Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,29 Persen, Apa yang Berubah bagi Mahasiswa?

Mahasiswa Universitas Pamulang Program Studi Pendidikan Ekonomi
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Sanjani Azzahra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika pemerintah atau media memberitakan ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen, angka tersebut mungkin terasa jauh dari kehidupan mahasiswa. Tidak semua mahasiswa langsung merasakan perubahan pada uang saku atau pendapatan orang tua hanya karena ekonomi nasional tumbuh.
Namun, pertumbuhan ekonomi sebenarnya dapat ditemukan dalam aktivitas yang lebih sederhana. Ketika kantin kampus tetap ramai, layanan transportasi digunakan setiap hari, toko online menerima pesanan, atau sebuah usaha membuka lowongan kerja, di dalamnya terdapat aktivitas ekonomi yang saling berkaitan.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia pada triwulan II 2026 tumbuh 5,29 persen dibandingkan triwulan II 2025. Secara kuartalan, ekonomi tumbuh 3,73 persen dibandingkan triwulan sebelumnya. Sementara itu, ekonomi Indonesia pada semester I 2026 tumbuh 5,45 persen dibandingkan semester I 2025.
Angka tersebut penting, tetapi pertanyaan yang lebih dekat bagi mahasiswa adalah: *apa hubungannya dengan kehidupan mereka?*
Pertumbuhan Ekonomi Tidak Selalu Terasa sebagai Uang Tambahan
Pertumbuhan ekonomi menggambarkan peningkatan aktivitas ekonomi secara keseluruhan. BPS mencatat Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada triwulan II 2026 atas dasar harga berlaku mencapai Rp6.552,1 triliun.
Dari sisi produksi, pertumbuhan terjadi di berbagai lapangan usaha. Pertanian, kehutanan, dan perikanan tumbuh 12,26 persen secara kuartalan, sedangkan secara tahunan lapangan usaha pengadaan listrik dan gas mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 10,81 persen. Dari sisi pengeluaran, konsumsi pemerintah tumbuh 15,97 persen secara tahunan.
Data tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi berasal dari banyak kegiatan, bukan dari satu sektor saja. Karena itu, pertumbuhan 5,29 persen juga tidak dapat diartikan bahwa setiap orang akan memperoleh tambahan pendapatan sebesar 5,29 persen.
Kondisi setiap keluarga, pekerja, mahasiswa, dan pelaku usaha tetap berbeda. Ada yang merasakan peningkatan aktivitas usaha, tetapi ada pula yang belum mengalami perubahan berarti dalam kondisi keuangannya.
Mahasiswa Sebenarnya Ikut Menjadi Bagian dari Aktivitas Ekonomi
Mahasiswa mungkin tidak merasa sedang menjalankan kegiatan ekonomi ketika membeli makan siang di sekitar kampus. Padahal, transaksi tersebut melibatkan konsumen, pedagang, pemasok bahan makanan, tenaga kerja, hingga jasa transportasi.
Hal serupa terjadi ketika mahasiswa membeli buku, mencetak tugas, menggunakan transportasi online, berbelanja melalui marketplace, atau membayar biaya internet. Setiap transaksi merupakan bagian dari aktivitas ekonomi.
Dari sisi sederhana, mahasiswa berperan sebagai konsumen. Uang yang dibelanjakan menjadi pendapatan bagi pihak lain dan kemudian dapat digunakan kembali untuk membeli bahan baku, membayar pekerja, atau memenuhi kebutuhan lainnya.
Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa kegiatan ekonomi tidak selalu harus dikaitkan dengan perusahaan besar. Usaha makanan di sekitar kampus dan penjual kecil yang melayani mahasiswa juga menjadi bagian dari perputaran ekonomi.
Perubahan Digital Membuat Aktivitas Ekonomi Makin Dekat
Hubungan mahasiswa dengan perkembangan ekonomi semakin terlihat melalui penggunaan teknologi digital.
Bank Indonesia mencatat volume transaksi pembayaran digital pada triwulan II 2026 mencapai 16,07 miliar transaksi, tumbuh 36,88 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Transaksi QRIS tumbuh 100,12 persen secara tahunan pada periode yang sama.
Bagi mahasiswa, angka tersebut dapat dilihat melalui kebiasaan yang sederhana. Membayar makanan dengan QRIS, membeli barang melalui marketplace, memesan kendaraan melalui aplikasi, atau menggunakan mobile banking merupakan contoh bagaimana aktivitas ekonomi semakin terhubung dengan teknologi.
Perubahan tersebut juga membuka ruang bagi usaha kecil untuk mengikuti kebiasaan konsumen. Pedagang yang sebelumnya hanya menerima uang tunai kini dapat menyediakan pembayaran digital, sementara mahasiswa memiliki lebih banyak pilihan ketika melakukan transaksi.
Namun, kemudahan tersebut tetap membutuhkan kemampuan mengatur keuangan. Semakin mudah transaksi dilakukan, semakin penting seseorang mengetahui berapa uang yang sudah dikeluarkan.
Pertumbuhan Ekonomi Juga Berkaitan dengan Dunia Kerja
Hubungan lainnya dapat dilihat dari dunia kerja. Ketika kegiatan produksi dan konsumsi berkembang, berbagai sektor ekonomi membutuhkan tenaga kerja untuk menjalankan aktivitasnya.
Bank Indonesia dalam laporan perekonomian triwulan II 2026 mencatat pertumbuhan ekonomi domestik tetap ditopang permintaan domestik. Industri pengolahan, konstruksi, serta transportasi dan pergudangan juga disebut tetap menunjukkan kinerja yang baik pada periode tersebut.
Bagi mahasiswa, perkembangan tersebut dapat menjadi alasan untuk memperhatikan keterampilan yang sedang dibutuhkan di berbagai bidang.
Mahasiswa tidak harus langsung menentukan satu pekerjaan hanya berdasarkan perkembangan ekonomi suatu sektor. Namun, mereka dapat mulai melihat hubungan antara bidang studi, keterampilan yang dimiliki, dan kebutuhan dunia kerja.
Mahasiswa ekonomi, misalnya, dapat mengembangkan kemampuan analisis data, keuangan, pemasaran, atau pengelolaan usaha. Mahasiswa pendidikan dapat memperkuat kemampuan komunikasi, pembuatan media pembelajaran, dan teknologi pendidikan.
Dengan begitu, informasi mengenai perkembangan ekonomi tidak berhenti sebagai angka dalam berita. Informasi tersebut dapat digunakan sebagai bahan untuk mempertimbangkan kemampuan apa yang perlu dikembangkan.
Tidak Semua Dampak Pertumbuhan Ekonomi Sama
Pertumbuhan ekonomi nasional juga tidak berarti semua masyarakat otomatis menjadi lebih sejahtera dalam waktu yang sama.
PDB merupakan indikator untuk melihat aktivitas perekonomian secara keseluruhan. Untuk memahami kondisi masyarakat secara lebih lengkap, diperlukan indikator lain seperti pendapatan, kesempatan kerja, kemiskinan, ketimpangan, dan perkembangan harga.
Karena itu, angka pertumbuhan 5,29 persen sebaiknya tidak dibaca sebagai ukuran tunggal mengenai kondisi seluruh masyarakat.
Bagi mahasiswa, pemahaman tersebut penting agar tidak melihat berita ekonomi hanya dari angka. Pertanyaan yang lebih berguna adalah bagaimana perubahan ekonomi berhubungan dengan harga, pekerjaan, konsumsi, usaha, dan kesempatan yang ada di sekitar mereka.
Dari Angka 5,29 Persen ke Kehidupan Sehari-hari
Pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,29 persen pada triwulan II 2026 menunjukkan bahwa aktivitas perekonomian nasional terus bergerak. Di dalamnya terdapat kegiatan produksi, konsumsi, perdagangan, investasi, jasa, serta berbagai aktivitas ekonomi lainnya.
Bagi mahasiswa, memahami pertumbuhan ekonomi tidak harus dimulai dari teori yang rumit. Hal tersebut dapat dimulai dengan melihat aktivitas yang dilakukan setiap hari.
Ketika mahasiswa membeli makan, seorang pedagang memperoleh pendapatan. Ketika mahasiswa menggunakan layanan digital, terjadi transaksi yang melibatkan penyedia jasa. Ketika mahasiswa mengikuti magang atau mempersiapkan keterampilan kerja, mereka sedang mempersiapkan diri untuk menjadi bagian dari aktivitas ekonomi setelah lulus.
Dengan cara pandang tersebut, pertumbuhan ekonomi tidak lagi sekadar angka 5,29 persen yang muncul dalam berita. Angka tersebut menjadi gambaran tentang sebuah perekonomian yang di dalamnya mahasiswa juga ikut beraktivitas sebagai konsumen, calon tenaga kerja, dan bagian dari generasi yang akan melanjutkan kegiatan ekonomi di masa depan.
