Iklan Digital untuk Bisnis: Cara Mengelola Anggaran Agar Tepat Sasaran

saya adalah mahasiswa dari Universitas Pamulang Program Studi Manajamen Fakultas Ekonomi dan Bisnis
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Maulana Ahmad Sani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Iklan digital sering dianggap jalan pintas: keluarkan uang, lalu pesanan datang. Kenyataannya tidak sesederhana itu. Sebagai bagian dari digital marketing, iklan digital justru paling jujur karena ia menunjukkan lewat angka apakah pesan dan anggaran kita sudah tepat atau belum. Supaya lebih mudah dibayangkan, saya mulai dari sebuah cerita rekaan.
Cerita Rina dan Anggaran yang “Menguap”
Bayangkan seorang kawan bernama Rina. Ia punya usaha tas anyaman dan baru belajar memasang iklan. Suatu malam ia menekan tombol promosikan pada fotonya, menyisihkan Rp500 ribu, lalu menunggu. Besok paginya, suka dan tayangan melonjak. Rina senang. Tetapi seminggu kemudian, pesanan yang masuk bisa dihitung dengan jari.
Rina tidak sendirian. Ia terjebak pada hal yang paling sering terjadi: iklan jalan, angka naik, tapi tidak ada tujuan bisnis yang ingin dicapai. Cerita ini hanya ilustrasi, tetapi pola kesalahannya sangat nyata.
Apa Kata Riset tentang Iklan Digital di Indonesia
Sebelum kita bantu Rina, mari lihat dulu medan pertempurannya. Laporan Digital 2026: Indonesia dari We Are Social dan Meltwater menunjukkan bahwa mesin pencari masih menjadi sumber utama orang mengenal merek (38,3 persen), disusul iklan di media sosial (37,3 persen) dan komentar di media sosial (32,6 persen). Artinya, iklan di media sosial memang punya peran besar dalam menghadirkan merek ke hadapan calon pelanggan. Dalam sebulan terakhir, sekitar seperlima pengguna internet pernah mengeklik unggahan berbayar di media sosial.
Uang yang mengalir ke sana pun besar. Belanja iklan digital mencakup 52 persen dari total belanja iklan di Indonesia, senilai 3,64 miliar dolar AS, naik 8 persen dari tahun sebelumnya. Iklan media sosial tumbuh 11,3 persen, sedangkan pemasaran lewat influencer naik 14,4 persen. Kabar baiknya, peluangnya besar. Kabar kurang enaknya, semakin banyak pesaing yang berebut perhatian yang sama.
Ada satu temuan yang menurut saya perlu dicatat pelaku usaha. Menurut We Are Social, 40,1 persen pengguna internet di Indonesia memakai pemblokir iklan pada kuartal kedua 2025. Penelitian pada generasi internet di Jakarta juga menemukan bahwa sikap terhadap iklan online dipengaruhi oleh unsur hiburan, informatif, kredibel, personalisasi, dan insentif, sedangkan penghindaran iklan dipengaruhi oleh sikap tersebut dan rasa terganggu. Singkatnya, orang tidak anti iklan, tetapi anti iklan yang mengganggu dan tidak relevan. Iklan yang berguna, jujur, dan pas sasaran punya peluang jauh lebih baik untuk dilihat.
Kembali ke Rina: Apa yang Seharusnya Ia Lakukan
Pertama, tentukan tujuan dulu. Rina sebenarnya tidak butuh banyak “suka”. Ia butuh pesan masuk dari calon pembeli. Begitu tujuannya diganti menjadi mendapatkan pesan atau klik ke toko, pilihan format iklan dan cara menilainya ikut berubah.
Kedua, kenali siapa yang ingin dijangkau. Tas anyaman Rina cocok untuk perempuan usia 22 sampai 40 tahun yang suka produk lokal dan gaya santai. Dengan profil seperti itu, ia bisa mengarahkan iklan lebih sempit, bukan menyebarnya ke semua orang. Iklan yang menyasar orang yang tepat hampir selalu lebih hemat dibanding iklan yang menyasar semua orang.
Ketiga, mulai kecil dan bertahap. Bagi pelaku UMKM dengan anggaran terbatas, menghabiskan semuanya di satu iklan adalah taruhan yang berisiko. Lebih bijak membuat dua atau tiga materi iklan berbeda dengan anggaran kecil, membiarkannya berjalan beberapa hari, lalu memindahkan dana ke yang hasilnya terbaik. Anggaran seperti ini bukan pengeluaran, tetapi biaya belajar.
Keempat, buat materi yang jujur dan berguna. Foto yang jelas, kalimat yang menjawab keraguan pembeli (“bahan apa, ukurannya berapa, berapa hari pengirimannya”), dan ajakan bertindak yang tegas lebih berharga daripada klaim berlebihan. Pastikan juga halaman tujuan setelah iklan diklik sesuai dengan yang dijanjikan. Kalau iklan menjanjikan diskon tetapi pembeli tidak menemukannya, mereka akan pergi dan anggaran terbuang.
Kelima, baca angkanya, bukan perasaannya. Beberapa angka yang perlu dipantau:
Tingkat klik (CTR). Persentase orang yang mengeklik setelah melihat iklan.
Biaya per klik (CPC). Berapa biaya untuk setiap klik.
Biaya per pesanan (CPA). Total biaya iklan dibagi jumlah pesanan.
ROAS. Pendapatan dari iklan dibagi biaya iklan.
Sebagai contoh hitungan, kalau Rina menghabiskan Rp1.000.000 dan mendapat 20 pesanan, biaya per pesanannya Rp50.000. Jika total pendapatan dari pesanan itu Rp5.000.000, ROAS-nya 5, artinya setiap rupiah iklan menghasilkan lima rupiah penjualan. Angka ini hanya ilustrasi, tetapi cara membacanya bisa langsung dipakai. Pastikan juga biaya per pesanan masih jauh di bawah keuntungan per produk, supaya iklan tidak menggerus laba.
Kesalahan yang Sering Terjadi
Beberapa kesalahan umum antara lain mengejar suka dan tayangan, tidak menetapkan tujuan, menyasar audiens terlalu luas, menghentikan iklan terlalu cepat sebelum datanya cukup, dan tidak pernah membandingkan beberapa materi. Satu lagi yang sering terlewat: tidak menyiapkan layanan pelanggan. Iklan bisa mendatangkan calon pembeli, tetapi respons yang lambat membuat mereka berpaling.
Penutup
Kalau saya boleh menyimpulkan sambil ngobrol: iklan digital bukan soal berani mengeluarkan uang besar, tetapi soal berani belajar dari angka. Tetapkan tujuan, kenali orang yang dituju, mulai kecil, buat materi yang jujur, lalu evaluasi dengan disiplin. Dengan cara itu, anggaran yang kita keluarkan akan bekerja lebih keras dan lebih tepat sasaran.
Sumber:
We Are Social & Meltwater, Digital 2026: Indonesia (dirilis November 2025).
Databoks Katadata (6 November 2025), data pemblokir iklan di Indonesia dari We Are Social.
Yulita, Triputra, Rusadi, & Widanigsih, Ads Avoidance and Attitude Towards Online Advertising Among Net-Generation in Jakarta.
