Konten dari Pengguna

QRIS sebagai Motor Penggerak Ekonomi Digital Sekarkijang

Sapna Welindah Nainggolan

Sapna Welindah Nainggolan

Fakultas Hukum Universitas Katolik Santo Thomas Anggota UKM VERITAS UNIKA, Medan.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sapna Welindah Nainggolan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Manusia menggunakan Teknologi sebagai Penggerak Ekonomi Digital Sekarkijang (Sumber: Pixabay)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Manusia menggunakan Teknologi sebagai Penggerak Ekonomi Digital Sekarkijang (Sumber: Pixabay)

Transformasi digital bukan lagi sekadar tren, melainkan kebutuhan mendesak yang menyentuh seluruh aspek kehidupan, termasuk sektor ekonomi dan keuangan. Di tengah gempuran teknologi, sistem pembayaran digital menjadi tulang punggung efisiensi dan transparansi ekonomi. Salah satu terobosan paling nyata adalah QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard), yang memungkinkan berbagai transaksi hanya dengan satu kode QR. Melalui inisiatif seperti DULUR SEKARKIJANG (Digitalisasi untuk Seluruh Karesidenan Besuki dan Lumajang), QRIS menjadi ujung tombak akselerasi ekonomi digital di wilayah timur Jawa ini.

Karesidenan Besuki dan Lumajang, dengan potensi ekonomi lokalnya yang kuatterutama dari sektor UMKM, pertanian, dan perdagangan membutuhkan ekosistem transaksi yang cepat, aman, dan terjangkau. QRIS hadir sebagai solusi yang menjembatani kebutuhan pelaku usaha, konsumen, serta institusi keuangan dalam satu sistem terpadu. Selain mendukung kemudahan transaksi, QRIS juga membuka akses inklusi keuangan bagi masyarakat yang sebelumnya belum terjangkau layanan perbankan.

Namun, keberhasilan QRIS di daerah tidak hanya bergantung pada penyediaan infrastruktur semata, tetapi juga pada partisipasi aktif masyarakat dan kesiapan pelaku usaha kecil untuk beradaptasi. Di sinilah DULUR SEKARKIJANG menjadi platform strategis untuk mempercepat adopsi teknologi pembayaran digital sekaligus menumbuhkan budaya transaksi yang efisien dan modern di akar rumput.

Ketimpangan Pemahaman

Meski kehadiran QRIS telah membawa angin segar dalam sistem pembayaran nasional, penerapannya di wilayah Karesidenan Besuki dan Lumajang belum sepenuhnya merata. Banyak pelaku UMKM yang belum memahami manfaat QRIS secara menyeluruh, bahkan ada yang masih enggan menggunakannya karena merasa rumit atau tidak terbiasa dengan teknologi digital. Ketimpangan pemahaman inilah yang menghambat kecepatan transformasi ekonomi digital di tingkat lokal.

Selain itu, infrastruktur digital di sebagian desa dan pelosok wilayah Sekarkijang masih menjadi tantangan. Ketersediaan jaringan internet yang lemah membuat implementasi QRIS berjalan lambat. Hal ini diperparah dengan terbatasnya literasi digital di kalangan masyarakat usia lanjut maupun pelaku usaha tradisional. Padahal, keberhasilan QRIS sangat tergantung pada kemudahan akses dan kenyamanan pengguna dalam bertransaksi.

Tidak kalah penting, masih banyak konsumen yang belum terbiasa dengan transaksi nontunai. Kecenderungan masyarakat untuk menggunakan uang tunai masih tinggi, terutama di pasar tradisional. Perubahan perilaku konsumen ini membutuhkan pendekatan edukatif yang menyentuh aspek budaya dan kebiasaan masyarakat sehari-hari.

Masalah lainnya adalah kurangnya sinergi antar-stakeholder. Beberapa program digitalisasi berjalan sendiri-sendiri tanpa koordinasi yang optimal antara pemerintah daerah, Bank Indonesia, perbankan, dan komunitas lokal. Akibatnya, banyak potensi digitalisasi yang belum tergarap maksimal, meski QRIS sudah tersedia.

Pendekatan Edukatif

Pendekatan edukatif harus menjadi prioritas utama. Kampanye masif yang menjelaskan manfaat QRIS secara sederhana dan kontekstual kepada masyarakat akan meningkatkan pemahaman serta kepercayaan publik. Program seperti Digitalisasi Warung Rakyat, pelatihan QRIS untuk pelaku UMKM, serta demonstrasi langsung di pasar-pasar tradisional bisa menjadi langkah konkret yang menyentuh masyarakat secara langsung.

Pemerintah daerah dan Bank Indonesia perlu memperkuat kolaborasi dalam penyediaan infrastruktur pendukung, terutama akses internet yang stabil dan murah di daerah pelosok. Tanpa dukungan teknologi dasar, digitalisasi hanya akan menjadi jargon kosong. Inisiatif DULUR SEKARKIJANG harus menjadi gerakan bersama lintas lembaga untuk memastikan infrastruktur memadai dan merata di seluruh wilayah Karesidenan Besuki dan Lumajang.

Pelatihan literasi digital juga harus menjangkau berbagai kelompok usia. Pendampingan dari komunitas lokal, mahasiswa, atau relawan digital bisa dimanfaatkan untuk mengedukasi pelaku usaha tradisional dan masyarakat awam. Dengan pendekatan yang personal dan bertahap, masyarakat akan merasa lebih nyaman bertransaksi digital tanpa rasa tertekan atau takut salah.

Selain itu, insentif penggunaan QRIS perlu diperkuat. Pemerintah daerah dapat memberikan diskon pajak daerah atau program loyalitas khusus bagi UMKM yang konsisten menggunakan QRIS dalam transaksinya. Sementara itu, promosi penggunaan QRIS kepada masyarakat umum, seperti cashback atau undian belanja digital, bisa mendorong pergeseran perilaku dari tunai ke non-tunai.

Sinergi antar-stakeholder harus diperkuat melalui forum koordinasi dan evaluasi berkala. Kolaborasi aktif antara Bank Indonesia, OJK, Dinas Koperasi dan UMKM, serta komunitas digital akan memastikan bahwa program digitalisasi benar-benar berdampak dan berkelanjutan. Dengan langkah kolektif ini, QRIS akan benar-benar menjadi motor penggerak ekonomi digital Sekarkijang yang tidak hanya efisien, tetapi juga inklusif dan berkeadilan.

Dengan semangat DULUR SEKARKIJANG, transformasi digital melalui QRIS bukan sekadar modernisasi sistem pembayaran, tetapi juga bentuk nyata keberpihakan terhadap ekonomi rakyat. Di tengah kompetisi global dan percepatan teknologi, wilayah seperti Besuki dan Lumajang tidak boleh tertinggal. Justru lewat potensi lokal dan budaya gotong royong, digitalisasi bisa menjadi alat pemberdayaan yang kuat jika didukung oleh semua pihak dari pemerintah, perbankan, pelaku usaha, hingga masyarakat itu sendiri.

QRIS harus dilihat sebagai pintu masuk menuju inklusi keuangan yang lebih luas. Saat warung kelontong, pedagang pasar, hingga petani dan nelayan bisa menerima pembayaran digital, maka roda ekonomi lokal akan bergerak lebih cepat, transparan, dan aman. Lebih dari itu, transaksi digital akan membuka jalan menuju ekosistem keuangan yang memungkinkan akses modal, asuransi mikro, dan pencatatan keuangan yang tertib bagi pelaku usaha kecil.

Maka, suksesnya QRIS di Sekarkijang bukan hanya soal teknologi, tetapi juga keberhasilan membangun budaya baru budaya transaksi yang efisien, transparan, dan menjangkau semua kalangan. Jika gerakan ini dijalankan secara konsisten dan inklusif, maka Sekarkijang bisa menjadi model transformasi ekonomi digital di wilayah-wilayah lain Indonesia yang sedang bersiap menyongsong masa depan ekonomi digital yang berkeadilan.