Jangan Sampai AI Lebih Cepat, tapi ASN Berhenti Berpikir

ASN Panwaslih Kabupaten Aceh Barat
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Sandi Putra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada satu pemandangan yang mungkin sebentar lagi menjadi biasa di kantor pemerintahan. Seorang ASN membuka komputer, mengetik beberapa kalimat, lalu dalam hitungan detik sebuah ringkasan selesai dibuat. Surat lebih cepat, Data lebih cepat diolah, Bahkan gagasan awal sebuah pekerjaan bisa muncul sebelum kopi di meja habis.
Saya tidak takut pada keadaan itu. Justru saya melihatnya sebagai kesempatan. Yang saya khawatirkan adalah hal lain “Jangan sampai AI semakin pintar, sementara ASN semakin malas berpikir.”
Pemerintah sendiri sedang mendorong pemanfaatan kecerdasan buatan dalam transformasi digital ASN. AI mulai diarahkan untuk membantu pekerjaan administratif, pengelolaan talenta, analisis, hingga pengambilan keputusan. Artinya AI bukan lagi cerita tentang masa depan. Ia sudah mengetuk pintu ruang kerja kita.
Sebagai ASN, saya melihat perubahan ini bukan sekadar persoalan bisa atau tidak menggunakan teknologi. Pertanyaan yang lebih penting adalah untuk apa teknologi itu digunakan?
AI dapat membantu membaca data dalam jumlah besar. Ia dapat merangkum dokumen panjang, menemukan pola, menyusun alternatif bahkan mempercepat pekerjaan yang selama ini menghabiskan banyak waktu. Itu kabar baik. Birokrasi memang membutuhkan cara kerja yang lebih sederhana dan cepat.
Namun ada sesuatu yang tidak boleh kita serahkan begitu saja kepada mesin secara Penuh. Bayangkan seorang ASN menerima hasil analisis AI mengenai persoalan pelayanan publik. Angkanya terlihat meyakinkan, Bahasanya rapi, Kesimpulannya terdengar masuk akal, Lalu kita mengangguk dan menggunakannya tanpa bertanya dari mana datanya, bagaimana data itu dibentuk, siapa yang tidak terwakili dan siapa yang akan terkena dampaknya?
Di situlah masalah dimulai.
Teknologi bekerja dengan data dan pola. Pemerintahan bekerja di tengah manusia dengan persoalan yang sering kali tidak sesederhana angka. Ada warga yang tidak memahami prosedur, ada kelompok rentan yang tidak terlihat dalam statistik, ada kondisi daerah yang tidak muncul dalam sebuah table dan ada keputusan yang secara administratif terlihat efisien tetapi justru menyulitkan masyarakat.
Karena itu, AI seharusnya menjadi kopilot bukan pengemudi birokrasi. Masalahnya, kita memiliki kebiasaan lama yang perlu dibongkar yaitu menganggap sesuatu benar karena datang dari sistem. Dulu kita mungkin berlindung di balik kalimat “sesuai arahan”. Jangan sampai sekarang muncul kalimat baru “hasil dari AI”. Keduanya sama-sama berbahaya jika digunakan untuk menghindari tanggung jawab berpikir.
Saya percaya ASN justru harus naik kelas. Pekerjaan rutin boleh dibantu mesin, Pekerjaan administratif boleh dipercepat teknologi. Tetapi waktu yang berhasil dihemat seharusnya dikembalikan kepada pekerjaan yang lebih manusiawi yaitu dengan membaca persoalan, berdiskusi, menguji asumsi, mendengar masyarakat dan mengambil keputusan dengan tanggung jawab.
Di sinilah tantangan sebenarnya.
Kita tidak cukup hanya mengajari ASN cara membuat prompt. Kita juga harus mengajarkan cara mempertanyakan jawaban yang lahir dari prompt. Keterampilan digital tanpa daya kritis hanya akan melahirkan birokrasi yang lebih cepat melakukan kesalahan.
Karena itu, saya membayangkan budaya kerja ASN yang baru. Setiap kali AI memberikan jawaban, ASN tidak berhenti pada pertanyaan “benar atau tidak?”, tetapi melanjutkannya dengan pertanyaan “mengapa,?” “berdasarkan data apa?,” “siapa yang terdampak?” dan “apa yang mungkin terlewat?” Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu justru menjadi pagar agar teknologi tidak mengambil alih nalar manusia.
Kita juga perlu membangun kebiasaan kerja yang memungkinkan hasil AI diperiksa, bukan langsung dipercaya. Dokumen yang dibuat dengan bantuan AI harus tetap melalui verifikasi. Data sensitif tidak boleh sembarangan dimasukkan ke sistem. Rekomendasi mesin harus diuji dengan konteks lapangan dan keputusan yang menyangkut kepentingan masyarakat tetap harus memiliki manusia yang bertanggung jawab di belakangnya.
Saya tidak ingin ASN menjadi operator teknologi semata. Saya ingin ASN menjadi manusia yang mampu menggunakan teknologi tanpa kehilangan akal sehatnya. Sebab birokrasi bukan pabrik yang hanya mengejar jumlah keluaran. Di balik setiap data ada manusia. Di balik setiap keputusan ada kepentingan dan di balik setiap pelayanan ada warga yang berharap negara memperlakukannya secara adil.
Mungkin kelak AI dapat menulis surat lebih cepat daripada kita. Mungkin ia dapat membaca dokumen lebih teliti. Mungkin ia bahkan mampu memberikan rekomendasi yang jauh lebih cepat daripada rapat berjam-jam.
Tidak masalah.
Yang harus kita pastikan adalah ASN tetap memiliki keberanian untuk memeriksa, mempertanyakan dan jika perlu menolak jawaban mesin. Masa depan birokrasi bukan pertarungan antara manusia dan AI. Yang kita perlukan adalah manusia yang tahu kapan harus menggunakan mesin, kapan harus memeriksa hasilnya dan kapan harus berkata “Saya tidak setuju.”
Biarkan AI bekerja lebih cepat. Biarkan teknologi membantu kita menghemat waktu dan tenaga. Tetapi jangan sampai kecepatan itu dibayar dengan hilangnya kemampuan ASN untuk berpikir. Karena birokrasi yang cepat memang diperlukan. Namun birokrasi yang cepat tanpa nalar hanya akan membuat kesalahan datang lebih cepat pula.
