Dari Luka Menjadi Pelajaran: Saat Pendidikan Menjawab Ancaman Scammer

Pendidik di SMK Katolik St. Familia Tomohon
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Allesandro Andriano Egbertus Pinangkaan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di tengah derasnya arus informasi hari ini, kita dihadapkan pada satu kenyataan yang tidak bisa diabaikan: scammer. Mereka bukan sekadar gangguan kecil di ruang digital, melainkan bentuk nyata kejahatan yang terorganisir dan terus berkembang. Mereka tidak lagi bekerja dengan cara-cara sederhana. Modusnya semakin halus, bahasanya semakin meyakinkan, bahkan sering kali tampak “resmi” dan sulit dibedakan dari informasi yang benar. Dalam situasi seperti ini, satu hal menjadi sangat jelas: masyarakat tidak boleh lengah.

Kita tidak sedang berbicara tentang sekadar pesan penipuan biasa, tetapi tentang praktik manipulasi yang sengaja dirancang untuk mengecoh. Informasi yang disebarkan bisa jadi telah dipoles dengan teknologi canggih, termasuk kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau bahkan hasil peretasan yang membuat semuanya terlihat sah. Di titik ini, kepercayaan masyarakat terhadap isu scamming yang tidak disertai kewaspadaan justru menjadi pintu masuk bagi kejahatan. Semestinya, reaksi yang tepat bukanlah langsung percaya, melainkan berhenti sejenak, berpikir, dan memeriksa.
Di sinilah pendidikan memainkan peran yang sangat penting. Pendidikan tidak boleh berhenti pada penguasaan materi atau hafalan, tetapi harus menyentuh cara seseorang merespons realitas. Masyarakat yang terdidik bukanlah mereka yang tahu banyak hal, tetapi mereka yang tahu bagaimana bersikap terhadap informasi. Mereka tidak mudah panik, tidak mudah terpancing, dan tidak mudah percaya begitu saja. Mereka memiliki kebiasaan untuk bertanya, menguji, dan memastikan sebelum mengambil keputusan.
Scammer pada dasarnya bekerja seperti penyebar gosip di ruang digital. Mereka menciptakan narasi, menyusun cerita, dan memainkan emosi agar orang lain percaya. Bahkan mereka "tampaknya" mempunyai alat ancaman seperti suatu barang bukti tertentu, yang -- bisa jadi -- telah dirancang khusus. Bedanya dengan gosip biasa, scamming ini dirancang dengan tujuan yang jauh lebih berbahaya: merugikan, memeras, dan mengambil apa yang bukan milik mereka. Jika masyarakat tidak memiliki ketahanan berpikir, maka gosip digital ini akan dengan mudah menyebar dan memakan korban.
Karena itu, menghadapi scam tidak cukup hanya dengan tindakan teknis seperti memblokir atau melaporkan. Yang jauh lebih penting adalah membangun budaya kewaspadaan. Budaya di mana setiap orang terbiasa untuk tidak langsung percaya, terbiasa untuk memverifikasi, dan terbiasa untuk menjaga diri. Ini bukan sikap curiga berlebihan, melainkan bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri dan terhadap orang lain.
Pendidikan, dalam arti yang lebih dalam, adalah proses membentuk manusia yang tidak mudah diperdaya. Ini adalah pendidikan yang melatih ketajaman akal budi sekaligus keteguhan sikap. Ketika seseorang mampu berkata, “Saya tidak langsung percaya sebelum memastikan,” di situlah pendidikan bekerja secara nyata. Maka, "Prinsip Thomas" menjadi penting di sini.
Prinsip Thomas, maksudnya, sebelum menguji kebenaran sesuatu secara objektif dengan metode kita sendiri, keraguan harus dikedepankan. Sama seperti Thomas, murid Yesus yang meragukan kebangkitan Yesus sebelum ia sendiri melihat-Nya.
Demikianlah apa yang dikemukakan Rene Descartes dalam diskursus filsafatnya mendapat tempat penting: Cogito ergo sum -- saya berpikir maka saya ada. Dengan ini, Descartes mau mengajak masyarakat untuk tetap kritis sebagai manusia untuk dapat sungguh-sungguh bereksistensi sebagai manusia. Kalau kita cepat hanyut dalam arus berita tanpa mengedepankan keraguan akan objektivitas berita itu, berarti kita tidak sungguh-sungguh manusia. Karena, ciri khas manusia adalah kritis.
Ketika sikap kritis terhadap informasi digital menjadi kebiasaan bersama, di situlah masyarakat mulai memiliki daya tahan terhadap berbagai bentuk kejahatan digital.
Maka, menghadapi scammer bukan hanya tentang menghindari kerugian pribadi, tetapi juga soal membangun peradaban yang lebih sehat. Kita tidak boleh memberi ruang bagi kebohongan untuk berkembang. Kita tidak boleh membiarkan manipulasi menjadi sesuatu yang dianggap biasa. Setiap sikap kritis, kehati-hatian, dan upaya untuk memverifikasi adalah bagian dari perlawanan terhadap kejahatan itu sendiri.
Pada akhirnya, menjadi masyarakat terdidik berarti menjadi masyarakat yang sadar, bahwa tidak semua yang terlihat meyakinkan adalah benar. Sadar bahwa teknologi bisa digunakan untuk kebaikan, tetapi juga untuk menipu. Dan sadar bahwa kewaspadaan bukanlah tanda ketakutan, melainkan tanda kedewasaan.
Dari sinilah kita bergerak: bukan sebagai korban yang pasif, tetapi sebagai pribadi yang waspada, kritis, dan bertanggung jawab. Karena hanya dengan cara itulah, kita dapat menghadapi dan melawan ancaman scammer secara nyata—melalui pendidikan yang membebaskan dan menyadarkan.
Tetap berjuang meng-counter ancaman scammer dengan tampil sebagai seorang manusia terdidik!
