Demon Slayer: Hikayat Akaza dan Kebencian yang Menyelimutinya

Pembaca yang mencoba menulis
ยทwaktu baca 4 menit
Tulisan dari Rio Saputro tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Akaza adalah iblis yang diciptakan dari seorang manusia yang memiliki masa lalu kelam. Ia bangkit dari keterpurukan karena ditinggal mati sang ayah, tetapi hanya untuk jatuh kembali ke lubang yang lebih dalam.
Di momen paling terpuruknya, Hakuji Soyama yang berlumuran darah bertemu dan dimanfaatkan oleh sang raja iblis. Kemanusiaan Hakuji sirna dan berubahlah ia menjadi Akaza, seorang iblis yang menjalani kehidupan hanya untuk menjadi lebih kuat.
Ia telah hidup lebih dari 100 tahun hanya untuk menjadi makhluk yang tercerabut dari nilai-nilai kemanusiaan dan dari tujuan terdalam hidupnya. Motto hidup Akaza seolah hanya melayang-layang pada prinsip dangkal untuk menjadi lebih kuat.
Akibat dangkalnya prinsip hidupnya itu, ia hanya bisa tertegun ketika dihadapkan pada pertanyaan untuk apa ia selalu berusaha menjadi lebih kuat. Sedikit yang disadari oleh Akaza tentang dirinya sendiri, bahwa sebenarnya ia ingin menjadi lebih kuat demi melindungi orang-orang yang ia sayangi. Namun kehidupan selalu membawa ironinya sendiri.
Selepas tewasnya orang-orang yang ia sayangi, Akaza melupakan alasan terdalamnya untuk menjalani hidup dan terjerumus sebagai iblis yang merenggut banyak hidup orang yang tak bersalah. Di situ ia menjelma menjadi makhluk jahat yang sesungguhnya ia benci.
Rangkaian pengalaman pahit yang harus dihadapi oleh seseorang di dalam hidupnya selayaknya palu godam yang menghentak menyakitkan tak sudah-sudah. Palu itu menghantam keras, mengguncang kesadaran dan dapat membelokkan arah kehidupan. Akaza adalah karakter fiktif, tetapi esensi hikayat hidupnya adalah kenyataan yang dirasakan banyak orang.
Pengalaman pahit adalah pemicu yang dapat menimbulkan dua sisi yang berbeda dari diri manusia. Bagi sebagian orang, itu dapat dijadikan alasan untuk menyakiti orang lain. Sementara bagi sebagian yang lain, pengalaman pahit dapat menjadi alasan untuk melindungi orang lain agar tak merasakan hal yang sama dengannya.
Akaza membenci orang-orang yang lemah, sementara Tanjiro mengatakan bahwa kita semua terlahir lemah dan butuh pertolongan orang lain. Tak mungkin seorang bayi dapat menghidupi dirinya sendiri. Ia butuh orangtua, keluarga, orang-orang yang mengasihinya, sampai akhirnya ia dapat tumbuh dan menjalani hidupnya secara mandiri. Oleh karena itu, orang lemah ada bukan untuk dibenci melainkan untuk dilindungi. Di situ pendapat Tanjiro terasa lebih adil dan menenteramkan daripada pandangan Akaza yang hanya berdasarkan kebencian semata.
Tidak reflektifnya Akaza dalam menilai pola pikirnya sendiri membuatnya kian lama kian menjauh dari dirinya yang sebenarnya. Dari seorang anak sabar yang telaten dalam merawat orang yang sakit. Sampai pada akhirnya menjadi iblis pembunuh banyak orang yang tak berdosa.
Alasan seseorang melakukan apa yang dia lakukan seringkali tak jauh dari keinginan untuk diterima, dihargai dan disayangi. Semisal mengejar uang. Siapa yang mencintai uang pada bendanya semata? Saya cukup yakin tidak ada. Uang disukai karena nilai di baliknya. Siapa pun yang memiliki banyak uang menjadi lebih mudah diterima dan dihargai. Namun segera setelah memiliki banyak uang, banyak orang justru menjadi manusia yang mudah menyisihkan dan merendahkan orang lain. Terlena dengan harta dan terkelabui mata hatinya, sampai pada akhirnya ia percaya bahwa yang berharga hanyalah uang semata.
Esensi yang sama terjadi pula pada Akaza. Awalnya ia ingin menjadi kuat karena hanya dengan cara itu ia bisa melindungi orang-orang yang ia sayangi. Orang-orang yang menerima, menghargai dan menyayanginya. Namun setelah semua yang ia sayangi tiada, ia menjadi amnesia dan percaya bahwa tujuan hidupnya adalah menjadi kuat semata sekaligus membenci orang-orang yang lemah.
Apa yang dilakukan oleh Akaza sebenarnya adalah pengejawantahan dari rasa benci dan kecewa atas dirinya sendiri. Ia tidak semata-mata membenci orang yang lemah, yang ia benci sesungguhnya adalah dirinya sendiri yang tidak mampu melindungi orang-orang yang ia sayangi. Ia menghukum dirinya sendiri yang ia anggap tak mampu melindungi orang-orang yang berarti dalam hidupnya.
Namun, pada akhirnya ia mengalami krisis dan dipaksa sadar bahwa rasa benci justru hanya semakin menjauhkannya dari orang-orang yang ia cintai dan lebih parah lagi, itu hanya akan menjauhkan ia dari dirinya yang sesungguhnya.
Tak ada yang bisa menghentikan dan mengubah diri kita, selain kita sendiri. Krisis paling dahsyat adalah ketika kita perlu menyadari kesalahan yang telah kita perbuat dan memaafkan diri kita. Bahwa pertarungan paling berat yang harus dihadapi seseorang adalah pertarungan untuk mengalahkan dirinya sendiri.
Dari Akaza kita belajar bahwa perjalanan hidup manusia adalah mempertahankan cinta di dalam diri dan melawan rasa benci. Cinta itu mampu memaafkan, mengajak untuk bangkit, dan selalu berusaha untuk menjadi lebih baik. Sementara kebencian seolah mengubah kita menjadi sel kanker yang berbahaya dan bersifat merusak tanpa henti. Tentu, ini bukan perjalanan yang mudah, tetapi rasanya ini sesuatu yang amat layak untuk diperjuangkan.
