Kuliah Saja Tidak Cukup, Mahasiswa Perlu Punya Skill?

Mahasiswa Universitas Pamulang Program Studi Pendidikan Ekonomi
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Sanjani Azzahra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bagi mahasiswa, kuliah sering kali identik dengan tugas, presentasi, ujian, dan mengejar nilai. Namun, ada satu hal yang terkadang baru terasa penting ketika sudah mendekati kelulusan: kemampuan apa yang sebenarnya bisa ditawarkan kepada dunia kerja?
Pertanyaan tersebut semakin relevan karena dunia kerja terus mengalami perubahan. Perusahaan tidak hanya membutuhkan seseorang yang memiliki ijazah, tetapi juga membutuhkan kemampuan yang sesuai dengan pekerjaan yang akan dilakukan.
Hal ini bukan berarti pendidikan tinggi menjadi tidak penting. Justru kuliah tetap menjadi salah satu tempat untuk membangun pengetahuan, cara berpikir, kemampuan bekerja sama, dan pengalaman. Persoalannya adalah bagaimana mahasiswa dapat mengubah pengetahuan tersebut menjadi kemampuan yang bisa digunakan secara nyata.
Dunia Kerja Tidak Hanya Melihat Ijazah
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa pada Agustus 2025 jumlah angkatan kerja Indonesia mencapai 154 juta orang. Pada periode yang sama, Tingkat Pengangguran Terbuka atau TPT tercatat sebesar 4,85 persen.
Jika dilihat berdasarkan kelompok umur, TPT penduduk muda usia 15–24 tahun mencapai 16,89 persen. Artinya, dari 100 orang usia 15–24 tahun yang termasuk angkatan kerja, terdapat sekitar 17 orang yang menganggur. Sementara itu, TPT penduduk dengan pendidikan diploma ke atas berada di angka 5,21 persen.
Angka tersebut tidak berarti bahwa kuliah membuat seseorang sulit mendapatkan pekerjaan. Namun, data tersebut menunjukkan bahwa memiliki pendidikan saja belum otomatis membuat seseorang langsung terserap ke dunia kerja.
Di sinilah kemampuan tambahan menjadi penting. Mahasiswa perlu mulai mengenali kemampuan yang dimiliki dan melihat apakah kemampuan tersebut sesuai dengan kebutuhan di lapangan.
Skill Bisa Dibangun dari Hal Sederhana
Skill tidak selalu berarti kemampuan menggunakan program yang rumit atau harus memiliki sertifikat dari banyak lembaga.
Mahasiswa Pendidikan Ekonomi, misalnya, tidak hanya dapat mengandalkan kemampuan memahami teori ekonomi. Mereka juga dapat mengembangkan kemampuan mengolah data sederhana, membuat presentasi, menulis artikel, mengelola media sosial, membuat materi pembelajaran, berbicara di depan umum, atau menggunakan teknologi untuk mendukung pekerjaan.
Kemampuan tersebut dapat dibangun dari kegiatan yang sebenarnya sudah sering dilakukan selama kuliah.
Ketika mendapat tugas presentasi, mahasiswa sebenarnya sedang belajar komunikasi. Ketika mengerjakan penelitian, mahasiswa sedang belajar mencari dan mengolah informasi. Saat mengikuti organisasi, mahasiswa belajar bekerja dalam tim dan mengelola kegiatan.
Masalahnya, pengalaman tersebut sering kali hanya dianggap sebagai kegiatan biasa dan tidak dicatat sebagai bagian dari kemampuan diri.
Padahal, pengalaman tersebut dapat menjadi modal ketika mahasiswa mulai membuat CV, mengikuti magang, mendaftar pekerjaan, maupun menawarkan jasa secara mandiri.
Perubahan Teknologi Membuat Skill Digital Semakin Relevan
Perkembangan teknologi juga membuat kebutuhan terhadap kemampuan digital semakin terlihat.
Kementerian Komunikasi dan Digital pada 2026 menekankan bahwa penguatan talenta digital menjadi salah satu faktor penting dalam menghadapi perubahan struktur industri dan perkembangan kecerdasan artifisial.
Pemerintah juga mendorong kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, komunitas, dan berbagai pihak untuk memperkuat kemampuan talenta digital. Kampus dinilai memiliki peran penting sebagai tempat pengembangan talenta yang dapat terhubung dengan kebutuhan industri.
Bagi mahasiswa, perkembangan ini bisa dilihat bukan hanya sebagai tantangan, tetapi juga sebagai alasan untuk mulai belajar.
Tidak semua mahasiswa harus menjadi programmer. Kemampuan digital dapat disesuaikan dengan bidang yang dipelajari.
Mahasiswa pendidikan dapat belajar membuat media pembelajaran digital. Mahasiswa ekonomi dapat memperdalam pengolahan data dan analisis sederhana. Mahasiswa komunikasi dapat mengembangkan kemampuan produksi konten. Bahkan mahasiswa dari berbagai jurusan dapat mempelajari penggunaan teknologi kecerdasan artifisial secara bertanggung jawab untuk membantu proses belajar dan pekerjaan.
Jangan Menunggu Lulus untuk Mencari Pengalaman
Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah baru memikirkan pengalaman kerja setelah lulus.
Padahal, masa kuliah dapat digunakan untuk mencoba berbagai hal. Mengikuti organisasi, kepanitiaan, magang, kegiatan sosial, lomba, proyek kampus, maupun pekerjaan lepas dapat menjadi ruang untuk mengenali kemampuan diri.
Tidak semua pengalaman harus langsung menghasilkan uang.
Ada pengalaman yang memberikan keterampilan. Ada yang memperluas jaringan. Ada juga yang membantu mahasiswa mengetahui pekerjaan seperti apa yang sebenarnya mereka sukai.
Dari proses tersebut, mahasiswa dapat mulai membangun portofolio.
Misalnya, mahasiswa yang tertarik dengan desain dapat mengumpulkan hasil desain yang pernah dibuat. Mahasiswa yang suka menulis dapat menyimpan artikel atau tulisan yang pernah dipublikasikan. Mahasiswa yang tertarik dengan media sosial dapat membuat contoh konten dan mengelola akun sebagai portofolio.
Dengan begitu, ketika ditanya “kamu bisa apa?”, jawabannya tidak hanya berdasarkan pengakuan, tetapi juga dapat ditunjukkan melalui hasil pekerjaan.
Kuliah Tetap Penting, Skill Menjadi Pelengkap
Pada akhirnya, persoalannya bukan memilih antara kuliah atau skill.
Pendidikan dan keterampilan justru dapat berjalan bersama.
Kuliah memberikan dasar pengetahuan dan cara berpikir, sedangkan pengalaman dan pengembangan skill membantu mahasiswa menerapkan pengetahuan tersebut dalam situasi nyata.
Mahasiswa juga tidak perlu mempelajari semuanya sekaligus. Lebih baik memilih beberapa kemampuan yang sesuai dengan minat dan bidang yang ingin ditekuni, kemudian mengembangkannya secara bertahap.
Misalnya, satu semester digunakan untuk memperkuat kemampuan komunikasi. Semester berikutnya mencoba mengolah data atau membuat portofolio digital. Setelah itu, kemampuan tersebut dapat diterapkan melalui organisasi, magang, proyek, atau pekerjaan lepas.
Dengan cara tersebut, masa kuliah tidak hanya menjadi perjalanan menuju ijazah, tetapi juga proses membangun kemampuan yang dapat digunakan setelah lulus.
Bagi mahasiswa, pertanyaan yang perlu mulai dipikirkan bukan hanya “berapa IPK saya?”, tetapi juga “kemampuan apa yang sudah saya miliki dan bisa saya buktikan?”
Sebab, ketika memasuki dunia kerja, pengetahuan yang dipelajari di kelas akan menjadi semakin berarti ketika mampu diterapkan dalam kehidupan nyata.
