 11,4% (IBGE, November 2025), memicu inflasi impor yang mendorong ekspektasi CPI hingga 6,3% tertinggi sejak Desember 2024 dan melemahkan daya beli kelas pekerja.
Kedua, deforestasi Amazon melonjak meski janji COP30, karena kebutuhan devisa cepat dari agribisnis untuk bayar utang. Data INPE (Agustus 2024–Juli 2025) mencatat deforestasi 5.796 km², naik 27% dari periode sebelumnya, dengan degradasi hutan meningkat 44% YoY dan 163% sejak 2022 akibat kebakaran untuk ekspansi kedelai/daging. Ini bertentangan dengan target nol deforestasi ilegal 2030, di mana 51% kerusakan terkait lahan terbakar baru-baru ini.
Ketiga, politik dalam negeri memperburuk inkonsistensi, dimana Kongres pro-AS memaksa Lula ubah suara PBB soal Ukraina tiga kali (2023: abstain; 2024: abstain; 2025: for pada resolusi AS, abstain pada Ukraina), merusak kredibilitas multi-alignment. Akibatnya, strategi ini bukan penguatan, melainkan beban domestik yang menimbun.
Keberlanjutan Brasil di Masa Depan
Secara keseluruhan, Multi-alignment Brasil 2023 - 2025 bukanlah realisme cerdas yang sering dipuji, melainkan oportunisme yang dibungkus ideologi “pemimpin Global South”. Ketergantungan pada ekspor komoditas mentah ke China semakin dalam, reformasi tata kelola global tak pernah terwujud, dan biaya domestik berupa de-industrialisasi, deforestasi, serta inflasi terus membengkak. Strategi “berteman dengan semua” ternyata hanya membuat Brasil kehilangan leverage, bukan menambahnya.
Jika pola ini berlanjut hingga 2026 - 2030, Brasil berisiko menjadi swing state abadi: negara besar yang selalu diombang-ambing antara Washington dan Beijing, tanpa pernah mampu menentukan arah sendiri, apalagi memimpin kawasan atau Global South.
Untuk keluar dari jebakan ini, Brasil harus berani memilih. Pertama, prioritaskan aliansi hijau strategis dengan Uni Eropa dan India yang menawarkan transfer teknologi bersih. Kedua, luncurkan industrialisasi hijau berskala besar agar tidak lagi hanya menjual kedelai dan bijih besi. Ketiga, ambil posisi tegas pada satu isu besar, misalnya reformasi Dewan Keamanan PBB daripada terus mengulang mantra “semua teman, tak ada musuh”. Hanya dengan berani memilih, Brasil bisa berhenti menjadi penonton cerdas dan mulai menjadi pemain yang mengubah aturan permainan.
Referensi
Barabanov. O., (2025). Results of the UN General Assembly vote on Ukraine in February 2025. Valdai. https://valdaiclub.com/a/highlights/results-of-the-un-general-assembly-vote-on-ukraine/
Costantino. L…, (2025). Amazon degradation increases by 163% in two years, while deforestation falls by 54% in the same period.Phys.org. https://phys.org/news/2025-07-amazon-degradation-years-deforestation-falls.html
Dey.p., (2025). Despite surge in exports, India’s trade deficit with China keeps widening. The New Indian Express. https://www.newindianexpress.com/amp/story/business/2025/Nov/23/despite-surge-in-exports-indias-trade-deficit-with-china-keeps-widening
Ionova. A., (2025). Here Is What to Know About Trump’s 50% Tariffs on Brazil. The New York Times. https://www.nytimes.com/2025/07/31/world/americas/trump-brazil-tariffs-lula.html
Konchinski. V., (2025). Trump’s 50% tariff on Brazilian exports takes effect, triggering layoffs in key sectors. Brazil de Fato. https://www.brasildefato.com.br/2025/08/06/trumps-50-tariff-on-brazilian-exports-takes-effect-triggering-layoffs-in-key-sectors/
Market Minute. (2025). BRICS Ignites Dedollarization Drive: A New Era for Global Trade and US Debt Servicing?. Wral News. https://markets.financialcontent.com/wral/article/marketminute-2025-9-9-brics-ignites-dedollarization-drive-a-new-era-for-global-trade-and-us-debt-servicing
Merco Press. (2025). French minister vows to block EU-Mercosur FTA out of concern for its farmers. https://en.mercopress.com/2025/11/10/french-minister-vows-to-block-eu-mercosur-fta-out-of-concern-for-its-farmers
Neves. G., Amriom. R., Watanabe. M., (2025). Brazil’s exports rise despite 38% plunge in U.S. sales. Valor International. https://valorinternational.globo.com/economy/news/2025/11/07/brazils-exports-rise-despite-38percent-plunge-in-us-sales.ghtml
Paz. L., Kapri. K. P., (2025). The Effects of the Chinese Imports on Brazilian Manufacturing Workers. MDPI. Economies. http://dx.doi.org/10.3390/economies7030076
Reuters., (2025). Brazil’s beef exports to China surge as Trump’s tariffs shift global demand. Aljazeera. https://www.aljazeera.com/economy/2025/10/8/brazils-beef-exports-to-china-surge-as-trumps-tariffs-shift-global-demand
Salve. P., (2025). India is dependent on China for electronic components. Now it’s trying to change that. CNBC. https://www.cnbc.com/2025/10/29/india-is-dependent-on-china-for-electronic-components-now-its-trying-to-change-that-.html
Stuenkel. O., (2025). Multi-Alignment as Strategy: How Brazil Navigates Between Washington, Beijing, and the Global South. Harvard Kennedy School for Science and International Affairs. https://www.belfercenter.org/research-analysis/multi-alignment-strategy-how-brazil-navigates-between-washington-beijing-and
Tousaint. E., (2025). The BRICS and de-dollarisation. CADTM. https://www.cadtm.org/The-BRICS-and-de-dollarisation
United Nations., (2025). At Three-Year Mark of Russian Federation’s Invasion, General Assembly Upholds Ukraine’s Territorial Integrity, Adopting Two Resolutions. UN Press. https://press.un.org/en/2025/ga12675.doc.htm
Wells. I., (2025). Why Trump's tariffs on Brazil are more about political retaliation than trade. BBC, https://www.bbc.com/news/articles/cwy0147vxyqo
Wolf. M., Sawan N., (2025). Brazil economic outlook, November 2025. Deloitte. https://www.deloitte.com/us/en/insights/topics/economy/americas/brazil-economic-outlook.html
