Budaya Hierarki dan Tantangan Komunikasi Organisasi di Era Digital

Mahasiswa Universitas Pamulang Ilmu Komunikasi ingin melatih keterampilan menulis, agar terbiasa buat berpikir rasionalis, dan logis
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Sandi Ferdiansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Rata-rata budaya dalam organisasi di Indonesia ini cenderung hierarki atau disebut komunikasi yang satu arah dan tidak terjalinnya dua arah, dengan demikian hal itu sangat berbeda oleh budaya barat, karena budaya barat adalah mempunyai sifat egaliter atau yang disebut komunikasi yang terjalin dua arah karena adanya keakraban terhadap atasan dan anggota.
Oleh karena itu sifat yang sangat keterbatasan dimiliki budaya lokal di Indonesia yaitu ketika anggota ingin membawakan pendapat atau argument mereka, itu tidak selalu ditanggapi langsung oleh atasan karena penyampaian pesan tersebut harus berstruktur, maka itu akan berdampak sangat buruk bagi lingkungan organisasi. Karena suara atau pun kritik dari anggota tidak merasa didengar langsung oleh atasan.
Berdasarkan dari jurnal. Hal ini disebabkan oleh adanya kesenjangan antara teori yang bersumber dari budaya Barat yang cenderung egaliter, langsung (direct), dan individualistik dengan realitas budaya Indonesia yang kolektivistik, hierarkis, serta menjunjung tinggi harmoni dan komunikasi tidak langsung. (Kriyantono & McKenna, 2017)
Lalu adanya pergerakan era digital modern yaitu komunikasi di era modern peran manajer komunikasi tidak lagi terbatas oleh penyiaran pers atau pengolahan media tetapi telah berkembang menjadi peran strategis yang krusial dalam membentuk persepsi publik dan menjaga reputasi organisasi. Manajer komunikasi kini dituntut menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan strategis organisasi, sekaligus mampu mengelola isu, membangun narasi korporat, dan menjaga relasi dengan para pemangku kepentingan.
Dalam Jurnal Ilmiah Indonesia Syntax Literate menegaskan bahwa komunikasi yang bersifat strategis dan komprehensif merupakan fondasi pembentukan reputasi, sehingga manajer komunikasi perlu berperan sebagai arsitek komunikasi yang berorientasi pada citra dan identitas organisasi secara jangka panjang
Salah satu permasalahan mendasar dalam pengembangan komunikasi organisasi di Indonesia adalah belum tersedianya pendekatan manajemen komunikasi strategis yang dirancang secara khusus sesuai kebutuhan dan tantangan lokal. Banyak organisasi masih mengadopsi model manajemen komunikasi strategis dari luar tanpa adaptasi yang memadai terhadap karakteristik budaya, struktur organisasi, dan konteks sosial Indonesia, sehingga strategi komunikasi yang diterapkan sering kali bersifat normatif, tidak terarah, dan tidak efektif dalam jangka panjang.
Dengan demikian dalam berorganisasi maka perlu adanya pemahaman yang baik dalam lingkungan tersebut serta adaptif sehingga itu dapat memudahkan kita untuk memahami situasi yang sedang terjadi, maka ketika itu sudah terjalani dengan baik kemungkinan besar tidak akan terjadi hal-hal buruk tertimpa ke diri kita.
