Konten dari Pengguna

Reformasi Birokrasi: Saatnya Negara Diukur dari Apa yang Dirasakan Warga

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sapraji tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi reformasi birokrasi menggambarkan transformasi pelayanan publik menuju pemerintahan yang lebih digital, responsif, transparan, dan berorientasi pada kebutuhan warga. Sumber foto: Idisign.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi reformasi birokrasi menggambarkan transformasi pelayanan publik menuju pemerintahan yang lebih digital, responsif, transparan, dan berorientasi pada kebutuhan warga. Sumber foto: Idisign.

Reformasi birokrasi sudah terlalu lama dibicarakan dengan bahasa yang lebih mudah dipahami oleh birokrat daripada warga: indeks, predikat, zona integritas, evaluasi, penyederhanaan struktur, digitalisasi, dan berbagai indikator administratif lainnya. Semua itu penting karena pemerintahan memang membutuhkan ukuran untuk memastikan organisasi negara bekerja. Namun ada satu pertanyaan yang semestinya selalu menjadi titik berangkat dan sekaligus titik akhir dari seluruh proses tersebut yaitu apa yang benar-benar berubah dalam kehidupan warga setelah reformasi birokrasi dilakukan?

Pertanyaan ini menjadi semakin penting ketika pemerintah terus mendorong transformasi pemerintahan digital dan tata kelola berbasis kinerja. Pemerintah pada 2026 bahkan memperkuat kerangka evaluasi kinerja pemerintah digital melalui PermenPANRB Nomor 8 Tahun 2026. Pada saat yang sama, pemerintah juga terus mendorong agar sistem akuntabilitas kinerja tidak berhenti pada pencapaian administratif, tetapi bermuara pada hasil dan manfaat. Arah kebijakan ini patut diapresiasi. Namun, perubahan paradigma tersebut baru akan bermakna apabila ukuran keberhasilan pemerintah akhirnya sampai kepada orang yang paling merasakan keberadaan negara: warga

Bagi masyarakat, birokrasi tidak hadir dalam bentuk indeks atau predikat. Negara hadir ketika seseorang mengurus KTP, akta kelahiran, izin usaha, layanan kesehatan, pendidikan, bantuan sosial, sertifikat tanah, membayar pajak, atau menyampaikan pengaduan karena haknya belum terpenuhi. Warga tidak bertemu dengan reformasi birokrasi di ruang seminar. Mereka bertemu dengannya di kantor kelurahan, sekolah, rumah sakit, mal pelayanan publik, loket pelayanan, aplikasi pemerintah, bahkan di ruang digital ketika mencoba mencari informasi mengenai hak dan kewajibannya. Karena itu, ukuran paling jujur dari reformasi birokrasi sebenarnya sederhana: apakah urusan warga menjadi lebih mudah setelah pemerintah melakukan reformasi?

Rapor Birokrasi Seharusnya Ditulis dari Pengalaman Warga

Selama bertahun-tahun, reformasi birokrasi berisiko terjebak menjadi proyek administratif. Instansi memperbaiki prosedur, menyusun dokumen, membangun aplikasi, mengejar predikat, memenuhi indikator evaluasi, lalu melaporkan bahwa reformasi telah berjalan. Persoalannya, birokrasi dapat sangat sibuk membuktikan bahwa mereka bekerja, sementara warga masih sibuk membuktikan bahwa mereka berhak mendapatkan pelayanan. Di sinilah kesenjangan antara government performance dan citizen experience mulai terlihat.

Kita memang tidak boleh mengabaikan capaian pemerintah. Evaluasi Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik menunjukkan Indeks SPBE Nasional 2024 mencapai 3,12 dari skala 5 dengan predikat baik. Indonesia juga berada di peringkat ke-64 dalam UN E-Government Survey 2024. Angka tersebut menunjukkan adanya kemajuan dalam transformasi digital pemerintahan. Namun, capaian digital tidak otomatis berarti pelayanan publik telah menjadi sederhana. Pemerintah dapat memiliki banyak aplikasi, tetapi warga tetap menghadapi banyak akun, banyak kata sandi, banyak formulir, dan berulang kali diminta memasukkan data yang sebenarnya sudah dimiliki negara.

Di sinilah kita perlu berhenti menganggap digitalisasi sebagai tujuan. Aplikasi pemerintah bukanlah reformasi birokrasi. Aplikasi hanyalah alat untuk mencapai pelayanan yang lebih baik. Jika digitalisasi membuat proses lebih singkat, data lebih terintegrasi, pelayanan lebih transparan, dan warga tidak perlu datang berkali-kali ke kantor pemerintah, maka teknologi telah menciptakan nilai publik. Tetapi jika antrean di loket hanya berpindah menjadi antrean di layar, birokrasi sebenarnya belum berubah; ia hanya berganti wajah.

Reformasi birokrasi seharusnya mulai diukur dari biaya yang ditanggung warga. Biaya tersebut bukan hanya uang yang dibayarkan secara resmi. Ada biaya transportasi, waktu yang hilang, pendapatan yang tidak diperoleh karena harus meninggalkan pekerjaan, biaya mencari informasi, serta ketidakpastian ketika warga tidak mengetahui kapan urusannya selesai. Bagi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah, biaya-biaya tersembunyi tersebut dapat jauh lebih berat daripada biaya administrasi itu sendiri. Karena itu, ketika pemerintah berhasil memangkas tiga kali kunjungan menjadi satu kali, menyederhanakan sepuluh dokumen menjadi beberapa dokumen yang benar-benar diperlukan, atau mengubah pelayanan yang sebelumnya membutuhkan berhari-hari menjadi beberapa jam, sesungguhnya negara sedang menciptakan nilai publik yang nyata.

Cara berpikir semacam ini membawa kita pada konsep public value. Pemerintah tidak cukup menciptakan birokrasi yang efisien bagi dirinya sendiri. Pemerintah harus menciptakan nilai yang dirasakan masyarakat. Ukuran keberhasilan bukan hanya apakah pegawai telah menyelesaikan pekerjaan, tetapi apakah pekerjaan tersebut menghasilkan perubahan bagi orang yang dilayani. Inilah alasan mengapa reformasi birokrasi perlu bergerak dari pendekatan government-centered menuju citizen-centered government.

Perubahan tersebut semakin penting di era media sosial. Dulu, pemerintah dapat mengandalkan laporan internal sebagai gambaran utama mengenai kualitas pelayanan. Sekarang pengalaman warga dapat direkam, dibagikan, dan dibandingkan secara terbuka. Satu video tentang pelayanan buruk dapat menyebar dalam hitungan jam. Sebaliknya, pelayanan yang sangat baik juga dapat menjadi contoh yang direplikasi masyarakat. Artinya, birokrasi kini memiliki semacam rapor sosial yang terus ditulis publik setiap hari.

Masalahnya, rapor sosial tersebut sering kali berbeda dengan rapor administratif. Sebuah instansi dapat memperoleh predikat baik karena indikator internal terpenuhi, tetapi masyarakat masih mengeluhkan antrean panjang, informasi yang tidak jelas, petugas yang tidak responsif, atau aplikasi yang sulit digunakan. Perbedaan ini tidak selalu berarti salah satu pihak berbohong. Bisa jadi indikator pemerintah memang mengukur sesuatu yang berbeda dari apa yang dialami warga. Karena itu, yang diperlukan bukan menghapus indikator internal, melainkan melengkapinya dengan ukuran pengalaman masyarakat.

Pemerintah dapat mulai membangun Citizen Experience Scorecard, yaitu sistem pengukuran yang menempatkan pengalaman warga sebagai salah satu indikator utama kinerja pelayanan. Ukurannya dapat mencakup waktu penyelesaian, jumlah kunjungan, jumlah dokumen yang diminta, kemudahan memperoleh informasi, akses kelompok rentan, transparansi biaya, penyelesaian pengaduan, dan kepuasan warga. Data tersebut kemudian dibandingkan dengan indikator kinerja internal. Jika pemerintah menyatakan sebuah layanan telah cepat, tetapi warga masih membutuhkan waktu berhari-hari, maka terdapat persoalan yang harus dibaca. Jika aplikasi dinyatakan mudah digunakan tetapi tingkat kegagalannya tinggi, pemerintah harus memperbaikinya.

Di sinilah teknologi dan analitik data dapat memberikan manfaat yang lebih besar. Pemerintah tidak hanya perlu menggunakan teknologi untuk memberikan pelayanan, tetapi juga untuk memahami pengalaman masyarakat. Data pengaduan, waktu layanan, tingkat penggunaan aplikasi, keluhan di kanal resmi, serta pola masalah di lapangan dapat dianalisis untuk menemukan titik-titik kegagalan pelayanan. Kecerdasan buatan bahkan dapat digunakan untuk mengidentifikasi pola keluhan dan membantu pemerintah mendeteksi persoalan sebelum berkembang menjadi krisis.

Namun, teknologi tidak boleh menjadi alasan untuk mengurangi dimensi manusia dalam pelayanan publik. Birokrasi yang modern bukan birokrasi yang membuat warga semakin banyak berhadapan dengan mesin. Birokrasi modern adalah birokrasi yang menggunakan teknologi agar hubungan manusia dengan negara menjadi lebih mudah. Ada warga yang memiliki literasi digital tinggi, tetapi ada pula lansia, penyandang disabilitas, masyarakat miskin, atau warga di wilayah dengan akses internet terbatas. Digitalisasi yang tidak memperhitungkan kesenjangan akses justru dapat menghasilkan bentuk baru ketidakadilan pelayanan.

Karena itu, reformasi birokrasi juga harus berbicara tentang equity, bukan hanya efficiency. Pelayanan yang cepat belum tentu adil apabila hanya mudah diakses oleh mereka yang memiliki perangkat, koneksi internet, pengetahuan, dan kemampuan ekonomi. Pemerintah perlu memastikan bahwa transformasi digital tidak membuat kelompok yang paling membutuhkan pelayanan justru menjadi kelompok yang paling sulit mengaksesnya.

Semua ini membutuhkan perubahan budaya birokrasi. ASN tidak cukup hanya didorong untuk bekerja sesuai prosedur. Mereka perlu memahami alasan mengapa prosedur itu ada dan siapa yang seharusnya mendapatkan manfaat dari pekerjaan tersebut. Jika sebuah prosedur dibutuhkan untuk menjaga keamanan dan akuntabilitas, tentu harus dipertahankan. Tetapi jika sebuah tahapan hanya bertahan karena memang dari dulu begitu, maka reformasi seharusnya berani mempertanyakannya. Begitu pula dengan aplikasi. Jika teknologi mempercepat pelayanan, integrasikan dan kembangkan. Jika teknologi justru menciptakan kerumitan baru, pemerintah harus berani memperbaikinya.

Reformasi birokrasi pada akhirnya bukan sekadar agenda kelembagaan. Ia adalah cara negara memperlakukan warganya. Birokrasi yang panjang, lambat, tidak transparan, dan sulit dipahami menciptakan jarak antara negara dan masyarakat. Sebaliknya, pelayanan yang sederhana, cepat, adil, dan responsif membuat warga merasakan bahwa negara bekerja untuk mereka.

Karena itu, sudah saatnya pemerintah mengubah pertanyaan dalam evaluasi birokrasi. Jangan hanya bertanya, Apakah semua prosedur sudah dipenuhi? Tanyakan pula, Apakah warga memperoleh manfaat?Jangan hanya menghitung berapa banyak aplikasi yang telah dibuat. Ukur berapa banyak waktu warga yang berhasil dihemat. Jangan hanya menghitung jumlah program yang dilaksanakan. Lihat berapa banyak masalah yang benar-benar terselesaikan.

Sebab negara tidak hadir untuk menghasilkan dokumen kinerja, laporan evaluasi, atau sekadar predikat birokrasi. Semua itu hanyalah instrumen. Tujuan akhirnya adalah kehidupan publik yang lebih baik.

Reformasi birokrasi akan benar-benar berhasil ketika warga tidak perlu mengetahui istilah reformasi birokrasi untuk merasakan hasilnya.

Mereka cukup merasakan bahwa mengurus dokumen menjadi lebih mudah, memperoleh layanan kesehatan menjadi lebih cepat, mendapatkan pendidikan menjadi lebih adil, membuka usaha tidak lagi dipersulit, menyampaikan pengaduan mendapatkan respons, dan berhadapan dengan pemerintah tidak lagi terasa sebagai beban.

Di situlah ukuran keberhasilan negara sesungguhnya. Bukan pada seberapa tinggi indeks yang dicapai birokrasi. Bukan pula pada seberapa banyak aplikasi yang diluncurkan.

Melainkan pada satu hal yang jauh lebih sederhana dan sekaligus lebih sulit, apakah kehidupan warga menjadi lebih mudah karena negara bekerja lebih baik.