Konten dari Pengguna
Jakarta Dipersimpangan; Antara Kepuasan Publik dan Masalah Klasik
24 Juni 2025 15:09 WIB
·
waktu baca 4 menitTulisan dari Achmad Zamzami tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Jakarta, sebagai kota megapolitan terbesar di Indonesia, terus berjuang menghadapi berbagai persoalan klasik yang sudah berlangsung puluhan tahun. Dikutip dari kompas.tv survei Litbang Kompas terbaru mengungkapkan bahwa mayoritas warga Jakarta memberikan nilai positif terhadap kinerja Gubernur dan Wakil Gubernur Jakarta, Pramono Anung dan Rano Karno. Namun, di balik kepuasan yang mencapai 70 persen, tersimpan tantangan besar yang belum terselesaian secara sigifikan yang memerlukan perhatian secara intesif.
ADVERTISEMENT
Pertama, kemacetan lalu lintas masih menjadi persoalan paling mendesak di Jakarta. Survei menunjukkan 60,3 persen responden menilai kemacetan sebagai masalah utama yang harus segera diatasi. Meski Pemprov Jakarta telah mendorong berbagai program seperti pembangunan LRT, MRT, integrasi moda transportasi, dan penggunaan kendaraan listrik, dampaknya belum dirasakan secara nyata oleh warga.
Fakta menunjukkan, Jakarta masih menempati posisi tinggi sebagai kota dengan kemacetan terburuk di dunia. Pengemudi di Jakarta rata-rata menghabiskan waktu lebih dari 20 menit untuk menempuh jarak 10 kilometer saja. Ketergantungan masyarakat pada kendaraan pribadi menjadi salah satu faktor utama yang memperparah kemacetan. Ini menuntut pemerintah untuk lebih agresif memperbaiki dan memperluas transportasi publik serta mengubah perilaku masyarakat agar lebih memilih angkutan umum.
ADVERTISEMENT
selanjutnya, polusi udara di Jakarta semakin mengkhawatirkan. Survei menunjukkan ketidakpuasan publik terhadap penanganan polusi udara mencapai 68,1 persen, meningkat dibandingkan survei sebelumnya. Data dari IQAir bahkan mencatat Jakarta beberapa kali masuk dalam daftar kota dengan kualitas udara terburuk di dunia sepanjang Juni 2025. Pada 13 Juni 2025, Indeks Kualitas Udara (AQI) mencapai 164, yang masuk kategori tidak sehat.
Penyebab utama polusi udara berkaitan erat dengan kemacetan dan aktivitas industri. Upaya seperti uji emisi kendaraan dan penambahan ruang terbuka hijau belum memberikan dampak signifikan. Akibatnya, warga, terutama anak-anak dan kelompok rentan, terus terpapar udara berbahaya yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan jangka panjang.
Selain itu, banjir menjadi persoalan kedua yang paling mendesak, dengan 48,1 persen responden menganggapnya sebagai masalah utama. Ketidakpuasan publik terhadap penanganan banjir naik menjadi 44,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Penyebab banjir di Jakarta sangat kompleks, meliputi curah hujan ekstrem akibat perubahan iklim, penurunan permukaan tanah yang mencapai hingga 12 cm per tahun, dan perubahan tutupan lahan yang mengurangi ruang terbuka hijau. Selain itu, sistem drainase yang belum memadai dan perilaku warga yang masih membuang sampah sembarangan memperparah genangan air. Penanganan banjir memerlukan pendekatan terpadu, mulai dari pembangunan infrastruktur, pengelolaan tata ruang, hingga edukasi masyarakat.
ADVERTISEMENT
Tidak hanya itu, survei juga menyoroti persoalan pengelolaan sampah yang belum optimal, dengan tingkat kepuasan hanya 46,7 persen. Sampah yang menumpuk tidak hanya merusak estetika kota tapi juga berkontribusi pada banjir dan pencemaran lingkungan. Isu keamanan dan rasa aman juga masih menjadi perhatian, dengan kepuasan hanya 43 persen. Ketimpangan ekonomi dan sulitnya akses pekerjaan juga menjadi tantangan sosial yang harus diperhatikan oleh pemerintah daerah.
Dengan demikian, survei ini cermin sekaligus momentum bagi Pemerintah Provinsi Jakarta. Tingginya tingkat kepuasan publik adalah modal sosial yang sangat berharga. Namun, pemerintah daerah tidak boleh lengah atau terlena. Perlu ada percepatan dan inovasi dalam penanganan masalah-masalah utama yang selama ini menjadi beban warga. Pemerintah harus lebih intens bersama warganya mulai mendengar langsung keluahan masyarakat, dan memastikan program Visi dan Misi berjalan efektif. Perubahan perilaku masyarakat, terutama dalam penggunaan transportasi umum dan pengelolaan sampah, juga harus didorong melalui edukasi dan literasi secara aktif dan intensif yang langsung melipatkan pemangku kepentingan dan tokoh masyarakat sekitar.
ADVERTISEMENT
Jika langkah-langkah ini dilakukan dengan sungguh-sungguh, bukan tidak mungkin Jakarta bisa bertransformasi menjadi kota global yang bersih, nyaman, dan layak huni.
Menyoal berbagai masalah tersebut, Jakarta berada di titik kritis. Mengingat kepuasan warga terhadap kinerja pemimpin sudah cukup tinggi, tetapi tantangan besar seperti kemacetan, polusi udara, dan banjir masih mengancam kualitas hidup. Momentum menjelang 5 Abad kota Jakarta ini harus dimanfaatkan oleh pemerintah, harus segera bertindak dengan strategi yang tepat dan melibatkan seluruh elemen masyarakat agar di usia 500 Tahun Jakarta sebagai kota global dapat terwujud dan menjadi kota yang membanggakan bagi seluruh warganya.

