Kenapa Banyak Laki-Laki Tidur Larut Malam? Ternyata Bukan Sekadar Main HP

Pendidik vokasi teknologi pertanian
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Sangaji Bagus Nugroho tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Jam sudah lewat tengah malam. Sebagian orang telah tertidur lelap, rumah mulai sunyi, notifikasi perlahan berhenti berbunyi, dan jalanan pun kian sepi. Namun di satu sudut kamar, masih ada laki-laki yang belum terlelap.
Matanya mungkin lelah, tetapi pikirannya belum benar-benar selesai. Kadang ia hanya duduk diam, menatap layar ponsel tanpa benar-benar fokus membaca apa pun. Sesekali memutar lagu pelan, atau sekadar termenung, membiarkan pikirannya berkelana ke berbagai hal yang tak pernah ia ceritakan kepada siapa pun.
Sering kali, laki-laki yang tidur larut malam dianggap sedang membuang waktu—main ponsel, menonton video, atau sekadar scroll media sosial tanpa arah. Padahal kenyataannya tidak selalu sesederhana itu. Banyak di antara mereka sebenarnya ingin tidur lebih cepat, tetapi isi kepala terasa terlalu penuh untuk diajak beristirahat.
Malam sering menjadi satu-satunya waktu ketika mereka bisa berhenti berpura-pura kuat. Di siang hari, laki-laki terbiasa hidup dalam berbagai tuntutan: harus terlihat tenang, tampak tegar, mampu menyelesaikan masalah, serta tidak banyak mengeluh. Seakan-akan, menunjukkan kerentanan adalah sesuatu yang tidak diperbolehkan.
Entah sejak kapan, banyak laki-laki tumbuh dengan keyakinan bahwa menjadi dewasa berarti memendam semuanya sendiri. Akibatnya, mereka terbiasa diam. Padahal, diam tidak selalu berarti baik-baik saja.
Ada yang siang harinya tertawa bersama teman-temannya, tetapi malamnya diliputi kecemasan tentang masa depan. Ada yang terlihat tenang di depan keluarga, padahal diam-diam sedang memikirkan kebutuhan hidup yang terus bertambah. Ada pula yang tetap bekerja seperti biasa, meski di dalam dirinya ada rasa gagal yang tak pernah sempat diungkapkan.
Semua itu biasanya muncul saat malam datang. Pikiran tentang pekerjaan yang belum stabil, harapan yang tak kunjung tercapai, hidup yang terasa berjalan terlalu cepat, hingga rasa lelah yang tidak tahu harus dibicarakan kepada siapa—semuanya berkumpul dalam sunyi.
Itulah sebabnya banyak laki-laki sulit tidur cepat. Bukan karena mereka tidak mengantuk, melainkan karena pikirannya tidak pernah benar-benar tenang.
Di sisi lain, tidak sedikit laki-laki yang juga tidak terbiasa meminta bantuan. Mereka khawatir dianggap lemah jika terlalu jujur tentang perasaannya, takut merepotkan orang lain, atau dianggap tidak mampu menghadapi hidup. Padahal, sekuat apa pun seseorang, tetap ada titik di mana ia ingin didengar.
Sayangnya, banyak yang akhirnya memilih memendam semuanya sendiri. Malam pun menjadi tempat pelarian paling sunyi, saat orang lain tertidur, mereka justru sibuk berdamai dengan isi kepala sendiri—memikirkan hidup, menyusun rencana, menahan kecewa, bahkan kadang menangis tanpa suara.
Hal-hal seperti ini jarang terlihat, karena laki-laki sering diajarkan untuk menyembunyikan lukanya dengan rapi. Mereka tetap bercanda, tetap bekerja, dan tetap terlihat biasa. Padahal, di dalam dirinya, ada banyak hal yang sedang diperjuangkan sendirian.
Mungkin karena itu, kita perlu berhenti terlalu cepat menghakimi laki-laki yang sering tidur larut malam. Tidak semua begadang adalah kebiasaan buruk. Kadang, itu adalah tanda ada pikiran yang terlalu penuh dan hati yang terlalu lelah.
Dan mungkin, dibanding bertanya, “Kenapa belum tidur?”, ada kalanya yang mereka butuhkan hanya satu kalimat sederhana:
“Terima kasih ya, sudah bertahan sejauh ini.”
Karena bisa jadi, laki-laki bukan benar-benar kurang tidur—mereka hanya terlalu lama memendam hidup sendirian.
