Konten dari Pengguna

Doa Seorang Tukang Sapu di Tengah Kota

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari SAPRIANI SINAGA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tukang Sapu yang Terselip di Pagi Kota”

Gelap mulai pudar. Seorang tukang sapu sudah turun ke jalan. Sapu lidinya menyapu aspal: srek... srek... srek. Suara itu mengawali hari—sebelum klakson memekik, sebelum motor melaju, sebelum pintu-pintu toko berderit dibuka.

Sambil menyapu, ia berdoa pelan. "Semoga hari ini aku diberi kekuatan. Semoga jalanannya tidak terlalu kotor. Semoga hidupku tidak makin berat." Itu saja. Doa sederhana dari seseorang yang sudah lama terbiasa menghadapi hidup sendirian.

Bagi yang lewat, pekerjaannya terlihat biasa saja. Padahal setiap sapuan itu ada ceritanya -cerita tentang bagaimana ia bertahan hidup. Tapi ia tak pernah bercerita pada siapa-siapa. Tak pernah minta dipuji. Ia terus bekerja saja, karena hidupnya memang tak pernah memberi kesempatan untuk istirahat

Fajar baru menyingsing, tapi benaknya sudah penuh beban: uang kontrakan, sekolah anak, beras yang harganya naik lagi. Di tengah semua itu, ia masih sempat berdoa. "Ya Tuhan, kalau memang tak bisa dimudahkan, kuatkan saja aku menghadapinya.''

Ia berhenti, mata tertuju pada tumpukan sampah di pinggir jalan. Bagi orang lain mungkin menjijikkan. Tapi baginya, itu pekerjaan yang harus tuntas. Tak pernah ada pujian ketika jalan kembali bersih. Namun ia tetap bangga. Karena setidaknya, ada satu hal yang bisa ia kendalikan—merapikan jalanan, meski hidupnya sendiri tak pernah tertata rapi.

Fajar mulai menyingsing. Ia usap keringat yang membasahi dahinya. Tangannya gemetar—lelah atau kedinginan, entahlah. Tapi senyumnya tetap ada. Senyum tipis. Senyum orang yang sudah lelah melawan takdir, dan memilih untuk menerimanya saja.

"Ya Allah, selamatkanlah yang lewat di jalan ini," gumamnya pelan. Doa untuk orang-orang asing. Untuk yang sibuk mengejar waktu, untuk pekerja kantoran, untuk pedagang kecil, untuk yang pulang terlambat. Ia doakan mereka semua, meski tak seorang pun tahu ada yang mendoakan mereka pagi ini.

Motor lewat, debu berterbangan lagi. Ia tidak marah. Hanya tersenyum sambil bergumam, "Ya sudahlah, namanya juga hidup." Kalimat itu seperti obat untuk semua yang tak bisa ia pahami.

Ia melangkah lagi, berpindah dari satu sudut ke sudut lain. Kotoran di jalanan bukan beban baginya. Justru ia bersyukur. Pekerjaan ini membuatnya merasa masih berarti—meski tak ada seorang pun yang peduli.

Matahari sudah naik sepenuhnya. Kota mulai bangun. Trotoar ramai dengan orang—ada yang tatap ponsel, ada yang jalan cepat tanpa lihat kanan-kiri. Tukang sapu itu geser sedikit, biar tidak menghalangi. Ia perhatikan mereka. Lalu tarik napas panjang.

Tidak iri. Tidak marah. Ia cuma tahu kalau hidup memang berbeda untuk setiap orang.Tak ada pujian saat ia selesai. Tak ada yang peduli capeknya ia. Tapi satu hal membuatnya kuat: ia percaya kebaikan kecil tetap penting, meski tak terlihat.Ia terus melangkah, berpindah dari sudut ke sudut. Jalanan kotor baginya bukan beban, justru ia bersyukur masih bisa bekerja. Pekerjaan ini membuatnya merasa berguna—walau tak ada yang memperhatikannya.

Matahari akhirnya naik sepenuhnya. Kota mulai ramai. Orang-orang memenuhi trotoar—ada yang sibuk lihat ponsel, ada yang terburu-buru tanpa peduli sekitar. Sang tukang sapu mundur sedikit, memberi jalan. Ia menatap mereka sejenak, lalu menarik napas panjang. Tidak iri, tidak marah—ia hanya paham bahwa setiap orang punya jalannya sendiri.

Tak ada tepuk tangan saat ia selesai. Tak ada yang tahu betapa lelahnya ia. Tapi satu hal membuatnya tetap kuat: ia yakin kebaikan kecil tetap berarti, meski tak ada yang memuji.

Di akhir pekerjaannya, ia berdoa lagi. Kali ini lebih pelan, lebih dalam. "Terima kasih, hari ini aku masih bisa bekerja. Jaga keluargaku. Jaga orang-orang yang kutemui. Bersihkan hatiku dari segala yang membuatku sesak."

Doanya mungkin tak terdengar siapa-siapa, tapi tetap melayang ke langit pagi. Dan ia berjalan pulang dengan langkah sederhana seperti tadi pagi—tidak tergesa, tidak banyak berharap. Hanya percaya bahwa besok ia akan kembali dengan doa yang sama, dengan hati yang terus belajar untuk kuat.

Karena begitulah hidup seorang tukang sapu: bekerja dalam diam, berdoa dalam sunyi, dan mencintai kota yang bahkan tidak sempat mengenalnya.