Karsa Magzolla: Mahasiswa PPG UMSURA Sulap Sisa MBG Jadi Pakan Ternak Bernilai

Dosen Pendidikan Matematika Universitas Muhammadiyah Surabaya
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Sandha Soemantri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
SURABAYA – Program Karsa Magzolla buatan mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) UMSurabaya sukses membuktikan bahwa sisa makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) dapat disulap menjadi pakan ternak bernilai tinggi. Inovasi Projek Kepemimpinan PPG ini dilaksanakan di SDN Wonorejo III/314 Surabaya sebagai bentuk aksi nyata mengatasi persoalan sampah organik sekolah.
Berangkat dari kepedulian terhadap lingkungan dan semangat mengembangkan konsep urban schooling di Surabaya, program Karsa Magzolla hadir untuk mengubah sisa makanan yang belum termanfaatkan menjadi sumber daya yang bernilai. Program ini mengintegrasikan budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) dan tanaman air Azolla microphylla sebagai bahan pakan alternatif bagi ayam pedaging dan ayam petelur yang dipelihara sekolah.
Program yang berlangsung pada 18 September–13 Oktober 2026 ini merupakan luaran mata kuliah wajib Projek Kepemimpinan mahasiswa PPG Calon Guru Kelas B1 UMSurabaya, di bawah bimbingan dosen Sandha Soemantri, M.Pd.
Tim penggagas Karsa Magzolla diketuai oleh Zaenal Fanani, bersama Amalia Nurul Arfianti, Anita Agustini, Fanesya Putri Azzahra, Mayasara Ayunina, Miftakhul Romzah, Nur Hayati, Nuralianisa, Putri Assyaffa Nabila, dan Rossyda Lingan Cintawan.
Lebih dari sekadar program budidaya, Karsa Magzolla menjadi upaya menghadirkan pembelajaran yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Siswa tidak hanya mengenal pentingnya pengelolaan sampah organik, tetapi juga terlibat langsung dalam proses pemanfaatan sisa makanan, budidaya maggot, pemanenan Azolla, hingga perawatan ayam ternak. Dengan demikian, lingkungan sekolah menjadi ruang belajar yang menghubungkan pengetahuan, keterampilan, kepedulian lingkungan, dan kemandirian.
Implementasi Karsa Magzolla dari Sisa Makanan Menjadi Inovasi Membanggakan
Kehadiran program Karsa Magzolla disambut antusias oleh warga SDN Wonorejo III/314 Surabaya. Kepala sekolah, Miliasih Sovi Astuti, M.Pd., mengungkapkan kebahagiaannya atas kontribusi mahasiswa PPG UMSurabaya yang dinilai memberikan pengalaman belajar sekaligus manfaat nyata bagi sekolah.
“Kami merasa sangat bahagia dengan adanya program Karsa Magzolla ini. Anak-anak sangat semangat dan antusias belajar mengelola budidaya pakan hingga merawat ayam sebagai bagian dari kegiatan Urban Schooling. Hasilnya sungguh nyata, telur ayam yang dihasilkan sekolah kini ukurannya jauh lebih besar dibanding sebelum menggunakan pakan alternatif ini,” tutur Miliasih.
Apresiasi tersebut menunjukkan bahwa inovasi sederhana yang dirancang berdasarkan kebutuhan sekolah dapat menghadirkan pengalaman belajar yang bermakna. Siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan melalui penjelasan di kelas, tetapi juga belajar melalui praktik langsung, pengamatan, dan keterlibatan dalam merawat lingkungan sekolah.
Hal senada disampaikan Mohammad Amirudin, M.Pd.I, guru pendamping kegiatan peternakan sekolah. Menurutnya, pendampingan mahasiswa PPG membantu siswa memahami proses pengelolaan limbah organik sekaligus mengenal cara menghasilkan pakan alternatif bagi ternak.
“Mahasiswa PPG B1 mendampingi siswa secara telaten. Anak-anak diajak memilah sisa makanan MBG untuk maggot dan memanen Azolla. Selain menghemat biaya pakan, anak-anak belajar nilai kemandirian dan kepedulian lingkungan secara langsung,” jelas Amir.
Melalui kegiatan tersebut, pengelolaan sisa makanan tidak lagi dipandang semata-mata sebagai persoalan sampah, tetapi sebagai peluang untuk menciptakan siklus pemanfaatan sumber daya yang lebih berkelanjutan di lingkungan sekolah.
Pengembangan Tepung Pakan Alternatif Karsa Magzolla
Inovasi Karsa Magzolla tidak berhenti pada pemanfaatan maggot dan Azolla dalam bentuk segar. Tim mahasiswa PPG B1 bersama pihak sekolah juga merencanakan pengembangan tahap berikutnya, yakni mengolah kedua bahan tersebut menjadi tepung pakan alternatif.
Pengembangan ini diharapkan dapat mempermudah pencampuran bahan pakan, memperpanjang daya simpan, serta mendukung pengelolaan pemberian pakan yang lebih praktis dan terukur. Dengan pengolahan yang tepat, maggot dan Azolla berpotensi menjadi bagian dari alternatif sumber nutrisi dalam pemeliharaan ayam sekolah.
Rencana tersebut sekaligus membuka peluang agar Karsa Magzolla dapat dikembangkan secara berkelanjutan, tidak hanya sebagai proyek pembelajaran mahasiswa, tetapi juga sebagai praktik baik yang dapat terus dimanfaatkan dan disempurnakan oleh sekolah.
Karsa Magzolla Berbuah Penghargaan di Ajang SATRIA Surabaya
Dampak positif pengembangan Urban Schooling di SDN Wonorejo III/314 Surabaya turut mendapat pengakuan melalui Penghargaan Praktik Baik dalam ajang SATRIA Surabaya (Science, Arts, Technology, Research, Innovation, Agriculture) yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Kota Surabaya pada 19 Oktober 2026.
Penghargaan ini menjadi kebanggaan sekaligus penguat bahwa inovasi pendidikan dapat tumbuh dari persoalan nyata di lingkungan sekolah. Melalui Karsa Magzolla, gagasan mahasiswa PPG Calon Guru Kelas B1 UMSurabaya tidak hanya diwujudkan dalam sebuah proyek, tetapi juga memberikan kontribusi bagi pengembangan pembelajaran yang kontekstual, pengelolaan lingkungan, dan kemandirian sekolah.
Bagi mahasiswa PPG, pengalaman ini menjadi ruang untuk mengasah kepemimpinan, kreativitas, kolaborasi, dan kemampuan menghadirkan solusi atas kebutuhan masyarakat. Bagi siswa, program ini menumbuhkan pengalaman belajar yang nyata dan menyenangkan. Sementara bagi sekolah, Karsa Magzolla membuka peluang untuk mengembangkan ekosistem pembelajaran yang produktif dan berkelanjutan.
Dari sisa makanan menjadi sumber daya, dari kegiatan sederhana menjadi pengalaman belajar bermakna, Karsa Magzolla memperlihatkan bahwa inovasi pendidikan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Terkadang, perubahan justru berawal dari keberanian melihat potensi di balik persoalan sehari-hari.
Inilah semangat yang sejalan dengan pengembangan Sekolahe Arek Suroboyo (SAS): menghadirkan sekolah yang inovatif, mandiri, peduli lingkungan, dan mampu menjadi ruang tumbuh bagi generasi masa depan.
