Konten dari Pengguna

Riset Multidisiplin dan Tantangan Indonesia Keluar dari Cara Berpikir Lama

Sapraji

Sapraji

Analis Kebijakan Publik, Konsultan Politik, Riset, Penulis, Advokasi Publik, Transformasi Digital, Founder & CEO IDIS INDONESIA, Knowledge For Public Good

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sapraji tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto, mendorong penguatan riset multidisiplin sebagai kunci dalam menjawab tantangan global. Sumber foto: kemdiktisaintek.go.id
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto, mendorong penguatan riset multidisiplin sebagai kunci dalam menjawab tantangan global. Sumber foto: kemdiktisaintek.go.id

Pernyataan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto tentang pentingnya penguatan riset multidisiplin sebenarnya bukan sekadar wacana akademik biasa. Jika dibaca lebih dalam, ini adalah kritik halus terhadap cara lama Indonesia menghadapi perubahan dunia yang terlalu sektoral, terlalu birokratis, dan sering berjalan sendiri-sendiri.

Dunia hari ini berubah jauh lebih cepat dibanding kemampuan banyak negara beradaptasi. Persaingan global tidak lagi hanya soal ekonomi atau militer, tetapi soal siapa yang paling cepat membaca perubahan teknologi, mengelola data, mengembangkan inovasi, dan membangun kolaborasi lintas disiplin. Artificial intelligence, perubahan iklim, geopolitik energi, hingga ketahanan industri global sekarang saling terhubung dan tidak bisa diselesaikan hanya dengan satu pendekatan ilmu.

Karena itu, ketika Brian Yuliarto menekankan pentingnya cara berpikir yang lebih integratif dan multidisiplin, sesungguhnya yang sedang dibicarakan adalah masa depan daya saing Indonesia sendiri.

Selama ini, salah satu kelemahan besar ekosistem riset nasional adalah terlalu kuatnya sekat antarbidang. Kampus sibuk dengan dunianya sendiri, industri berjalan dengan kepentingannya sendiri, sementara kebijakan pemerintah sering terlambat mengejar perubahan teknologi. Akibatnya, banyak riset berhenti di jurnal, tetapi tidak berubah menjadi solusi nyata bagi masyarakat maupun industri nasional.

Padahal tantangan global hari ini justru membutuhkan keberanian menabrak batas-batas disiplin ilmu.

Krisis iklim misalnya, bukan hanya urusan lingkungan. Ia terkait ekonomi, politik pangan, kesehatan publik, teknologi energi, hingga stabilitas sosial. Begitu juga AI. Ini bukan hanya isu teknologi informasi, tetapi juga menyangkut etika, regulasi, keamanan data, pasar tenaga kerja, bahkan arah demokrasi digital ke depan.

Di sinilah pentingnya riset multidisiplin.

Indonesia tidak bisa lagi mempertahankan pola pendidikan tinggi yang terlalu administratif dan linear. Dunia kerja berubah sangat cepat. Industri membutuhkan manusia yang bukan hanya pintar secara teknis, tetapi mampu berpikir lintas sektor, membaca kompleksitas masalah, dan membangun solusi kolaboratif.

Yang menarik, pernyataan Brian Yuliarto juga memperlihatkan bahwa pemerintah mulai menyadari satu hal penting: kekuatan bangsa di masa depan tidak hanya ditentukan sumber daya alam, tetapi kualitas ekosistem pengetahuan dan inovasi.

Negara-negara maju memahami bahwa riset adalah investasi geopolitik jangka panjang. Amerika Serikat, China, Korea Selatan, hingga negara-negara Eropa membangun dominasi global lewat penguasaan teknologi, sains, dan inovasi lintas disiplin. Mereka tidak hanya membangun universitas, tetapi membangun ekosistem yang menghubungkan riset, industri, dan kebijakan negara secara langsung.

Indonesia sebenarnya punya potensi besar. Talenta muda banyak, kampus bertumbuh, dan bonus demografi masih terbuka. Tetapi tantangan terbesarnya adalah bagaimana mengubah budaya riset yang selama ini cenderung formalitas administratif menjadi budaya inovasi yang benar-benar berdampak.

Karena jujur saja, masalah terbesar kita sering bukan kekurangan ide, tetapi lemahnya keberanian membangun kolaborasi.

Masih banyak ego sektoral. Masih ada budaya birokrasi yang lambat. Bahkan tidak sedikit riset yang akhirnya kehilangan relevansi karena terlalu jauh dari kebutuhan nyata masyarakat dan industri.

Dalam konteks itulah, dorongan penguatan riset multidisiplin menjadi penting. Bukan hanya untuk menjawab tantangan global, tetapi untuk memaksa Indonesia keluar dari pola lama yang terlalu nyaman bekerja sendiri-sendiri.

Sebab masa depan dunia bukan dimenangkan oleh pihak yang paling banyak sumber dayanya, tetapi oleh mereka yang paling cepat berkolaborasi, beradaptasi, dan mengubah pengetahuan menjadi kekuatan strategis.

Dan jika Indonesia serius ingin menjadi negara maju, maka investasi terbesar ke depan bukan hanya infrastruktur fisik, tetapi keberanian membangun ekosistem riset yang hidup, terbuka, dan mampu menjawab perubahan zaman.