Konten dari Pengguna

Eco Enzyme untuk Cegah Cacar Cabai, Inovasi Mahasiswa KKN FSTeM UB Desa Kranggan

Santa Claudya

Santa Claudya

Biologi Student at Universitas Brawijaya

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Santa Claudya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

#Teknologi Pembuatan Eco Enzyme Berbasis Limbah Organik Rumah Tangga oleh Mahasiswa KKN FSTeM UB di Desa Kranggan

Persiapan Bahan Untuk Proses Pembuatan Eco Enzyme sebagai Salah Satu Pencegahan Penyakit Cacar Cabe pada Sosialisasi Kelompok Tani Dusun Sumber Beji, Kranggan.
zoom-in-whitePerbesar
Persiapan Bahan Untuk Proses Pembuatan Eco Enzyme sebagai Salah Satu Pencegahan Penyakit Cacar Cabe pada Sosialisasi Kelompok Tani Dusun Sumber Beji, Kranggan.

Desa Kranggam, Kabupaten Malang – Limbah organik rumah tangga sering kali hanya berakhir di tempat pembuangan tanpa dimanfaatkan lebih lanjut. Padahal, sisa kulit buah dan bahan organik lainnya memiliki potensi untuk diolah menjadi produk yang bermanfaat bagi lingkungan maupun sektor pertanian. Berangkat dari kondisi tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) FSTeM Universitas Brawijaya melaksanakan program Teknologi Tepat Guna (TTG) berupa pembuatan eco enzyme berbasis limbah organik rumah tangga sebagai alternatif perawatan tanaman yang ramah lingkungan di Desa Kranggan, Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang.

Program ini dilaksanakan sebagai respons terhadap permasalahan yang dihadapi petani cabai di Desa Kranggan. Salah satu kendala yang sering ditemui adalah munculnya penyakit cacar pada tanaman cabai yang menyebabkan kualitas buah menurun sehingga berdampak pada nilai jual hasil panen. Kondisi tersebut mendorong mahasiswa KKN FSTeM UB untuk memperkenalkan inovasi sederhana yang mudah diterapkan masyarakat dengan memanfaatkan bahan-bahan yang tersedia di lingkungan sekitar. Melalui pendekatan ini, limbah organik tidak lagi dipandang sebagai sampah, melainkan sebagai sumber daya yang dapat diolah menjadi produk bernilai guna.

Eco enzyme merupakan cairan hasil fermentasi limbah organik yang telah banyak dimanfaatkan dalam berbagai kebutuhan, mulai dari pengolahan limbah, pembersih alami, hingga pendukung perawatan tanaman. Pada program ini, mahasiswa mengenalkan pemanfaatan eco enzyme sebagai salah satu alternatif dalam mendukung kesehatan tanaman cabai. Selain memberikan nilai tambah terhadap limbah organik rumah tangga, inovasi ini juga diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan sampah berbasis prinsip ekonomi sirkular.

Pembuatan eco enzyme dilakukan menggunakan komposisi 1 kilogram gula merah, 3 kilogram limbah organik berupa kulit buah, dan 10 liter air. Seluruh bahan dimasukkan ke dalam wadah tertutup, kemudian difermentasi sesuai prosedur hingga menghasilkan cairan eco enzyme yang siap digunakan. Selama proses demonstrasi, mahasiswa tidak hanya memperlihatkan tahapan pencampuran bahan, tetapi juga menjelaskan fungsi masing-masing bahan, lama proses fermentasi, cara penyimpanan yang benar, serta teknik penggunaan eco enzyme pada tanaman agar hasil yang diperoleh lebih optimal.

Dokumentasi Kelompok KKN FSTeM 2026 Bersama Ibu Ibu Tahlilan dan Kelompok Tani Dusun Sumber Beji.

Kegiatan sosialisasi dan demonstrasi dilaksanakan di rumah salah satu warga yang bertepatan dengan kegiatan rutin ibu-ibu tahlil pada Jumat pukul 14.00 WIB. Momentum tersebut dimanfaatkan mahasiswa sebagai media edukasi karena mampu menjangkau masyarakat secara langsung dalam suasana yang santai dan komunikatif. Kegiatan diikuti oleh lebih dari 30 peserta yang menunjukkan antusiasme tinggi selama berlangsungnya demonstrasi.

Suasana penyuluhan berlangsung interaktif. Berbagai pertanyaan diajukan peserta, mulai dari bahan yang dapat digunakan sebagai media fermentasi, lama penyimpanan eco enzyme, hingga frekuensi penggunaannya pada tanaman cabai. Diskusi yang terjalin menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap teknologi sederhana yang dapat diterapkan secara mandiri dengan biaya yang relatif rendah.

"Biasanya kulit buah langsung dibuang begitu saja. Ternyata bisa dimanfaatkan menjadi cairan yang berguna untuk tanaman. Ilmunya sangat bermanfaat dan mudah dipraktikkan," ungkap salah seorang peserta kegiatan.

Untuk memperkuat penyampaian materi, mahasiswa KKN FSTeM UB turut membagikan leaflet edukasi yang berisi komposisi bahan, langkah-langkah pembuatan, proses fermentasi, hingga tata cara penggunaan eco enzyme. Leaflet tersebut dirancang agar masyarakat dapat kembali mempelajari setiap tahapan setelah kegiatan berakhir sehingga ilmu yang diperoleh tidak berhenti pada saat sosialisasi saja, tetapi dapat diterapkan secara berkelanjutan di lingkungan rumah masing-masing.

Sebagai bentuk implementasi teknologi tepat guna, mahasiswa juga menyerahkan sampel eco enzyme yang telah difermentasi kepada warga. Sampel tersebut diharapkan menjadi contoh nyata bagi masyarakat dalam mengembangkan pembuatan eco enzyme secara mandiri. Selain dimanfaatkan sebagai alternatif pendukung perawatan tanaman cabai, eco enzyme juga berpotensi digunakan pada berbagai jenis tanaman hortikultura maupun tanaman pekarangan sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh lebih banyak masyarakat.

Pelaksanaan program ini tidak hanya berfokus pada penyelesaian permasalahan di sektor pertanian, tetapi juga mengajak masyarakat untuk menerapkan pengelolaan limbah organik yang lebih bertanggung jawab. Pemanfaatan kulit buah yang sebelumnya hanya menjadi sampah kini dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai tambah. Pendekatan tersebut diharapkan mampu mengurangi volume limbah organik rumah tangga sekaligus menumbuhkan kebiasaan baru dalam mengelola sampah secara lebih bijaksana.

Melalui program Teknologi Tepat Guna ini, mahasiswa KKN FSTeM Universitas Brawijaya berharap masyarakat Desa Kranggan dapat terus mengembangkan inovasi sederhana berbasis potensi lokal. Keberlanjutan program menjadi aspek penting agar manfaat eco enzyme tidak hanya dirasakan selama pelaksanaan KKN, tetapi juga menjadi salah satu alternatif yang dapat diterapkan masyarakat dalam mendukung budidaya tanaman yang lebih ramah lingkungan serta pengelolaan limbah organik yang berkelanjutan.

Program ini juga menjadi bentuk kontribusi mahasiswa dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 09 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui penerapan inovasi bioteknologi sederhana di tingkat masyarakat, SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui pemanfaatan limbah organik menjadi produk bernilai tambah, serta SDG 15 (Ekosistem Daratan) melalui upaya mendorong praktik pertanian yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan. Melalui kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat, diharapkan inovasi sederhana seperti eco enzyme mampu menjadi langkah kecil yang memberikan dampak nyata bagi lingkungan dan kesejahteraan masyarakat Desa Kranggan.

#KKNFSTeM2026 #UniversitasBrawijaya #FSTeMUB #DesaKranggan #KabupatenMalang #EcoEnzyme #TeknologiTepatGuna #PengelolaanLimbah #LimbahOrganik #PertanianBerkelanjutan #CabaiSehat #InovasiPertanian #KelompokTani #SDG9 #SDG12 #SDG15 #SDGsIndonesia #SustainableDevelopmentGoals