Konten dari Pengguna

Dari Dompet ke Digital: Revolusi Ekonomi dan Peran Warga Cerdas

Sapna Welindah Nainggolan

Sapna Welindah Nainggolan

Fakultas Hukum Universitas Katolik Santo Thomas Anggota UKM VERITAS UNIKA, Medan.

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sapna Welindah Nainggolan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Dari Dompet ke Digital (Sumber: freepik)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Dari Dompet ke Digital (Sumber: freepik)

Perkembangan teknologi digital telah merevolusi hampir seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk cara kita bertransaksi dan mengelola keuangan. Dari yang semula bergantung pada uang tunai di dompet fisik, kini masyarakat perlahan beralih ke dompet digital, transaksi nontunai, dan sistem pembayaran berbasis QR. Revolusi ekonomi digital ini bukan sekadar perubahan teknis, tetapi juga transformasi budaya yang menuntut kecakapan baru dari setiap individu sebagai pelaku ekonomi.

Di tengah transisi ini, peran warga cerdas atau smart citizen menjadi krusial. Mereka dituntut tidak hanya sekadar mampu menggunakan teknologi, tetapi juga memahami konteks ekonomi di balik setiap transaksi digital. Melek finansial dan digital menjadi fondasi penting agar masyarakat tidak sekadar menjadi konsumen pasif, melainkan mitra aktif dalam membentuk ekosistem ekonomi yang sehat dan berkelanjutan. Dalam konteks ini, transformasi digital yang dipimpin oleh Bank Sentral dan institusi keuangan perlu direspon dengan peningkatan kapasitas warga dalam memahami hak, risiko, dan peluang ekonomi digital.

Namun, menjadi warga cerdas di era ekonomi digital bukanlah sesuatu yang dapat terjadi secara instan. Perubahan sistem pembayaran, kehadiran aset kripto, layanan pinjaman online, dan kebijakan ekonomi digital yang terus berkembang memerlukan literasi yang mendalam. Tanpa pemahaman yang cukup, transformasi ini justru dapat menciptakan ketimpangan baru dan meningkatkan risiko kerentanan ekonomi, terutama bagi kelompok masyarakat yang belum terhubung secara optimal dengan ekosistem digital.

Literasi Digital dan Ekonomi: Fondasi Warga Cerdas di Tengah Transformasi Digital

Salah satu tantangan paling mendesak dalam revolusi ekonomi digital adalah masih rendahnya literasi digital dan keuangan masyarakat Indonesia secara menyeluruh. Banyak individu telah akrab menggunakan layanan seperti dompet digital, aplikasi pinjaman online, hingga platform investasi, namun tanpa pemahaman memadai tentang cara kerja, regulasi, dan risikonya. Ketidaktahuan ini membuat masyarakat rentan terhadap berbagai ancaman, mulai dari penipuan berkedok investasi, penyalahgunaan data pribadi, hingga praktik utang konsumtif yang membebani keuangan keluarga.

Kesenjangan digital juga menjadi problem struktural yang belum sepenuhnya diatasi. Masyarakat di wilayah perkotaan cenderung memiliki akses lebih baik terhadap internet, perangkat digital, serta edukasi keuangan. Sebaliknya, warga di daerah pedesaan atau terpencil masih terkendala sinyal internet yang lemah, infrastruktur yang terbatas, dan keterbatasan literasi dasar. Ketimpangan ini menghambat pemerataan manfaat ekonomi digital dan menciptakan "jurang digital" yang berpotensi menimbulkan ketidakadilan sosial dan ekonomi dalam jangka panjang.

Kebijakan ekonomi digital yang dirancang oleh institusi negara, termasuk Bank Sentral, pada dasarnya dirancang untuk kepentingan nasional. Namun sayangnya, bahasa kebijakan yang terlalu teknokratis sering kali menyulitkan pemahaman masyarakat luas. Banyak warga merasa kebijakan tersebut bukan untuk mereka, melainkan hanya milik kalangan elite ekonomi atau akademisi. Padahal, peran serta masyarakat dalam memahami, mengkritisi, dan mengawal kebijakan adalah bagian penting dari proses demokratisasi ekonomi.

Kurangnya ruang dialog antara pembuat kebijakan dan warga juga memperparah jarak tersebut. Sosialisasi kebijakan sering bersifat satu arah dan formal, padahal masyarakat membutuhkan pendekatan yang lebih komunikatif, visual, dan relevan dengan keseharian mereka. Ketika informasi ekonomi disampaikan dengan cara yang membumi, misalnya lewat media sosial, podcast, atau video pendek, warga akan lebih mudah merasa terlibat dan tertarik untuk memahami.

Di sisi lain, budaya literasi ekonomi di Indonesia masih belum tumbuh kuat. Pembicaraan tentang uang, utang, investasi, atau suku bunga masih dianggap tabu, membosankan, bahkan tidak sopan dalam banyak konteks sosial. Akibatnya, kesadaran finansial tidak terbentuk sejak dini. Padahal, pemahaman ekonomi yang kuat sejak remaja atau masa sekolah merupakan bekal penting untuk menghadapi tantangan ekonomi modern, termasuk dalam pengambilan keputusan finansial sehari-hari.

Ketiadaan budaya diskusi ekonomi yang sehat juga membuat warga cenderung pasif terhadap isu-isu kebijakan publik. Mereka lebih mudah dipengaruhi oleh narasi viral yang belum tentu benar daripada memahami data atau penjelasan resmi dari lembaga negara. Hal ini tidak hanya melemahkan kapasitas warga sebagai smart citizen, tetapi juga mengurangi efektivitas kebijakan ekonomi yang sesungguhnya membutuhkan partisipasi aktif masyarakat.

Menuju Inklusi Ekonomi Digital: Membangun Warga Cerdas dari Akar Rumput

Mengatasi tantangan rendahnya literasi digital dan keuangan di tengah arus revolusi ekonomi digital memerlukan pendekatan yang inklusif dan membumi. Edukasi yang dirancang tidak bisa bersifat kaku dan seragam, tetapi harus disesuaikan dengan konteks sosial, budaya, dan geografis masyarakat. Penggunaan bahasa yang sederhana, media visual yang menarik, serta pendekatan yang dekat dengan keseharian seperti video pendek, animasi ringan, hingga cerita rakyat akan membantu menjembatani kesenjangan pemahaman masyarakat terhadap isu-isu ekonomi yang sering dianggap rumit.

Bank Sentral bersama mitra strategis perlu menciptakan konten edukatif yang tidak hanya informatif, tetapi juga inspiratif dan mudah diakses oleh seluruh lapisan masyarakat. Tidak cukup menjangkau masyarakat perkotaan yang melek digital, strategi komunikasi juga harus menyentuh warga nonperkotaan, lansia, ibu rumah tangga, pekerja informal, hingga kelompok rentan yang selama ini kurang tersentuh oleh program literasi konvensional. Menyentuh mereka berarti menyentuh jantung ketahanan ekonomi bangsa secara menyeluruh.

langkah konkret yang dapat diambil adalah membangun pusat literasi keuangan berbasis komunitas. Komunitas lokal seperti karang taruna, koperasi desa, kelompok ibu-ibu PKK, pesantren, atau forum warga RT/RW bisa dilibatkan sebagai agen literasi yang dinamis. Ketika ekonomi dibahas dalam ruang sosial yang akrab dan egaliter, masyarakat akan lebih terbuka untuk belajar dan berdiskusi. Hal ini sekaligus menumbuhkan kepercayaan diri bahwa mereka juga mampu memahami, bahkan ikut mempengaruhi, arah ekonomi digital nasional.

Program pelatihan dan pendampingan berbasis komunitas ini juga bisa dijadikan ajang transfer pengetahuan antargenerasi. Misalnya, generasi muda yang lebih akrab dengan teknologi bisa membantu generasi yang lebih tua memahami penggunaan e-wallet, transaksi non-tunai, atau keamanan digital. Dengan begitu, proses literasi berjalan secara gotong royong dan memperkuat kohesi sosial di tingkat lokal.

Di sisi lain, penting untuk mendorong kebijakan publik yang berbasis partisipasi warga. Bank Sentral dan institusi keuangan harus membuka kanal dialog yang lebih terbuka, akomodatif, dan dua arah. Forum komunitas, dialog publik daring, survei aspiratif, maupun fitur umpan balik digital menjadi sarana penting untuk mengundang suara warga dalam merancang kebijakan yang benar-benar relevan dengan kebutuhan mereka. Rasa keterlibatan akan mendorong partisipasi aktif dan memperkuat rasa memiliki terhadap kebijakan ekonomi.

Kolaborasi dengan dunia pendidikan juga memegang peranan strategis dalam jangka panjang. Kurikulum sekolah dan perguruan tinggi perlu diperbarui agar mencakup aspek literasi keuangan digital, keamanan data pribadi, hak-hak konsumen digital, serta peran strategis Bank Sentral dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan ekonomi tidak hanya untuk siswa jurusan tertentu, tetapi harus menjadi bagian dari pendidikan kewarganegaraan yang membentuk karakter warga cerdas secara menyeluruh.

Transformasi ekonomi digital yang hanya berorientasi pada teknologi, tanpa diimbangi dengan penguatan manusianya, berisiko menciptakan kesenjangan baru. Oleh karena itu, revolusi ini harus dibingkai sebagai upaya kolektif untuk menciptakan ruang belajar bersama yang terbuka bagi semua, adaptif terhadap perubahan, dan terus berkelanjutan. Ini bukan hanya soal menguasai aplikasi atau memahami kebijakan, tetapi tentang membentuk warga yang percaya diri, kritis, dan bijak dalam mengambil keputusan finansial.

Hingga, dari dompet fisik menuju dompet digital, dari warga pasif menjadi warga cerdas transformasi ini hanya dapat tercapai jika semua pihak, dari negara hingga warga biasa, memiliki komitmen bersama untuk membangun masyarakat yang melek ekonomi. Dengan pendidikan yang relevan, kebijakan yang partisipatif, serta ekosistem sosial yang mendukung, maka visi ekonomi digital yang adil dan inklusif bukan lagi mimpi, tetapi jalan nyata menuju masa depan bangsa yang berdaya.