Kemenkes Utamakan Pemerataan Nakes, Wilayah Timur Jadi Sasaran

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memprioritaskan penempatan tenaga medis dan tenaga kesehatan (nakes) di daerah yang belum memiliki tenaga kesehatan atau masih mengalami kekosongan. Wilayah Indonesia bagian timur menjadi salah satu sasaran pemenuhan sumber daya manusia (SDM) kesehatan tersebut.
Direktur Penyediaan Sumber Daya Manusia Kesehatan Kemenkes, Ika Trisia, mengatakan pemerintah memetakan kebutuhan tenaga kesehatan berdasarkan ketersediaan dan analisis beban kerja di masing-masing daerah. Daerah yang sama sekali belum memiliki tenaga kesehatan akan didahulukan.
"Jadi kalau kita punya prioritas, kita akan mengisi tenaga yang saat ini nol orangnya. Banyak di daerah-daerah kita, terutama di wilayah timur Indonesia, di situ tidak ada sama sekali untuk tenaga kesehatannya," kata Ika dalam konferensi pers The 14th Asia Pacific Action Alliance on Human Resources for Health (AAAH) Conference, Badung, Rabu (4/11).
Menurut Ika, Jawa dan Bali tidak menjadi prioritas utama karena masih memiliki sumber daya untuk memenuhi kebutuhan tenaga kesehatan. Kekurangan di kedua wilayah tersebut lebih berkaitan dengan jumlah tenaga yang belum sebanding dengan kebutuhan berdasarkan analisis beban kerja (ABK).
"Untuk Jawa dan Bali, kekurangannya dari segi pemenuhan analisis beban kerja. Dari segi orang sebenarnya ada, tapi dari segi jumlah itu kurang," jelasnya.
Secara umum, Indonesia memiliki 180.327 dokter teregistrasi dengan rasio 0,62 dokter per 1.000 penduduk. Data Kemenkes juga menunjukkan 6.520 dari 10.337 puskesmas atau sekitar 63 persen telah memiliki sembilan jenis tenaga kesehatan sesuai standar. Sementara itu, sebanyak 681 dari 843 RSUD atau sekitar 80,8 persen telah memiliki tujuh jenis dokter spesialis dasar.
Untuk mengatasi kekurangan tersebut, Kemenkes menjalankan program penugasan khusus dengan merekrut tenaga kesehatan untuk ditempatkan di daerah yang membutuhkan.
"Kami punya beberapa cara pemenuhan SDM kesehatan. Salah satunya adalah kita melalui penugasan khusus, jadi kita akan rekrut orang-orang yang bisa kita tempatkan di daerah-daerah tersebut," ungkap Ika.
Selain itu, Kemenkes memberikan beasiswa kepada putra-putri daerah dengan mendorong mereka mengambil jurusan yang sesuai dengan kebutuhan tenaga kesehatan di wilayah asalnya.
"Jadi pemberian beasiswa pun kita tidak mengikuti apa yang mereka ingin, tapi kita akan dorong dia untuk mengambil jurusan yang memang secara kebutuhan di situ kosong," ucapnya.
Melalui program tersebut, penerima beasiswa diharapkan kembali ke daerah asal setelah menyelesaikan pendidikan untuk mengisi kekosongan tenaga kesehatan.
"Sehingga pada saat dia selesai nantinya dia akan kembali ke daerahnya, memberikan pelayanan kesehatan sesuai dengan kekosongan yang tadi ada di sana," tambah Ika.
