Kisah Made Sumitra Bertahan di Tengah Perubahan: 25 Tahun Jadi Fotografer Tanah Lot

Kamera menjadi teman setia I Made Sumitra (56) selama puluhan tahun terakhir. Di kawasan Daya Tarik Wisata (DTW) Tanah Lot, Kabupaten Tabanan, Bali, ia masih menjalani profesinya sebagai fotografer dengan menawarkan jasa kepada wisatawan yang ingin mengabadikan kenangan.
Sumitra tetap menekuni pekerjaan tersebut meski harus menghadapi pasang surut kunjungan wisatawan dan perkembangan teknologi yang membuat pengunjung lebih banyak mengabadikan momen menggunakan kamera ponsel.
"Memang profesi saya dari sini. Sudah hobi dan suka juga. Di samping itu, refreshing sama teman-teman. Santai-santai juga begitu," ungkap Sumitra kepada kumparan di Tanah Lot, Tabanan, Jumat (6/11).
Perjalanan Sumitra sebagai fotografer dimulai sejak duduk di bangku SMP. Saat itu, ia mengawali pekerjaannya dengan kamera instan yang memungkinkan hasil foto langsung dicetak.
"Kebetulan zamannya dulu Fujifilm, bukan digital, dicetak langsung keluar. Di situ juga bisa bikin foto double, bisa," kata Sumitra.
Ketertarikannya terhadap fotografi terus berkembang. Ia bahkan tetap menjalani pekerjaan tersebut sembari menempuh pendidikan di lembaga Pendidikan Pusat Perhotelan Pariwisata Bali (P4B), kawasan Renon, Bali.
Setelah menyelesaikan pendidikan, Sumitra bergabung dengan kelompok fotografer di DTW Tanah Lot. Hingga kini, ia telah menghabiskan 25 tahun untuk mengabadikan momen wisatawan dengan kameranya.
Meski puluhan tahun menggeluti profesi tersebut, Sumitra mengaku tidak pernah mengikuti pendidikan fotografi secara khusus. Kemampuannya terbentuk dari pengalaman dan praktik sehari-hari.
"Otodidak. Belajar, langsung praktik," ujarnya.
Bekerja di kawasan wisata yang dikunjungi wisatawan dari berbagai negara membuat Sumitra tidak hanya dituntut mahir mengoperasikan kamera. Ia juga harus mampu berkomunikasi dengan pengunjung yang memiliki latar belakang bahasa dan budaya berbeda.
Sumitra mengaku menguasai sejumlah bahasa asing, meski sebatas percakapan sederhana, terutama untuk menawarkan jasa dan menyampaikan harga kepada calon pelanggan.
"Kalau saya, bisa banyak bahasa, terutama untuk masalah menawarkan sama harga. Kalau bercakap-cakap itu kurang," ucapnya sambil terkekeh.
Menurutnya, tantangan terkadang muncul ketika wisatawan datang dalam rombongan besar. Dalam situasi tersebut, fotografer harus mengenali asal negara pengunjung sekaligus menyesuaikan cara berkomunikasi.
"Tamu satu bus, itu tantangan kita dan harus siap mental. Dalam arti kita harus tahu bahasanya, ini orang apa," tuturnya.
Sumitra juga harus menyesuaikan diri dengan karakter wisatawan dari berbagai negara. Bahasa Italia, misalnya, memiliki karakteristik yang berbeda dengan bahasa Jepang.
Penghasilan Fotografer Menurun setelah Pandemi
Selain kendala bahasa, perubahan kondisi pariwisata turut memengaruhi penghasilan fotografer lokal di Tanah Lot.
Sumitra mengingat masa sebelum pandemi COVID-19 sebagai periode ketika pekerjaan fotografer masih cukup menjanjikan. Dalam sehari, ia bahkan bisa memperoleh pendapatan kotor hingga Rp 1,5 juta.
"Kalau sekarang itu ada penurunan. Sebelum Covid memang bisa, kalau satu hari itu kita dapat Rp 1,5 juta. Tapi itu masih kotor," ungkapnya.
Setelah pandemi, jumlah wisatawan yang datang dan menjadi calon pelanggannya berubah. Kesempatan bekerja pun semakin terbatas karena banyak fotografer harus berbagi jadwal operasional.
Berdasarkan catatannya, terdapat sekitar 207 anggota fotografer yang terbagi dalam dua kelompok. Namun, jumlah fotografer yang aktif bekerja dalam satu kelompok paling banyak sekitar 20 orang.
"Setelah pandemi, karena tamunya semakin sedikit, kita kerjanya dua hari sekali. Bukan tiap hari, karena anggota kita banyak," jelasnya.
Kondisi tersebut membuat pekerjaan sebagai fotografer tidak lagi bisa diandalkan setiap hari. Sumitra juga harus menanggung biaya perawatan kamera yang menjadi modal utamanya bekerja.
Selama 25 tahun menekuni profesi tersebut, ia mengaku sudah lima kali mengganti kamera. Perangkat yang digunakannya terus berubah mengikuti perkembangan teknologi, mulai dari kamera Polaroid hingga kamera digital.
Namun, bekerja di kawasan pantai menghadirkan persoalan tersendiri. Uap air laut membuat perangkat elektronik lebih rentan mengalami kerusakan.
"Karena kita kerjanya di pantai. Uap laut itu memang alat elektronik di pantai lebih riskan rusak. Seketika bisa rusak," ungkap Sumitra.
Sekali memperbaiki kamera, ia harus mengeluarkan biaya sekitar Rp 500 ribu. Pengeluaran tersebut terkadang tidak sebanding dengan pendapatan ketika jumlah wisatawan sedang menurun.
"Kita tutupi-tutupi saja. Walaupun misalnya kita tidak dapat di sini, kita dari rumah keluarin uangnya. Selain jadi fotografer, saya juga petani dan pemangku," ucapnya.
Bersyukur dari Hasil Memotret Wisatawan
Meski menghadapi berbagai tantangan, Sumitra mengaku bersyukur karena hasil kerja kerasnya selama ini mampu membiayai pendidikan kedua anaknya hingga meraih gelar sarjana. Kini, kedua anaknya bahkan sudah menikah.
"Kita orang Bali itu bersyukur. Sedikit ada kita bersyukur, banyak juga ada kita bersyukur. Kita jangan menoleh yang atas. Sekali-sekali kita lihat bawah. Yang penting kita tekun," tuturnya.
Dalam kesehariannya, keramahan menjadi modal utama Sumitra saat menawarkan jasa kepada wisatawan. Ia memiliki pengalaman berinteraksi dengan pengunjung dari berbagai daerah di Indonesia maupun mancanegara.
Wisatawan asal Boyolali dan Yogyakarta, misalnya, menurut pengalamannya cukup menyenangkan diajak berbincang. Sementara itu, dari kalangan wisatawan mancanegara, ia menilai pengunjung asal Australia termasuk yang paling ramah dan mudah diajak berfoto.
"Kalau saya sendiri promosinya kita tawarkan dulu. Misalnya orang bule, kita harus banyak senyum, ramah. Kita sapa dulu, asalnya dari mana, berapa hari di Bali. Karena karakter orang beda-beda," jelasnya.
Meski profesi fotografer penuh ketidakpastian, Sumitra belum memiliki keinginan untuk meninggalkan pekerjaannya.
Baginya, fotografi telah menjadi bagian dari perjalanan hidup yang tidak mudah dilepaskan. Selama masih mampu bekerja dan mengoperasikan kamera, ia ingin tetap berada di kawasan Tanah Lot.
"Kayaknya enggak (berhenti dari fotografi). Seumur hidup. Saya kan sekarang masih ada, tetap saya saja yang operasi," pungkasnya.
