Transformasi Pertanian: Irigasi Tetes Berbasis Mikrokontroler untuk Efisiensi

Dosen Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas
ยทwaktu baca 4 menit
Tulisan dari Sanda Patrisia Komalasari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pertanian di daerah tropis, khususnya di Sumatera Barat, sering kali menghadapi tantangan besar terkait pengelolaan air, terutama di daerah yang memiliki akses terbatas terhadap sumber daya alam dan infrastruktur teknologi yang memadai. Pesantren Jabal Rahmah, yang terletak di Jorong Anau Kadok, Desa Talang, Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok, adalah salah satu contoh lokasi yang menghadapi tantangan ini.
Untuk mengatasi masalah tersebut, Universitas Andalas, melalui program pengabdian kepada masyarakat yang didanai oleh DPPM Kemdiktisaintek, sedang mengembangkan sistem irigasi tetes berbasis mikrokontroler. Sistem ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi pengelolaan air untuk pertanian di pesantren, khususnya untuk budidaya bawang merah. Namun, ada tantangan yang cukup signifikan yang perlu diatasi, yakni akses sinyal internet yang terbatas di daerah tersebut.

Bagaimana sistem ini tetap berfungsi efektif meskipun ada hambatan teknis? Mari kita jelajahi bersama!
Pesantren Jabal Rahmah: Lokasi yang Menjadi Fokus Pengabdian
Pesantren Jabal Rahmah tidak hanya berfungsi sebagai tempat pendidikan agama, tetapi juga memiliki lahan pertanian seluas 10 hektar. Lahan ini digunakan untuk budidaya bawang merah dan produk pertanian lainnya yang membantu mencukupi kebutuhan pangan pesantren dan memberikan pendapatan tambahan bagi petani lokal.
Namun, tantangan utama yang dihadapi adalah ketersediaan air yang tidak selalu stabil, ditambah dengan biaya tenaga kerja yang tinggi untuk pengairan manual. Penggunaan sistem irigasi tetes otomatis berbasis mikrokontroler dapat menjadi solusi yang efisien untuk menghemat penggunaan air dan mengurangi biaya operasional.
Sistem Irigasi Tetes Cerdas: Teknologi Mikrokontroler untuk Pertanian Presisi
Sistem irigasi tetes yang dikembangkan menggunakan mikrokontroler ESP32 ini dirancang untuk memberikan pengelolaan air yang presisi, hanya memberi air pada tanaman ketika dibutuhkan. Dengan menggunakan sensor kelembaban tanah, sistem ini akan memicu aktivasi irigasi otomatis berdasarkan ambang batas Potensial Kelembaban Tanah (SMP).
Namun, pengaplikasian teknologi ini tidaklah tanpa tantangan. Salah satu masalah terbesar di Pesantren Jabal Rahmah adalah sinyal yang tidak stabil. Untuk sistem ini berfungsi dengan baik, dibutuhkan konektivitas Internet of Things (IoT) yang memungkinkan komunikasi antar perangkat. Sayangnya, keterbatasan sinyal di daerah tersebut bisa menjadi hambatan besar dalam mengirimkan data real-time dan memonitor sistem dari jarak jauh.
Tantangan Sinyal: Solusi untuk Mengatasi Keterbatasan Teknologi
Di daerah dengan sinyal yang sulit seperti di Jorong Anau Kadok, sistem irigasi tetes cerdas berbasis mikrokontroler masih dapat berfungsi secara otomatis meskipun tanpa koneksi internet yang stabil. Sistem ini dilengkapi dengan logika kontrol berbasis mikrokontroler yang dapat bekerja secara independen tanpa ketergantungan penuh pada koneksi internet. Dengan menggunakan sensor lokal, sistem tetap dapat memicu irigasi berdasarkan data yang diperoleh secara langsung dari sensor kelembaban tanah, tanpa perlu mengandalkan data yang dikirim secara online.
Untuk memastikan sistem tetap dapat beroperasi bahkan ketika sinyal internet terputus, sistem ini juga dirancang dengan kemampuan backup dan pencatatan lokal yang memungkinkan pengambilan data secara periodik. Dengan demikian, kendala sinyal yang sulit tidak akan mengganggu pengoperasian sistem secara keseluruhan. Selain itu, tim juga telah menyiapkan sebuah website pendukung sebagai dashboard pemantauan dan pengendalian jarak jauh. Walaupun penggunaannya mungkin menghadapi tantangan keterbatasan sinyal.
Program Pengabdian Universitas Andalas bersama DPPM Kemendiksaintek
Sebagai wujud pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi, Universitas Andalas bersama DPPM Kemendikbudristek mengembangkan sistem irigasi tetes cerdas berbasis mikrokontroler sebagai inovasi dalam pengelolaan air pertanian di lingkungan pesantren. Program pengabdian masyarakat ini dipimpin oleh Sanda Patrisia Komalasari, dosen Akuntansi Universitas Andalas, yang sebelumnya telah berpengalaman melakukan studi kelayakan bisnis bawang merah di pesantren ini dengan dukungan dari Bank Indonesia. Kegiatan ini turut melibatkan Rizka Hadelina, dosen Sistem Komputer, serta Muhammadiqbal Abdi Lubis, dosen Teknik Pertanian, yang berkontribusi dalam aspek teknis perancangan dan implementasi sistem.
Program ini tidak hanya mengembangkan sistem irigasi otomatis, tetapi juga bertujuan untuk memberdayakan pesantren dengan memberikan pengetahuan dan keterampilan tentang teknologi pertanian modern. Pesantren akan menjadi pusat contoh bagi petani sekitar, yang dapat memanfaatkan teknologi ini untuk meningkatkan hasil pertanian dan mengurangi pemborosan air.
Langkah ke Depan: Kolaborasi untuk Keberlanjutan
Pengembangan sistem irigasi tetes cerdas ini juga membuka peluang untuk kolaborasi lebih lanjut antara Universitas Andalas, pesantren, dan pemerintah daerah untuk memperluas penggunaan teknologi pertanian modern di wilayah lainnya. Penerapan teknologi ini diharapkan bisa meningkatkan ketahanan pangan, mengurangi ketergantungan pada sumber daya alam yang terbatas, dan mendorong keberlanjutan pertanian di daerah-daerah yang sulit dijangkau.
Program pengabdian ini, meskipun menghadapi tantangan sinyal yang terbatas, menunjukkan betapa inovasi teknologi dan kolaborasi antara akademisi dan masyarakat dapat membawa perubahan positif yang signifikan.
