Ke Bandung, Surabaya

Juru ketik, juru tulis, dan juru kisah
Tulisan dari Sandy Firdaus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

(Stasiun Bandung. Foto by bandungview.info)
"Naik kereta api, tut tut tut. Siapa hendak turut. Ke Bandung, Surabayaa. Ayolah naik dengan percuma. Ayo kawanku lekas naiikk. Keretaku tak berhenti lamaa"
Perlahan, lirik lagu tersebut berdengung kembali dalam kepalaku kala motor yang kutumpangi mendekat ke Stasiun Surabaya Gubeng, Surabaya. Salah satu stasiun besar di Surabaya tersebut menjadi tempat tujuanku pada pagi itu. Ada kereta yang harus segera kutumpangi: Kereta Api Ekonomi Pasundan. Kereta tersebut akan membawaku dari Surabaya, kota yang sudah kutinggali selama lima hari tersebut kembali ke Bandung.
Pagi itu suasana stasiun begitu ramai. Selain Kereta Api Pasundan, ada bermacam-macam kereta lain yang juga berhenti di stasiun tersebut, entah itu untuk transit semata atau juga untuk melanjutkan perjalanan menuju ke stasiun tujuan mereka. Namun, mataku hanya tertuju pada satu jadwal yang tertera di ruang tunggu stasiun: Surabaya Gubeng - Kiaracondong, jam 7.30 - 23.30.
Kala itu pukul 7.00, masih ada waktu setengah jam untuk sekadar minum kopi atau merokok. Di stasiun yang bangunannya cukup tua itu, aku menghampiri seorang tukang gorengan, lalu membeli dua buah tahu dan dua buah lontong (mirip-mirip ketupat, hanya beda bungkus berupa daun pisang saja). Kuambil rokok satu batang dari tas kecilku, menyalakannya, sembari menikmati gorengan yang baru saja kubeli.
Tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 7.20. Aku segera beringsut mematikan rokok yang sedang kuhisap. Kumakan gorengan yang kubeli itu seluruhnya, lalu bergegas kubawa tas gendong besarku untuk menuju ke arah petugas karcis di dekat peron. Kuberikan karcisku, dan karcis itu menjadi tiket awal perjalanan pulangku ke Bandung.
Akhirnya, apa yang berada di dalam bayanganku menjadi nyata. Bayangan tentang lirik "ke Bandung, Surabaya" itu tidak hanya menjadi angan semata. Pagi itu, aku akan menjalani sendiri apa yang baru saja kubayangkan beberapa menit, atau malah bertahun-tahun sebelumnya ketika aku masih kecil.
***
Bandung. Sebuah kota yang disebut oleh Pidi Baiq bukan hanya sekadar masalah geografis semata. Bagi yang pernah tinggal dan menetap di dalamnya, Bandung memang memiliki daya magnet tersendiri. Udaranya yang sejuk, warganya yang ramah, serta suasana kotanya yang dikelilingi oleh bukit dan gunung membuat seorang pria dari Inggris bernama Sir Stamford Raffles bahkan menjulukinya sebagai Paris van Java.
Balutan keindahan alam dan daya magis dari kota Bandung, yang sama sekali sulit untuk diungkapkan bagi yang pernah merasakannya, tidak serta merta menghilangkan nilai dari Bandung sebagai sebuah kota yang bersejarah. Banyak peristiwa besar terjadi di sini di masa lampau, seperti Bandung Lautan Api, Konferensi Asia-Afrika, bahkan sampai bangkitnya Persebaya.
Bangkitnya Persebaya? Betul. Anda sama sekali tidak salah. Persebaya yang pernah menjuarai Liga Indonesia pada musim 1996/1997 dan 2004 silam. Persebaya yang dahulu melahirkan nama-nama tenar macam Rusdy Bahalwan, Totok Risantono, Bejo Sugiantoro, Mat Halil, serta Anang Ma'ruf. Mereka bangkit di sini. Di kota yang berhawa 19 derajat Celcius di pagi dan malam hari, tapi mendadak bisa bersuhu sekira 26 derajat Celcius di siang hari.
Kalau boleh mengingat, ketika itu Januari 2017. Di GOR Pajajaran, diiringi oleh isak tangis dan haru para Bonek yang datang dari Surabaya ke Bandung, mereka akhirnya mendapatkan apa yang mereka inginkan. Kebangkitan Persebaya, Bajul Ijo, atau apapun orang Surabaya memanggilnya, adalah satu keinginan yang sudah mereka nantikan. Bukan di Jakarta, tempat janji itu dilanggar, melainkan di Bandung. Di Bandung-lah mereka mendapatkan legalitas itu. Legalitas yang sudah mereka idamkan sejak lama.
Ada yang menangis, ada yang menyalakan suar, ada yang mencukur rambut, ada yang bersujud, namun ada juga yang berjingkrak-jingkrak girang merayakan kebangkitan Persebaya ini dengan syal hijau yang mereka bentang-bentangkan. Setelah perjuangan selama kurang lebih lima tahun lamanya, mereka mendapatkan apa yang mereka dapatkan. Di Bandung. Di kota yang terkenal dengan sungai bernama Sungai Cikapundung.
Padahal, siang itu begitu panas. Tapi yah, panasnya siang ini mungkin tidak sepanas perasaan mereka yang sudah lelah akan penantian panjang. Penantian akan bangkitnya Persebaya yang lama mati.

***
Akhir tahun 2017, tepatnya November. Bandung sedang diguyur oleh hujan yang tak henti-henti. Berita-berita di media massa memberitakan bahwa banjir mulai menggenangi beberapa titik di Bandung. Pasteur, Cicendo, Baleendah, Dayeuhkolot, menjadi daerah-daerah terdampak yang terkena banjir.
Meski begitu, situasi berbeda justru terjadi di Stadion Gelora Bandung Lautan Api. Dinginnya suhu udara di Bandung, akibat terpaan hujan yang begitu sering jatuh di tanah kota Bandung, tidak memengaruhi atmosfer stadion yang terletak di wilayah Gedebage tersebut. Teriakan, nyanyian, serta dukungan penuh semangat diberikan oleh Bonek yang memadati salah satu tribun Stadion GBLA. Persebaya sedang bertanding melawan Martapura FC sore itu.
Saling serang dan saling hantam adalah hal lazim. Ia adalah sebuah kepastian di kala laga yang dijalani adalah sebuah laga yang penting. Lalu, bisakah kita katakan bahwa laga antara Persebaya melawan Martapura FC ini adalah laga penting? Jika Anda bukan Bonek ataupun pendukung Martapura FC, Anda mungkin tidak berpikir demikian.
Namun bagi Bonek dan pendukung Martapura FC, ini adalah laga maha penting. Saling baku pukul dan baku hantam menjadi cermin dari satu hal yang sedang mereka perebutkan: tiket menuju Liga 1 musim 2018. Martapura ingin mencatatkan sejarah. Persebaya ingin pulang setelah pergi sekian lama.
Dua gol dari Irfan Jaya menjadi jalan awal bagi Persebaya untuk pulang. Jalan itu sempat menemui hambatan ketika Martapura FC berhasil memperkecil kedudukan, membuka harapan bagi diri mereka sendiri untuk membuat sejarah. Jalan itu pun menjadi lapang usai Rishadi Fauzi mencetak gol ketiga. Ibarat memasuki jalan Lingkar Nagreg, Persebaya dengan mulus lancar mengamankan tiket mereka ke Liga 1 musim 2018.
Pertandingan selesai. Sekali lagi, di kota yang sama dengan Januari 2017 silam, Bonek berpesta dan merayakan kembalinya Persebaya Surabaya ke kompetisi sepak bola level tertinggi Indonesia. Lagi-lagi ada yang menyalakan suar, ada yang menangis haru, ada yang bersujud, dan ada yang membentangkan syal hijau yang mewakili warna dari Persebaya itu sendiri.
Mereka seolah dibiarkan untuk berpesta. Malah, penonton yang hadir di stadion, yang bukan Bonek, bertepuk tangan dengan meriah seolah memberi selamat. Seperti halnya pelari marathon yang finis di peringkat pertama yang mendapatkan lambaian dari para penonton, Persebaya mendapatkan tepuk tangan yang memang seharusnya mereka dapatkan.
Persebaya, tim penuh sejarah itu, sudah pulang. Mengulang kembali apa yang mereka lakukan pada 2009/2010 silam.

(Semangat Bonek. Foto by kumparan.com)
***
Mimpi itu begitu indah. Mimpi itu menghiasi tidurku di dalam Kereta Api Pasundan yang sekarang sudah sampai di Stasiun Cicalengka. Tidak tahu berapa lama aku tidur. Kutengok jam yang kupakai di tanganku. Jam 23.00 malam.
Ladalah, ternyata aku sudah tertidur selama 15 jam. Kelelahan yang aku rasakan membuatku terlelap, sampai bermimpi kalau Surabaya dan Bandung ternyata bisa punya kedekatan historis dan emosional macam itu.
Akhirnya Kereta Api Pasundan yang aku tumpangi sampai di Stasiun Kiaracondong. Stasiun yang sudah begitu akrab denganku, karena kerap menjadi tempatku memulai petualangan menuju kota lain yang belum pernah atau sudah pernah kujamah sebelumnya. Tak lama kemudian kereta berhenti. Aku bergegas mengangkat tas gendong besarku yang kusimpan di kabin kereta, menentengnya, lalu melangkah keluar.
Udara dingin Bandung pada malam itu terasa menusuk tulangku. Bagi yang tidak biasa, mungkin ia akan segera terserang flu dalam dua sampai tiga hari kemudian. Tapi aku berbeda. Aku memang lahir di sini, serta besar dan punya banyak sejarah di kota ini. Selepas aku keluar dari stasiun, dan menaiki angkutan kota yang akan membawaku ke daerah tempat tinggalku, aku berikrar dalam hati. Sejauh apapun aku pergi kelak, aku akan selalu kembali ke kota ini.
Memang benar kata Pidi Baiq, Bandung bukan hanya sekadar geografis semata. Lebih jauh, ia melibatkan perasaan, yang akan bersama ketika sunyi melanda. Pun bagi Persebaya, di dalam mimpiku. Jika mereka mendengar lagu "Naik Kereta Api", mereka akan sadar bahwa Bandung bukan lagi sebatas geografis semata.
Karena pada akhirnya, lirik "Ke Bandung, Surabaya" itu sudah menjadi nyata. Baik bagiku yang sudah naik Kereta Api Pasundan, maupun bagi Persebaya yang menjemput mimpi kembali ke kompetisi sepak bola Indonesia dan Liga 1 di sana, meski untuk yang kedua mimpi itu baru menjadi nyata dalam beberapa hari ke belakang.
*tulisan ini dibuat empat hari setelah Persebaya menang atas Martapura FC dengan skor 3-1 di Stadion GBLA, Bandung*
