Stereotype Culture Anak Jaksel dan Anggapan Mentalitas yang Lemah

Sandika Mulia
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Binus University
Konten dari Pengguna
20 Januari 2023 15:06 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Sandika Mulia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi Nongkrong Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Nongkrong Foto: Shutterstock
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Sebelumnya pernah denger gak, sih, soal stereotype culture anak muda Jaksel? Yap, tentunya satu atau dua kali hal ini pernah dibahas.
ADVERTISEMENT
Yang paling terlihat yaitu dari cara penggunaan bahasa yang merupakan campuran antara bahasa Indonesia dan kosa kata bahasa Inggris seperti literally, which is, cmiiw, even do, dan lain sebagainya yang kerap kali diucapkan dan menjadi bahasa gaul tersendiri bagi anak-anak muda metropolitan ini.
Selain itu, stereotype lainnya adalah dianggap paling aware terhadap mental health atau kesehatan mental. Juga dikenal paling senang healing dan hobi flexing. Tidak lupa juga gaya fashion yang memang terbilang berani dalam berpakaian hingga sering menciptakan tren-tren yang terkesan mindblowing.
Uniknya fenomena ini tidak hanya terjadi di kota Jakarta Selatan saja, melainkan hal ini juga terjadi di kota-kota besar. Maka dari itu, penulis menganggap bahwa hal ini bukan tentang masalah geografis melainkan tentang pola pikir dan gaya hidup yang dibangun.
ADVERTISEMENT
Kemudian, yang menjadi pertanyaan adalah apakah culture Jaksel ini salah? Apakah sebenarnya mentalitas ini terjadi pada semua generasi, terutama generasi Z?
Kewaspadaan terhadap kualitas kesehatan mental sendiri terbilang baik. Sebab dengan banyaknya orang yang mulai memperhatikan kesehatan mental mereka, maka orang akan lebih berhati-hati dalam segala hal.
Namun, dampak negatifnya adalah karena terlalu waspada ini menjadikan banyaknya label dan diagnosa sendiri terhadap gangguan mental. Akibatnya, jika hanya berandai-andai pada diagnosa sendiri tanpa adanya pendampingan psikolog akan rentan salah diagnosis.
Menanggapi akan culture yang dibangun oleh anak muda Jaksel ini, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan. Salah satunya adalah self management yang berguna sebagai alat untuk menguatkan mental, menjadikan pribadi yang mandiri, serta membantu menyelesaikan masalah dengan solusi dan pertimbangan yang matang juga tepat.
ADVERTISEMENT
Selain itu, penting juga untuk terus berlajar mengubah mindset menjadi lebih sehat. Karena pada dasarnya tidak ada yang salah dengan tren. Masalah culture tetap harus membangun culture yang baik. Sebab, culture yang dibangun akan menjadi pembiasaan yang mungkin akan terus diturunkan kepada generasi-generasi selanjutnya di masa yang akan datang.
Pelajarannya adalah self management jadi kunci utama dalam menjaga awareness di tengah kemunculan media sosial dan kehidupan yang terus berkembang seperti saat ini.