Ijazah Laku di Mana, Selain CPNS?

Analis Kebijakan Publik, Konsultan Politik, Riset, Penulis, Advokasi Publik, Transformasi Digital, Founder & CEO IDIS INDONESIA, Knowledge For Public Good
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Sapraji tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sekolah tinggi-tinggi, ujung-ujungnya jadi pengangguran. Kalimat ini bukan hanya sindiran, tapi sudah menjadi realitas banyak lulusan muda di Indonesia. Padahal, mereka punya ijazah, lengkap dengan toga dan prosesi wisuda yang membanggakan. Tapi setelah lulus, ternyata pasar kerja tidak seramah itu. Pertanyaannya, apakah ijazah masih relevan di era sekarang, atau hanya sebatas syarat administratif yang kehilangan makna?
Dalam data BPS terbaru (2024), dari sekitar 9,89 juta pengangguran di Indonesia, hampir separuhnya adalah lulusan SMA ke atas. Bahkan angka pengangguran dari lulusan perguruan tinggi justru meningkat dibanding tahun sebelumnya. Ironis memang, karena dulu ijazah dianggap sebagai tiket masuk ke dunia kerja yang lebih baik. Tapi kini, gelar sarjana seolah kehilangan daya tawarnya.
Kalau bukan untuk daftar CPNS atau ASN, sebenarnya seberapa laku ijazah itu? Banyak perusahaan rintisan teknologi bahkan tidak lagi mempersoalkan ijazah. Beberapa hanya meminta portofolio, pengalaman, atau kemauan belajar. Fenomena ini tidak hanya terjadi di luar negeri, tapi juga di Indonesia. Posisi-posisi penting di perusahaan digital kini lebih mementingkan kompetensi dari pada status akademik.
Sementara itu, di dunia profesional konvensional, ijazah masih digunakan sebagai tolok ukur awal, tapi bukan jaminan akhir. Banyak HRD yang justru lebih percaya pada attitude, kemampuan komunikasi, dan kecocokan budaya kerja. Apalagi dengan derasnya arus sertifikasi non-formal, bootcamp, dan pelatihan daring, batas antara sarjana dan bukan sarjana mulai kabur.
Ketika Gelar Tak Lagi Jadi Jawaban
Fenomena inflasi gelar juga tidak bisa diabaikan. Gelar sarjana yang dulu dianggap eksklusif, kini sudah menjadi sesuatu yang umum. Bahkan, beberapa pekerjaan dengan gaji minimum pun mensyaratkan S1, meski tidak relevan dengan pekerjaannya. Ini bukan soal standar yang naik, melainkan sistem yang gagal menyesuaikan diri.
Di sisi lain, banyak lulusan justru merasa tertipu oleh ekspektasi pendidikan tinggi. Mereka membayar mahal, bertahun-tahun belajar, tapi begitu lulus hanya dihargai dengan gaji UMR atau bahkan kurang. Ini menciptakan disonansi sosial, frustrasi, dan krisis identitas untuk apa kuliah, kalau tidak menjamin kehidupan yang layak?
Muncul pula perdebatan sosial, apakah pendidikan tinggi hanya untuk status sosial, atau benar-benar mencerminkan kualitas individu? Banyak anak muda hari ini yang memilih jalur alternatif: menjadi kreator digital, pekerja lepas, wirausahawan, atau profesional teknologi. Mereka membangun karier tanpa harus mengandalkan gelar.
Namun, bukan berarti ijazah tak penting sama sekali. Dalam birokrasi, lembaga negara, dan institusi formal, ijazah masih menjadi kartu akses utama. Dalam konteks sosial, gelar juga masih punya prestige tertentu. Tapi persoalannya, apakah kita ingin pendidikan menjadi sekadar alat validasi status, atau benar-benar jalan untuk memperkuat kapasitas diri?
Pemerintah pun kini mulai mendorong penguatan vokasi dan link and match antara dunia pendidikan dan dunia kerja. Tapi implementasinya masih jauh dari cukup. Banyak kampus yang masih berkutat pada teori, kurikulum yang kaku, dan pengajaran yang tidak responsif terhadap kebutuhan zaman.
Jika sistem pendidikan masih mengukur keberhasilan dari angka IPK dan panjangnya gelar, maka kita sedang melahirkan generasi yang bagus di atas kertas, tapi kaku dalam praktik. Yang dibutuhkan hari ini bukan hanya gelar, tapi juga kemampuan adaptif, literasi digital, kolaborasi lintas disiplin, dan berpikir kritis.
Ijazah memang penting, tapi tidak cukup. Dunia berubah lebih cepat dari pada kurikulum. Sementara sebagian masih sibuk mengejar nilai di atas kertas, sebagian lainnya sudah melangkah ke dunia kerja dengan keterampilan nyata. Di titik ini, masyarakat perlu jujur, kita tak bisa lagi mengukur kecerdasan hanya dari ijazah.
Mungkin sudah waktunya kita berhenti menilai masa depan seseorang dari map lamaran yang penuh stempel kampus. Karena di era kompetensi ini, yang paling dicari bukan lagi siapa kamu lulus dari mana, tapi apa yang bisa kamu kerjakan hari ini.
